Israel dikenal memiliki sistem pertahanan rudal yang canggih di dunia. Namun, bukan berarti pertahanan rudal canggih yang dimiliki negeri zionis itu 100 persen sempurna anti tembus.
Sebab, tercatat pertahanan Israel pernah tembus oleh roket dan rudal para pejuang Hamas, Iran dan yang terakhir adalah Houthi Yaman. Minggu (4/5/2025) lalu, rudal yang ditembakan Houthi Yaman berhasil menembus dan menghantam wilayah Bandara Ben Gurion di Tel Aviv.
Akibatnya, tujuh orang luka dan sempat menghentikan lalu lintas Udara di bandara tersebut. Israel pun untuk pertama kalinya mengakui sistem pertahanannya gagal mencegat rudal balistik.
Dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (11/5/2025), dua sistem pertahanan buatan Amerika Serikat yakni Arrow dan THAAD menjadi salah satu andalan Israel buat melindungi wilayahnya dari serangan. Namun, keduanya tak mampu mencegat serangan rudal dari Houthi Yaman.
Kejadian ini pun memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas jaringan pertahanan Israel, yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling canggih di Timur Tengah. Pengamat militer dari Kuwait, Faisal Al-Hajri, pun membuka kelemahan pertahanan rudal negeri zionis.
Dia menjelaskan bahwa kendala utama berasal dari kemampuan radar dalam mendeteksi jenis rudal tertentu.
"Radar pertahanan udara menggunakan sistem transmisi untuk memancarkan gelombang dan sistem penerimaan untuk mendeteksi sinyal yang kembali," ujarnya kepada Anadolu.
"Saat gelombang mengenai target di udara, gelombang tersebut dipantulkan kembali ke radar, menampilkan target di monitor untuk dicegat," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sistem radar konvensional dirancang untuk mendeteksi objek dengan penampang radar besar, seperti pesawat tempur. Hal ini menyulitkan deteksi terhadap rudal balistik yang biasanya memiliki jejak radar yang kecil dan sulit dilacak.
Menurut Al-Hajri, rudal balistik jarak jauh umumnya membawa hulu ledak yang tidak terlalu besar demi mengoptimalkan jangkauan. Akibatnya, daya rusaknya terbatas dan lebih menimbulkan kepanikan daripada kerusakan nyata.
"Serangan terhadap Ben Gurion menyebabkan kerusakan terbatas karena hulu ledak rudal tersebut kecil dan navigasinya kurang tepat, sehingga dampaknya lebih bersifat psikologis daripada militer," katanya.
Al-Hajri juga menyatakan bahwa radar Israel kurang optimal dalam merespons ancaman rudal berkecepatan tinggi, karena sistem mereka difokuskan untuk mendeteksi dan mencegat pesawat terbang.
Militer Israel telah mengonfirmasi bahwa sistem Arrow maupun THAAD tidak berhasil mencegat rudal yang jatuh di wilayah terbuka dekat Bandara Internasional Ben Gurion. Akibatnya, penerbangan sempat ditangguhkan selama sekitar satu jam, dan tujuh orang dilaporkan mengalami luka ringan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis kemudian, militer menyatakan bahwa "Temuan awal tidak menunjukkan adanya kerusakan pada prosedur deteksi, sistem intersepsi, atau mekanisme peringatan Komando Depan".
Advertisement
Namun, mereka juga menambahkan bahwa terdapat kemungkinan gangguan teknis pada pencegat yang dikerahkan untuk menghancurkan rudal tersebut sebelum mencapai sasarannya.
Sebelumnya, Minggu pekan lalu, sirene peringatan dibunyikan di sejumlah wilayah Israel setelah rudal terdeteksi. Upaya intersepsi kemudian dilaporkan tidak berhasil.
Sementara itu, kelompok Houthi dari Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataan televisi, juru bicara Houthi Yahya Saree menyebut bahwa mereka meluncurkan rudal balistik hipersonik yang "berhasil mengenai sasarannya" sebagai bentuk dukungan bagi rakyat Palestina dan reaksi atas tindakan Israel di Gaza.
Ini menjadi kali pertama pemerintah Israel secara terbuka mengakui adanya dampak langsung dari serangan rudal Houthi, meski kelompok tersebut sebelumnya telah mengklaim beberapa serangan serupa.