Analisis Cara Kerja Sistem Pertahanan Udara Israel, Bagaimana Rudal Iran Bisa Sukses Menembusnya?
Pertahanan Udara Israel yang selama ini dimitoskan tak bisa tertembus lawan jebol oleh rudal-rudal Iran.
Serangan Israel ke Iran, Jumat malam pekan lalu berbuntut Panjang. Hingga saat ini, perang antara kedua negara itu masih berlangsung.
Tak gentar, negeri Para Mullah membalas serangan Isrel. Iran terus menembakkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Palestina yang diduduki Israel. Pertahanan Udara Israel yang selama ini dimitoskan tak bisa tertembus lawan pun jebol.
Rudal-rudal Iran berhasil menghancurkan target-target militer yang disasarnya. Bangunan-bangunan di Israel pun banyak hancur lebur.
Keberhasilan rudal-rudal milik Iran menembus sistem pertahanan udara canggih milik Israel seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow-3, pun menjadi perbincangan dunia. Bagaimana bisa Iran menembus pertahanan Udara Israel yang dikenal canggih?
Sistem Pertahanan Udara Israel
Sebelum kita masuk ke soal bagaimana bisa rudal Iran menembus pertahanan Udara Israel, kita harus lebih dulu tahu sistem pertahanan udara Israel.
Israel diketahui memiliki sistem pertahanan udara yang canggih dan berlapis. Israel memiliki Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow-3. Ketiganya masing-masin memiliki tugas dan fungsi masing-masing yang berbeda.
Dilansir Aljazeera, Jumat (20/6/2025), Israel juga memiliki sistem rudal permukaan ke udara Barak-8, yang mencegat rudal jarak menengah; sistem Pertahanan Area Ketinggian Terminal Tinggi, yang mencegat rudal balistik jarak pendek, menengah, dan menengah; dan David's Sling, yang mencegat rudal jarak menengah hingga jauh.
Iron Dome merupakan tingkat terendah dari pertahanan udara terpadu bertingkat yang dimiliki Israel. Iron Dome mendeteksi roket atau rudal yang masuk, menentukan jalurnya, dan mencegatnya. Iron Dome dirancang untuk mencegat roket tingkat rendah yang tidak dapat dideteksi oleh sistem yang lebih besar.
Israel mengklaim Iron Dome 90 persen efektif. Sistem ini mulai beroperasi pada tahun 2011 setelah dikembangkan untuk melawan serangan roket selama perang dengan Hizbullah pada tahun 2006.
Sistem pertahanan rudal Israel menggunakan pencegat Arrow-2 dan Arrow-3 untuk mencegat rudal jarak jauh, seperti rudal Iran yang digunakan buat membalas serangan Israel saat ini. Arrow-2 dirancang untuk mencegat rudal yang datang pada ketinggian sedikit lebih tinggi di dalam dan luar atmosfer bumi.
Kontraktor utama proyek Arrow adalah Israel Aerospace Industries milik negara, dan Boeing terlibat dalam pembuatan pencegat.
Selain menggunakan sistem pertahanan udara, Israel juga melaksanakan pertahanan rudal udara-ke-udara, yang melibatkan penggunaan pesawat terbang, seperti helikopter tempur atau jet tempur, untuk menghancurkan pesawat tak berawak yang menuju Israel.
Cara Kerja Sistem Pertahanan Udara Israel
Sistem pertahanan udara Israel terdiri dari tiga komponen yakni: sistem radar, pusat komando dan kontrol, serta peluncur dengan rudal pencegat. Rudal musuh yang masuk dilacak oleh radar, yang memberi tahu pusat kendali untuk menilai target mana yang harus diserang.
"Peluncur biasanya mengirimkan dua rudal pencegat untuk satu rudal musuh yang masuk," kata Marina Miron, seorang peneliti pascadoktoral di King's College London, kepada Al Jazeera.
Semua sistem pertahanan udara dilengkapi dengan rudal pencegat dalam jumlah terbatas, dan jumlah pasti rudal pencegat dalam sistem pertahanan udara Israel tidak diketahui publik.
Bagaimana Rudal Iran Berhasil Menembus Pertahanan Udara Israel?
Ada beberapa kemungkinan bagaimana drone dan rudal Iran berhasil menghindari intersepsi.
1. Rudal Pencegat Habis
Salah satu cara Iran mungkin menghindari pertahanan udara Israel adalah dengan menghabiskan rudal pencegat Israel.
"Lagi pula, tidak ada sistem yang mampu menembak jatuh (rudal) 100 persen," kata Miron.
"Anda tidak akan bisa menembak jatuh lebih banyak rudal jika Anda hanya memiliki jumlah pencegat yang terbatas," lanjutnya.
2. Rudal Hipersonik
Iran diketahui memiliki rudal hipersonik. Salah satu cara untuk menghindari sistem pertahanan udara adalah dengan menggunakan rudal yang terbang lebih cepat, sehingga sistem pertahanan udara memiliki lebih sedikit waktu untuk bereaksi.
Miron mengatakan rudal hipersonik sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara bahkan jika terdeteksi oleh radar.
Beberapa rudal hipersonik juga dilengkapi dengan wahana luncur hipersonik (HGV), hulu ledak yang dipasang pada rudal yang dapat bermanuver dan meluncur dengan kecepatan lima kali lebih cepat dari kecepatan suara. Di Iran, Fattah-2 menggunakan HGV.
"Kelihatannya seperti rudal biasa dengan wahana yang dipasang di ujungnya," kata Alex Gatopoulos, editor pertahanan Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa selain melaju lebih cepat, rudal tersebut juga bergerak zig-zag dan tidak bergerak pada jalur yang dapat diprediksi seperti rudal balistik biasa. Pergerakan yang cepat dan tidak menentu tersebut menghindari sistem pertahanan udara, yang dirancang untuk memprediksi jalur yang akan diambil rudal.
3. Rudal jelajah
Menurut Miron, rudal jelajah juga dapat mengubah lintasannya dan menjadi sulit dicegat. Iran memiliki rudal jelajah di gudang persenjataannya, seperti rudal Hoveyzeh, dan telah menggunakan rudal semacam itu terhadap Israel.
Meskipun rudal ini lebih lambat daripada rudal balistik, rudal ini terbang seperti pesawat tanpa pilot, rendah dan stabil, menyelinap melewati pertahanan udara.
Cara Lain untuk Menembus Sistem Pertahanan Udara
Cara lain untuk menembus sistem pertahanan udara adalah dengan membebani sistemnya secara berlebihan dengan mengelabui mereka dengan umpan drone dan rudal.
"Itu terlihat sebagai ancaman di radar, tetapi sebenarnya tidak. Dan biasanya umpan semacam itu digunakan... untuk mengosongkan cadangan rudal pencegat sehingga rudal dan drone yang sebenarnya dapat melewatinya," kata Miron.
Miron menambahkan beberapa rudal juga dilengkapi dengan teknologi penekan radar yang membuatnya tidak terdeteksi oleh sistem pertahanan udara.