Perusahaan teknologi raksasa asal China, Huawei, telah meluncurkan sistem kecerdasan buatan (AI) mutakhir untuk mendukung upaya konservasi. Inisiatif ini berfokus pada perlindungan Lutung Kepala Putih, spesies primata langka yang hanya ditemukan di Cagar Alam Nasional Chongzuo, Daerah Otonom Guangxi Zhuang. Teknologi AI ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemantauan dan perlindungan satwa endemik tersebut.
Lutung Kepala Putih (Trachypithecus leucocephalus) merupakan spesies yang statusnya sangat terancam punah, bahkan lebih langka dari panda raksasa. Populasinya saat ini hanya berkisar 1.300 hingga 1.400 ekor, dengan 90 persen di antaranya mendiami cagar alam seluas 256 kilometer persegi itu. Kehadiran teknologi digital menjadi krusial untuk pengamatan yang lebih presisi dan perlindungan yang lebih baik.
Direktur Cagar Alam Nasional Lutung Kepala Putih Chongzuo Guangxi, Nong Dengpan, menjelaskan bahwa konservasi ini adalah hasil kolaborasi erat. Kerja sama melibatkan pemerintah untuk perlindungan legal, akademisi untuk data empiris, dan pihak swasta seperti Huawei untuk inovasi teknologi. Sistem AI ini memungkinkan pengumpulan data real-time tentang aktivitas lutung dan kondisi lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Lutung Kepala Putih dikenal sebagai "peri gunung batu" karena kebiasaannya berlindung di gua-gua tebing curam di wilayah karst Guangxi. Hewan ini memiliki ciri khas jambul putih tegak di kepala dan hidup dalam kelompok keluarga yang ketat. Kelangkaan spesies ini juga disebabkan oleh sistem matrilineal yang melarang perkawinan sedarah, memaksa jantan muda mencari kelompok baru.
Habitatnya yang terjal dan sulit dijangkau menjadi tantangan besar bagi upaya patroli dan pemantauan tradisional. Medan karst yang ekstrem seringkali menghambat pengamatan langsung oleh petugas cagar alam. Oleh karena itu, pendekatan inovatif sangat dibutuhkan untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini di lingkungan alaminya.
Sebelumnya, populasi lutung kepala putih hanya sekitar 300 ekor pada tahun 1980-an, menunjukkan betapa gentingnya situasi konservasi. Upaya perlindungan yang komprehensif dan berkelanjutan menjadi sangat penting untuk mencegah kepunahan. Tanpa intervensi teknologi, pemantauan populasi dan perilaku mereka akan sangat terbatas.
Advertisement
Advertisement
Menjawab tantangan tersebut, Cagar Alam Chongzuo berkolaborasi dengan Huawei dan Pusat Kerja Sama Aplikasi Kecerdasan Buatan China-ASEAN. Mereka mengembangkan "platform" pemantauan cerdas yang ditenagai oleh komputasi kecerdasan buatan. Sistem ini dirancang khusus untuk mengatasi kesulitan medan dan memberikan data yang akurat.
Platform ini memanfaatkan perangkat pemantauan hewan berbasis video yang dipasang di sepanjang tebing-tebing karst. Teknologi ini mampu mengumpulkan data secara real-time mengenai distribusi lutung, kondisi lingkungan sekitar, serta pola aktivitas mereka. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara otomatis menggunakan algoritma AI.
Sistem ini juga dilengkapi dengan pelabelan otomatis berbasis AI dan analisis data yang canggih. Hal ini memungkinkan cagar alam untuk mengembangkan sistem manajemen visual yang lengkap, meningkatkan efisiensi dalam pengambilan dan analisis data. Hingga saat ini, sistem tersebut telah mencatat lebih dari 37.200 kejadian aktivitas lutung, memberikan wawasan berharga bagi para konservasionis.
Advertisement
Advertisement
Berkat penerapan teknologi dan kerangka hukum yang kuat, populasi Lutung Kepala Putih menunjukkan peningkatan signifikan. Dari hanya 300 ekor pada tahun 1980-an, jumlahnya kini telah mencapai lebih dari 1.400 ekor yang tersebar dalam 130 kelompok. Pemerintah pusat juga telah menetapkan Peraturan Perlindungan Habitat Lutung Kepala Putih Chongzuo.
Di bawah peraturan tersebut, 77,6 hektare lahan telah direstorasi sebagai habitat lutung, serta pembangunan dua sumber air minum dan 18 titik air minum tambahan. Selain itu, dua koridor ekologi juga telah dibuat untuk mendukung pergerakan dan keberlanjutan populasi. Upaya ini menunjukkan komitmen serius terhadap konservasi.
Nong Dengpan menyoroti model kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan swasta sebagai bentuk ideal yang dapat diterapkan di negara lain, termasuk Indonesia. Wakil General Manager Huawei Guangxi, Tian Yongsheng, menegaskan komitmen Huawei untuk menggunakan teknologi digital seperti 5G, komputasi awan, dan AI dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Proyek inklusi digital Huawei telah diterapkan di 65 kawasan lindung di seluruh dunia, menunjukkan dampak global dari inovasi ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews