Xiaomi, Vivo, dan OPPO Dipermalukan Merek HP yang Mati Suri
Semua orang kaget, merek HP yang absen 4 tahun ini justru jadi penguasa pasar di China.
Huawei resmi kembali memuncaki pasar smartphone di China pada kuartal II 2025 setelah absen selama empat tahun. Kendati demikian, capaian ini terjadi di tengah lesunya penjualan ponsel secara nasional, yang anjlok 4% menjadi 69 juta unit.
Penurunan ini dipicu oleh konsumsi yang melemah dan terhambatnya pencairan subsidi pemerintah terhadap produk elektronik, menurut laporan International Data Corporation (IDC) yang dirilis Selasa (16/7).
Mengutip South China Morning Post, Sabtu (19/7), Huawei kini menguasai 18,1% pangsa pasar Tiongkok dengan total pengiriman 12,5 juta unit sepanjang April hingga Juni 2025.
Namun, angka tersebut justru turun 3,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. IDC menilai keberhasilan Huawei tak lepas dari kekuatan merek dan efisiensi distribusi, meskipun pasar secara keseluruhan menyusut.
Huawei sempat kehilangan dominasi pasar domestik setelah menjual sub-merek Honor pada 2020 dan menghadapi sanksi dagang dari Amerika Serikat. Namun sejak 2023, perusahaan asal Shenzhen itu berangsur bangkit dengan lini produk 5G buatan sendiri dan kampanye nasionalisme digital.
Dari lima besar vendor, hanya Xiaomi yang mencatatkan pertumbuhan positif. Perusahaan ini mengirimkan 10,4 juta unit pada kuartal II—naik 3,4% dibanding tahun lalu—berkat fokus pada segmen harga terjangkau. Xiaomi kini menempati posisi keempat di bawah Vivo dan Oppo.
Sementara itu, Apple yang berada di posisi kelima mengalami penurunan pengiriman 1,3%, angka terkecil dibanding kompetitor lainnya.
Penyesuaian harga dan partisipasi dalam program subsidi membantu Apple mempertahankan kinerjanya. Strategi ini terbukti efektif selama festival belanja "618 Shopping Festival" akhir Mei lalu, di mana Apple mencatat lonjakan pengiriman sebesar 8% berkat diskon besar-besaran pada seri iPhone 16.
Kembalinya Huawei ke puncak menjadi simbol kebangkitan pasca-tekanan geopolitik dan sanksi teknologi dari Barat. Namun, penurunan volume pengiriman menandakan pekerjaan rumah yang belum selesai.
Untuk mempertahankan posisi, Huawei perlu terus memperkuat ekosistem produk, mempercepat adopsi HarmonyOS, dan memastikan ketersediaan chipset Kirin secara luas. Inovasi kamera, konektivitas satelit, dan integrasi AI juga menjadi daya saing penting di tengah ekspektasi pasar yang makin tinggi.
Dengan tekanan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen, lanskap pasar smartphone Tiongkok kini tidak hanya soal siapa tercepat atau terbesar—tetapi siapa yang paling adaptif dan tahan banting.