15 Tahun Pasca Erupsi Merapi, Bekas Rumah Mbah Maridjan Kini Jadi Museum Petilasan
Pengunjung dapat menyaksikan langsung puing-puing bangunan dan benda-benda yang hancur akibat terjangan wedhus gembel (awan panas).
Lima belas tahun pasca erupsi besar Gunung Merapi pada 2010, bekas kediaman juru kunci Gunung Merapi, Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan, di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, kini beralih fungsi menjadi museum. Lokasi yang dikenal sebagai "Petilasan Mbah Maridjan" ini menyimpan berbagai barang sisa letusan sebagai bukti dahsyatnya awan panas.
Di lokasi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung puing-puing bangunan dan benda-benda yang hancur akibat terjangan wedhus gembel (awan panas).
Saksi Bisu Kendaraan Evakuasi
Salah satu benda yang menjadi sorotan utama di museum terbuka ini adalah bangkai mobil Suzuki APV milik relawan. Kondisi kendaraan tersebut tampak ringsek parah dan hanya menyisakan kerangka besi yang berkarat.
"Mobil ini rencananya mau menjemput Mbah Maridjan, tapi beliau saat itu belum mau turun. Akhirnya letusan terjadi, dan relawan yang menunggu di samping mobil pun ikut menjadi korban," ungkap seorang pemandu wisata setempat, dilansir dari YouTube Rizquna Channel, Kamis (20/11).
Selain kendaraan evakuasi, museum ini juga memamerkan barang-barang pribadi milik Mbah Maridjan, seperti kursi untuk tamu, peralatan dapur, dan seperangkat alat musik gamelan yang tertutup abu vulkanik mengeras.
"Ini gamelan, alat musik milik Mbah Maridjan. Hobi beliau memang mendalang atau karawitan," kata dia.
Titik Ditemukannya Jenazah
Di bagian dalam area bekas rumah, terdapat satu titik yang diberi penanda khusus di lantai. Titik tersebut merupakan lokasi ditemukannya jenazah Mbah Maridjan oleh Tim SAR dalam posisi bersujud saat proses evakuasi pasca erupsi.
"Ini bukan makam, tapi petilasan. Posisi Mbah Maridjan ditemukan bersujud di sini," jelas sang pemandu itu.
Peristiwa erupsi Merapi pada 26 Oktober 2010 di Dusun Kinahrejo tercatat menewaskan 39 orang, termasuk Mbah Maridjan, relawan PMI, dan wartawan. Nama-nama para korban kini diabadikan dalam sebuah monumen prasasti yang berdiri di area petilasan tersebut sebagai pengingat sejarah.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie