2 Mantan Presiden AS Bersatu Kecam Donald Trump, ini Penyebabnya
Dua mantan Presiden Amerika Serikat menyampaikan kritik langka yang terbuka terhadap kebijakan Donald Trump.
Dua mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan George W. Bush, menyampaikan kritik langka yang terbuka terhadap kebijakan Donald Trump dalam sebuah video perpisahan penuh emosi kepada para pegawai Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).
Obama menyebut kebijakan pembubaran lembaga tersebut sebagai “kesalahan besar”.
Pada hari Senin, USAID resmi mengakhiri statusnya sebagai badan independen. Lembaga yang sudah beroperasi selama enam puluh tahun ini didirikan oleh Presiden John F. Kennedy sebagai instrumen diplomasi lunak—membangun kesejahteraan global untuk mendukung keamanan nasional Amerika Serikat.
Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menginstruksikan agar USAID dilebur ke dalam Departemen Luar Negeri mulai Selasa.
Dalam acara konferensi video tertutup yang diikuti ribuan orang dari komunitas USAID, para mantan presiden dan Bono, vokalis U2, menyampaikan apresiasi sekaligus duka kepada para pegawai yang kehilangan pekerjaan. Banyak staf yang dipecat secara mendadak melalui surel massal dan akses mereka ke kantor serta sistem dicabut. USAID memang menjadi sasaran utama pemangkasan anggaran pemerintahan Trump dan sekutunya, Elon Musk.
Trump menuduh lembaga ini penuh dengan “penipuan besar-besaran” dan dioperasikan oleh “orang-orang gila radikal kiri”, sedangkan Musk bahkan melabelinya “organisasi kriminal”. Demikian dilansir Aljazeera, Selasa (1/7/2025).
Obama
Dalam pesan rekaman, Obama mencoba memberi penguatan moral bagi pekerja bantuan, termasuk mereka yang mendengarkan dari luar negeri.
“Pekerjaan kalian penting dan akan tetap penting bagi generasi mendatang,” katanya.
Selama periode Trump, Obama memilih jarang muncul di publik dan menahan diri untuk tidak terlalu sering mengecam kebijakan penggantinya. Namun kali ini ia menyebut, “Menghancurkan USAID adalah sebuah tragedi. Karena itu adalah salah satu pekerjaan terpenting yang terjadi di seluruh dunia.” Ia memuji kiprah lembaga tersebut dalam menyelamatkan nyawa sekaligus membuka peluang ekonomi yang menjadikan sejumlah negara mitra dagang baru bagi Amerika.
Obama pun meyakini bahwa cepat atau lambat, “para pemimpin di kedua kubu akan menyadari betapa kalian dibutuhkan.”
Bush
Dalam rekaman terpisah, Bush menyinggung pemotongan dana terhadap program penanggulangan HIV/AIDS yang pernah ia gagas di masa pemerintahannya—Rencana Darurat Presiden untuk Bantuan AIDS (PEPFAR)—yang diperkirakan telah menyelamatkan 25 juta nyawa.
Desakan bipartisan di Kongres berhasil mempertahankan sebagian besar pendanaan PEPFAR. Namun pengurangan anggaran dan regulasi baru tetap membuat semakin sedikit orang yang bisa mengakses pengobatan.
"Anda telah menunjukkan kekuatan besar Amerika melalui pekerjaan Anda – dan itu adalah kebaikan hati Anda," ujar Bush.
"Apakah demi kepentingan nasional kita jika 25 juta orang yang seharusnya meninggal kini hidup? Saya pikir begitu, dan Anda juga."
Pernyataan Deplu AS
Ketika dimintai pernyataan, pihak Departemen Luar Negeri menyebut program pengganti akan segera diumumkan. Badan baru itu diberi nama America First.
“Proses baru ini akan memastikan adanya pengawasan yang tepat dan bahwa setiap dolar pajak yang dibelanjakan akan membantu memajukan kepentingan nasional kita,” demikian bunyi pernyataan resmi Departemen Luar Negeri.
USAID selama puluhan tahun menjalankan berbagai inisiatif, mulai dari distribusi pangan dan air bersih bagi jutaan korban konflik di Sudan, Suriah, dan Gaza, hingga menggerakkan “Revolusi Hijau” yang mereformasi sektor pertanian.
Program-programnya juga berkontribusi dalam pencegahan wabah penyakit, penguatan demokrasi, serta pembangunan ekonomi untuk keluar dari kemiskinan.
Sebuah penelitian yang dirilis jurnal Lancet pada Selasa memproyeksikan bahwa kebijakan ini dapat merenggut nyawa lebih dari 14 juta orang rentan di seluruh dunia—sepertiganya anak-anak kecil.
"Bagi banyak negara berpendapatan rendah dan menengah, guncangan yang diakibatkannya akan sebanding dengan skala pandemi global atau konflik bersenjata besar," jelas Davide Rasella, peneliti di Institut Kesehatan Global Barcelona.
Bono hadir sebagai “tamu kejutan” dalam acara perpisahan tersebut. Dengan suara bergetar, ia membacakan puisi yang ditulisnya tentang penderitaan anak-anak yang akan terdampak pemotongan dana Amerika Serikat. Ia mengutip proyeksi Universitas Boston dan peneliti lain yang memperkirakan jutaan kematian akibat pemangkasan anggaran kesehatan dan bantuan luar negeri.
“Mereka menyebut kalian penjahat,” kata Bono, “padahal kalian yang terbaik di antara kami.”