Gus Rozin Tegaskan Program NU Mandiri Harus Dirasakan hingga Daerah Minoritas

Menurut Gus Rozin, kondisi geografis maupun posisi daerah sebagai wilayah minoritas tidak boleh menjadi alasan bagi warga NU untuk merasa berada di luar perhatian jam'iyyah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gus Rozin Tegaskan Program NU Mandiri Harus Dirasakan hingga Daerah Minoritas
Pengurus NU NTT dan Bali bertemu Gus Rozin.

Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) mendukung calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, untuk memperkuat kemandirian organisasi sekaligus memastikan manfaat sumber daya NU dapat dirasakan secara lebih merata hingga daerah.

Aspirasi tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Gus Rozin, Senin (10/8). Pengurus NU dari Bali dan NTT menilai, tantangan organisasi di daerah minoritas membutuhkan perhatian khusus dari PBNU, terutama dalam aspek pembiayaan, penguatan kelembagaan, pengelolaan aset, dan keberlanjutan program.

Sekretaris PWNU Bali, Ahmadi mengatakan kondisi organisasi NU di Bali memiliki tantangan berbeda dibandingkan sejumlah wilayah di Jawa yang memiliki akses lebih besar terhadap dukungan pemerintah daerah.

Menurut Ahmadi, PWNU Bali saat ini telah memiliki sekretariat yang kondisinya semakin baik setelah direnovasi melalui dukungan berbagai pihak, terutama para donatur.

“Daerah seperti Bali dan NTT membutuhkan perhatian dan dukungan PBNU agar dapat berkembang dan menjalankan khidmah secara berkelanjutan,” ujar Ahmadi dalam keterangannya, Selasa (11/8).

Aset NU Harus Kembali untuk Jam'iyyah

Dalam forum tersebut, Ahmadi juga menekankan pentingnya kejelasan status hukum seluruh aset dan sumber daya NU. Menurutnya, pengelolaan aset organisasi harus memastikan kepemilikan dan manfaatnya benar-benar berada dalam kerangka kelembagaan Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

Dia berharap persoalan kepemilikan aset, penyertaan modal, dan pengelolaan badan usaha NU dapat ditata secara transparan dan profesional. “Penguatan kemandirian NU harus dibangun dari kepastian bahwa aset dan sumber daya yang dimiliki organisasi benar-benar kembali untuk kepentingan jam'iyyah,” kata dia.

Menurutnya, manfaat ekonomi dari pengelolaan aset NU juga perlu didistribusikan secara proporsional kepada seluruh struktur organisasi, termasuk PWNU dan PCNU di daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya.

Harapan tersebut mendapat perhatian Gus Rozin. Menurutnya, kemandirian NU tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan PBNU membiayai dirinya sendiri, tetapi harus menjadi kekuatan bersama yang dirasakan seluruh struktur organisasi.

“NU yang mandiri dan berdaulat adalah NU yang mampu mengelola aset dan sumber dayanya secara amanah, profesional, transparan, dan akuntabel, serta memastikan manfaatnya kembali kepada jemaah dan jam'iyyah,” ujar Gus Rozin yang juga Ketua PWNU Jawa Tengah.

Jangan Ada Cabang Merasa Ditinggalkan

Aspirasi serupa disampaikan pengurus NU dari NTT. Hendra Umbu Rundi dari PCNU Kabupaten Manggarai Timur berharap kepemimpinan PBNU mendatang mampu mengembalikan marwah NU dan memperkuat posisi NU sebagai salah satu pilar kehidupan kebangsaan.

Sementara itu, Ketua PCNU Lembata, Mukhtar Sarabity, menilai visi, misi, dan program transformasi organisasi yang ditawarkan Gus Rozin relevan dengan kebutuhan NU di daerah. Dia berharap, apabila Gus Rozin mendapat amanah memimpin PBNU, perhatian terhadap cabang-cabang NU di NTT menjadi bagian dari prioritas organisasi.

“Daerah-daerah seperti kami juga harus menjadi bagian dari agenda besar penguatan NU,” ujar Mukhtar.

Menurut Gus Rozin, kondisi geografis maupun posisi daerah sebagai wilayah minoritas tidak boleh menjadi alasan bagi warga NU untuk merasa berada di luar perhatian jam'iyyah. “Tidak boleh ada warga NU yang merasa berada di luar rumah besar NU. Kemandirian jam'iyyah serta program NU Mandiri harus dibangun dengan menguatkan seluruh struktur jamiyyah dan jemaah, dari pusat hingga pelosok,” tegas Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen - Pati Jawa Tengah.

Rekomendasi