Bukan Sekadar Sayur Diasa, Daun Singkong Ternyata Berpotensi Jadi Obat Alami Penyakit Kulit
Daun singkong dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk membantu mengatasi masalah kulit, seperti dermatitis.
Di Indonesia, daun singkong dikenal sebagai sayuran pendamping yang sering diolah menjadi sayur atau lalapan. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa tanaman ini juga memiliki manfaat besar di bidang medis, terutama sebagai alternatif pengobatan untuk penyakit kulit seperti dermatitis. Tiga mahasiswi dari Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu Mary Triana, Tiffany Winata Jingga, dan Fortuna Aurellia Sandra Dewi, melakukan penelitian mendalam mengenai potensi daun singkong.
Di bawah bimbingan Dr. Apt. Rika Hartati, dosen Sekolah Farmasi ITB, mereka berhasil meraih Juara 1 dalam kategori Karya Tulis Ilmiah (KTI) pada ajang Pharmaland 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Malang pada 18 Mei lalu.
Alternatif Alami untuk Mengatasi Masalah Kulit
Masalah kulit seperti dermatitis bukanlah hal yang asing, terutama bagi bayi dan anak-anak. Gejala yang umum muncul meliputi kulit kering, rasa gatal, dan peradangan kronis. Selama ini, pengobatan dermatitis yang sering digunakan adalah krim berbahan kortikosteroid. Meskipun krim ini terbukti efektif, penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, seperti penipisan kulit dan gangguan hormonal. Oleh karena itu, tim riset dari ITB melihat adanya peluang untuk mencari bahan pengobatan alternatif.
"Kami memilih topik ini karena merasa perlu mencari solusi yang lebih aman dan efektif, terutama bagi bayi dan anak-anak yang kondisi kulitnya masih sangat sensitif," ungkap Mary Triana, ketua tim, seperti yang dikutip dari laman itb.ac.id.
Daun singkong (Manihot esculenta), yang selama ini kurang diperhatikan dalam dunia medis, ternyata mengandung rutin—senyawa flavonoid yang memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, dan antioksidan. Dengan demikian, ada potensi bahwa ekstrak daun singkong dapat membantu meredakan gejala dermatitis tanpa menimbulkan efek samping yang serius.
Dari Dapur Menuju Dunia Penelitian
Ide untuk memanfaatkan daun singkong tidak muncul secara tiba-tiba. Tim melakukan diskusi mendalam dan sesi brainstorming mengenai berbagai penyakit kulit serta tanaman lokal yang berkaitan dengan tema kompetisi: "Eksplorasi Potensi Bahan Alam sebagai Pengobatan Penyakit Kulit".
Setelah itu, mereka menyusun sebuah karya tulis yang berfokus pada pengembangan formulasi sediaan berbasis nanoemulsi. Diketahui bahwa nanoemulsi adalah sediaan yang memiliki stabilitas tinggi, transparansi, dan ukuran droplet yang sangat kecil, umumnya berkisar antara 20-200 nm. Ukuran ini memungkinkan bahan aktif untuk diserap lebih efektif ke dalam lapisan kulit.
Kemenangan yang Berpengaruh
Kemenangan tim ITB dalam kompetisi karya ilmiah bukan sekadar pencapaian, melainkan juga harapan untuk mengembangkan gagasan tersebut lebih jauh hingga mencapai tahap riset klinis. Mereka ingin agar hasil penelitian ini dapat menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam proses penyusunan karya ilmiah, tim ini saling memberikan kritik dan saran serta sangat memperhatikan setiap detail yang ada.
"Kami saling memberi kritik dan saran tanpa baper. Selain itu, kami benar-benar memperhatikan detail, terutama dalam pemilihan bahan dan dasar ilmiahnya," ungkap Mary, yang menggambarkan dinamika kerja tim mereka.
Mary juga memberikan motivasi kepada mahasiswa lainnya untuk berani mencoba.
Pastikan semua anggota ikut dalam proses ideasi, lakukan riset yang mendalam, dan ciptakan karya yang orisinal. Kalau bisa, minta masukan dari dosen dan latih presentasinya sebaik mungkin. Yang terpenting, pahami betul isi KTI yang dibuat, supaya bisa tampil percaya diri dan menjawab pertanyaan dengan lancar," tambahnya.