Mengetahui Sejarah High Heels dan Fakta Menariknya, Ternyata Dirancang untuk Pria
Dulunya, sepatu hak tinggi diciptakan untuk para prajurit Persia, tetapi sekarang telah bertransformasi menjadi simbol gaya bagi wanita.
Sepatu hak tinggi atau yang lebih dikenal sebagai high heels telah menjadi simbol dari keanggunan dan rasa percaya diri di dunia fashion masa kini. Meskipun memiliki desain yang menawan, high heels menyimpan sejarah yang panjang dan menarik serta mengalami banyak perubahan. Seiring berjalannya waktu, sepatu hak tinggi terus beradaptasi. Dari catwalk hingga lingkungan kerja, dari acara formal hingga gaya jalanan, sepatu ini tetap menjadi pilihan yang mencerminkan karakter, kekuatan, dan gaya individu. Lebih dari sekadar alas kaki, sepatu hak tinggi menjadi sebuah pernyataan. High heels adalah perpaduan antara sejarah, seni, dan identitas yang terus berjalan seiring dengan pemakainya.
Sepatu hak tinggi, yang dikenal dengan penampilan feminin dan elegan, sebenarnya awalnya dirancang untuk pria dan digunakan oleh tentara kavaleri Persia pada sekitar abad ke-10, jauh sebelum menjadi simbol kecantikan dan status sosial bagi wanita.
Berikut ini, Liputan6.com merangkum dari BBC mengenai fakta menarik serta sejarah sepatu hak tinggi, pada Selasa (22/4/2025).
Sepatu Heels Stiletto Namanya dari Belati Berasal dari Italia
Sepatu stiletto, yang memiliki hak runcing dan tajam, dinamai berdasarkan belati ramping yang berasal dari Italia pada masa Renaisans. Meskipun sulit untuk menentukan waktu pasti penciptaan hak stiletto yang ramping di abad ke-20, Roger Vivier dari House of Dior dikenal telah merancang beberapa sepatu hak yang paling terkenal di tahun 1950-an. Tantangan dalam mendesain sepatu ini muncul akibat haknya yang lebih tipis, yang harus mampu menopang berat badan pemakainya. Oleh karena itu, inovasi Andrea Perugia dalam menciptakan hak pertama dari bahan baja menjadi langkah penting dalam sejarah pengembangan sepatu stiletto.
Awalnya Dibuat untuk Para Prajurit di Era Abad Pertengahan
Bukti awal mengenai penggunaan sepatu hak dapat ditemukan pada mangkuk Persia yang berasal dari abad ke-10. Artefak dari periode pertengahan ini menunjukkan sosok seorang prajurit kavaleri yang sedang bersiap untuk bertempur, dengan tumitnya terpasang pada sanggur di atas kudanya.
Hal ini menandakan bahwa sepatu hak sudah digunakan sejak lama, bahkan sebelum tren ini menjadi populer di kalangan wanita.
Pada artefak abad pertengahan ini, terlihat seorang prajurit kavaleri siap bertempur dengan tumit terkunci di sanggur di kudanya. Penggunaan sepatu hak tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga memberikan keuntungan dalam hal postur dan keseimbangan saat berkuda.
Tidak Semua Sepatu Hak Tinggi Cocok untuk Ditampilkan
Pada abad ke-16, sepatu chopines menjadi populer di kalangan wanita Renaisans di Venesia. Sepatu ini merupakan jenis sepatu berplatform dengan hak tinggi yang bisa mencapai ketinggian 50 cm. Meskipun ada anggapan bahwa chopines digunakan untuk menghindari lumpur pada rok, kenyataannya sepatu ini dirancang agar wanita tampak lebih tinggi. Dengan demikian, mereka dapat menunjukkan lebih banyak kain mewah yang digunakan dalam gaun mereka. Ironisnya, sepatu chopines ini tidak pernah terlihat secara langsung, karena tingginya yang membuatnya sulit untuk diperlihatkan.
