Jerman Krisis Darah, Bagaimana Nasib Pasien di Rumah Sakit?
Apa langkah-langkah yang diambil oleh pihak berwenang di Jerman untuk mengatasi masalah kekurangan pasokan darah?
Darah memiliki peranan penting dalam menyelamatkan nyawa, terutama dalam situasi kecelakaan, saat menjalani operasi, atau dalam pengobatan penyakit serius seperti kanker. Berdasarkan informasi dari Palang Merah Jerman atau Deutsches Rotes Kreuz (DRK), setiap harinya diperlukan hingga 15.000 donasi darah di Jerman.
Untuk memastikan kesiapan dalam menghadapi keadaan darurat, persediaan darah sebaiknya cukup untuk minimal empat hari. Sayangnya, sering kali persediaan ini mengalami kekurangan, sebagaimana dikutip dari laman DW Indonesia pada Rabu (28/1/2026).
Pada pertengahan Januari, persediaan darah hanya mencukupi untuk satu setengah hari. Ada berbagai faktor yang menyebabkan hal ini, seperti liburan Natal dan Tahun Baru, serta datangnya musim dingin yang keras dengan jalan-jalan bersalju, yang menghalangi banyak orang untuk mendonorkan darah.
Selain itu, munculnya penyakit musiman, termasuk flu dan influenza, membuat banyak orang tidak dapat atau tidak diizinkan untuk mendonorkan darah karena alasan kesehatan.
Tidak Ada Diskriminasi Bagi Pendonor
Palang Merah Jerman pun mengeluarkan peringatan, yang mendorong Marcel Fürstenau, Jurnalis DW yang menulis artikel ini, untuk berpartisipasi. Terakhir kali Marcel Fürstenau mendonorkan darah pada tahun 1994, yaitu 32 tahun yang lalu.
Pada awalnya, dia merasa mungkin sudah terlalu tua untuk mendonorkan darah. Namun, kini batasan usia tersebut telah dihapus. Alasan di balik perubahan ini sangat kuat: orang yang lebih tua sekarang sering kali memiliki kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
"Mengapa mereka harus berhenti mendonorkan darah?" tanya Dr. Sieglinde Ristau di pusat donor darah Palang Merah Jerman yang terletak di pusat perbelanjaan Alexa, Berlin.
Dalam percakapan singkat, ia menyiapkan Marcel Fürstenau untuk kembali menjadi pendonor darah. Dokter berpengalaman ini menekankan bahwa bagi individu yang sehat, mendonorkan darah tidak menimbulkan risiko, bahkan memberikan banyak manfaat.
Marcel Fürstenau pun melakukan sedikit penelitian dan menemukan bahwa banyak studi menunjukkan dampak positif terhadap tekanan darah dan kesehatan jantung. Selain itu, secara tidak ilmiah, dia merasa senang bisa membantu orang lain melalui darahnya.
Oleh karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai efek negatif dari mendonorkan darah. Namun, Ristau juga mengungkapkan kekhawatirannya.
"Sayangnya, terlalu sedikit orang muda yang mendonorkan darah," ujarnya.
Dengan rendahnya angka kelahiran sejak tahun 1990, kekurangan pendonor muda bisa menjadi masalah di masa mendatang.
"Itulah sebabnya kami sangat menghargai pendonor yang lebih tua, karena mereka cenderung menjadi yang paling setia."
Marcel Fürstenau kemudian melanjutkan ke ruangan berikutnya, di mana kepala pusat donor darah Palang Merah Jerman menyambut dan memintanya untuk duduk di tempat tidur yang dapat diatur. Setelah beberapa penjelasan singkat mengenai prosedur, Perawat Christina dengan lembut memasukkan jarum ke vena besar di lengan kanannya. Tusukan jarum tersebut hampir tidak terasa, dan darahnya mulai mengalir perlahan ke dalam kantong plastik transparan.
Sel Darah Merah, Plasma, dan Trombosit
Schweiger menjelaskan berbagai jenis darah dan dampaknya terhadap kondisi kesehatan Marcel Fürstenau. Darah terbagi menjadi tiga komponen utama, yang dalam istilah medis dikenal sebagai eritrosit, trombosit, dan leukosit.
Namun, Marcel Fürstenau lebih akrab dengan istilah yang umum digunakan sehari-hari, yakni sel darah merah, plasma darah, dan trombosit. Sel darah merah dapat disimpan hingga 42 hari, sedangkan trombosit, yang sangat penting dalam perawatan kanker, hanya dapat digunakan selama empat hari.
"Itulah mengapa penting untuk menjaga jadwal donor yang teratur dalam beberapa minggu mendatang, agar tidak ada kekurangan dalam perawatan pasien," ungkap Schweiger dengan penuh harapan.
Kekurangan Berikutnya Bisa Muncul Cepat
Walaupun situasi mulai membaik setelah adanya bantuan dari Palang Merah Jerman, kekurangan darah bisa kembali terjadi dengan cepat. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang ekstrem, di mana sebagian besar wilayah Jerman masih mengalami musim dingin yang parah dengan suhu di bawah nol, sehingga banyak orang jatuh sakit.
Selain itu, liburan musim dingin sekolah di Berlin dan Brandenburg akan dimulai pada awal Februari, yang biasanya membuat banyak pendonor tetap pergi berlibur. Situasi seperti ini jelas menjadi tantangan bagi layanan donor darah, karena kebutuhan akan pasokan darah terus meningkat.