Mengenal Lebih Dalam Iron Dome yang Jadi 'Pelindung' Israel
Sebuah rudal milik Iran berhasil melewati sistem pertahanan Iron Dome Israel dan menargetkan bangunan perumahan, menyebabkan kerusakan parah.
Laporan First Post yang dikutip pada Minggu (15/6/2025) mengatakan bahwa salah satu rudal dari Iran berhasil melewati sistem Iron Dome Israel dan menghantam sebuah bangunan bertingkat di pusat Kota Tel Aviv. Akibat serangan tersebut, banyak jendela yang hancur dan area yang paling parah terkena menjadi tumpukan batang baja yang bengkok dan terbuka.
Menurut berbagai sumber, Iron Dome merupakan sistem pertahanan udara yang multifungsi, dirancang untuk mencegat berbagai ancaman seperti roket, artileri, mortir, serta Amunisi Berpemandu Presisi. Sistem ini juga mampu menangani pesawat terbang, helikopter, dan Kendaraan Udara Tak Berawak (UAV) dalam jarak pendek hingga 70 km. Keunggulan Iron Dome terletak pada kemampuannya untuk beroperasi dalam segala cuaca dan menangani beberapa target secara bersamaan, serta dapat dikerahkan melalui darat maupun laut.
Iron Dome diproduksi oleh Rafael Advanced Defence Systems Limited dan telah beroperasi dengan Angkatan Udara Israel sejak tahun 2011. Sistem radar yang mendukungnya dikembangkan oleh Elta. Perkembangan sistem ini dipicu oleh serangkaian serangan roket yang dilancarkan oleh Hizbullah dan Hamas terhadap Israel pada tahun 2000-an. Dalam konflik Lebanon tahun 2006, sekitar 4.000 roket ditembakkan ke wilayah utara Israel, menyebabkan sekitar 44 warga sipil Israel tewas dan sekitar 250.000 orang dievakuasi sebagai respons terhadap situasi yang berkembang.
Bagaimana Sistem ini Berfungsi?
Iron Dome merupakan sistem artileri yang terdiri dari unit kontrol manajemen pertempuran, radar deteksi dan pelacakan, serta unit tembak yang dilengkapi dengan tiga peluncur vertikal. Masing-masing peluncur ini dapat menampung 20 rudal pencegat yang menggunakan sekering kedekatan untuk meledakkan hulu ledak musuh di udara. Sistem ini beroperasi dalam pertahanan berlapis, bekerja sama dengan sistem pertahanan rudal lain seperti Sling dan Arrow David yang dirancang untuk menghadapi ancaman jarak menengah dan jauh.
Menurut makalah penelitian yang ditulis oleh Yiftah S. Shapur pada tahun 2013 berjudul 'Lessons from the Iron Dome' yang dipublikasikan di Military and Strategic Affairs, salah satu keunggulan utama dari Iron Dome adalah kemampuannya untuk memprediksi lokasi dampak roket yang berpotensi mengancam. Sistem ini mampu menghitung kemungkinan jatuhnya roket di area yang berpenduduk dan memutuskan apakah perlu dilakukan intersepsi atau tidak. Hal ini membantu menghindari intersepsi terhadap roket yang akan jatuh di area terbuka dan tidak menimbulkan kerusakan, seperti yang dinyatakan dalam makalah tersebut. Iron Dome telah berhasil mencegat ribuan roket, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90% menurut Rafael. Selain itu, I-DOME adalah varian seluler yang menyatukan semua komponen dalam satu truk, sedangkan C-DOME adalah versi angkatan laut yang dirancang untuk digunakan di atas kapal.
Memiliki Batasan Tertentu
Sistem itu telah menunjukkan performa yang sangat baik hingga saat ini. Namun, terdapat batasan yang terlihat ketika sistem menghadapi serangkaian proyektil yang banyak.
"Sistem ini memiliki 'titik jenuh'. Ia dapat menangani sejumlah target tertentu (yang tidak dipublikasikan) secara bersamaan, namun tidak lebih dari itu. Roket tambahan yang diluncurkan dalam salvo yang padat dapat berhasil menembus pertahanan dan menyebabkan kerusakan," ungkap Shapur dalam penelitiannya.
Beberapa analisis mengindikasikan bahwa Hamas sedang mengembangkan strategi mitigasi, termasuk menurunkan lintasan proyektil sambil tetap mengumpulkan ribuan roket dengan tingkat presisi yang lebih baik.
Shapur menyebutkan bahwa salah satu keterbatasan yang mungkin ada adalah ketidakmampuan sistem dalam menghadapi ancaman jarak sangat dekat, karena estimasi menunjukkan bahwa kisaran intersepsi minimum Iron Dome berada pada 5-7 kilometer. Selain itu, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah tingginya biaya operasional.
Biaya untuk setiap rudal pencegat diperkirakan sekitar $40.000 hingga $50.000, menurut Shapur. Dalam sebuah kolom yang ditulis oleh Elizabeth M. Bartels di blog RAND Corporation pada November 2017, dijelaskan sistem ini dirancang untuk mencegat beberapa proyektil, tetapi dapat kewalahan oleh musuh yang lebih kuat. Bartels menambahkan bahwa skenario perencanaan untuk konflik dengan Hizbullah mencakup sekitar 1.000 hingga 1.500 roket yang ditembakkan setiap hari ke pusat-pusat populasi di Israel.
Dalam konteks Korea Utara, penelitian ini memperkirakan bahwa artileri konvensional yang dikerahkan oleh Korea Utara dapat menembakkan 500.000 proyektil per jam selama beberapa jam, atau menembakkan puluhan ribu proyektil per hari dalam periode yang lebih lama.
"Laju tembakan ini akan dengan mudah membanjiri varian Iron Dome, yang saat ini diusulkan sebagai solusi," ungkapnya.