Mode Sepatu Hak Tinggi Kerajaan
Raja Louis XIV dari Prancis, yang terkenal dengan julukan Sang Raja Matahari, memiliki ketertarikan yang besar terhadap sepatu dengan hak tinggi. Sebagai seorang penggemar mode di abad ke-18, ia sering terlihat mengenakan sepatu kulit yang dihiasi bordir mewah dan memiliki hak berwarna merah cerah. Meskipun begitu, Raja Louis sangat melindungi koleksi sepatu cantiknya tersebut dan menjadi salah satu penguasa pertama yang menerapkan aturan khusus, di mana hanya anggota istana yang diperbolehkan mengenakan hak merah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya status dan simbolisme dalam mode pada masa itu.
Desainer High Heels yang Pertama Kali Dikenal adalah Franois Pinet
Pada pertengahan abad ke-19, seorang desainer asal Prancis bernama François Pinet muncul sebagai pelopor dalam dunia desain sepatu. Ia memanfaatkan inovasi industri yang sedang berkembang pada saat itu untuk menciptakan sepatu hak yang dikenal sebagai "Pinet,". Pinet memiliki keindahan luar biasa dan dapat diproduksi secara massal, dilengkapi dengan sulaman tangan yang sangat halus. Seiring berjalannya waktu, sepatu hak tinggi mulai mengalami evolusi dan menjadi simbol status sosial yang jelas di Eropa. Hanya kalangan bangsawan dan orang-orang kaya yang mampu mengenakan sepatu ini, mengingat proses pembuatannya yang rumit serta penggunaan bahan-bahan berkualitas tinggi. Tinggi hak sepatu dan desainnya yang kompleks semakin menegaskan status sosial pemakainya. Namun, perjalanan high heels tidak berhenti sampai di situ.
High Heels Pernah Digunakan sebagai Alasan untuk Membatasi Hak Suara Perempuan
Menjelang akhir abad ke-19, dalam konteks perjuangan hak suara bagi perempuan (suffrage), sepatu hak tinggi digunakan sebagai alat untuk mendiskreditkan kaum perempuan. Mereka yang menentang gerakan ini berargumen bahwa penggunaan sepatu hak menunjukkan ketidakseriusan perempuan, sebagaimana diungkapkan dalam artikel New York Times pada tahun 1871.
Dalam periode tersebut, sepatu hak tinggi menjadi simbol yang dipakai oleh lawan-lawan gerakan hak suara untuk merendahkan perempuan. Penentang berpendapat bahwa sepatu hak mencerminkan bahwa perempuan tidak berkomitmen pada perjuangan mereka, seperti yang dinyatakan dalam sebuah artikel di New York Times pada tahun 1871.
Sejak Abad ke-18, Perempuan Mulai Mengenakan Sepatu Hak Tinggi
Pada abad ke-18, perempuan mulai mengenakan sepatu hak tinggi. Ratu Marie Antoinette dari Prancis diakui sebagai salah satu sosok yang berhasil mempopulerkan high heels di kalangan wanita. Ia mengaitkan penggunaan sepatu ini dengan konsep keanggunan, kelas, dan feminitas, yang secara signifikan mengubah pandangan masyarakat terhadap high heels. Sejak saat itu, desain high heels mengalami banyak perubahan. Desain awal yang lebih kokoh dan berbentuk persegi untuk pria, kemudian berevolusi menjadi lebih ramping dan elegan untuk wanita. Berbagai variasi high heels muncul, mulai dari stiletto hingga platform heels, memberikan beragam pilihan sesuai dengan selera dan kebutuhan pengguna.
High heels telah menjadi simbol kecantikan dan feminitas, mampu meningkatkan tinggi badan serta memberikan ilusi kaki yang lebih panjang dan ramping. Meskipun sering kali tidak nyaman untuk dipakai, high heels tetap menjadi pilihan favorit bagi banyak wanita hingga saat ini. Hal ini menunjukkan daya tarik yang abadi dari sepatu ikonik ini. Seiring berjalannya waktu, high heels tidak hanya menjadi bagian dari fashion, tetapi juga mencerminkan kekuatan dan kepercayaan diri perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.