Huawei dan China Mobile Pacu Pengembangan Pedesaan 5G, Promosi Gula Merah Guangxi Mendunia
Kolaborasi Huawei dan China Mobile hadirkan 5G di Guangxi, Tiongkok. Inisiatif Pengembangan Pedesaan 5G ini sukses mempromosikan gula merah khas lokal hingga pasar global, pacu ekonomi warga.
Perusahaan teknologi raksasa Tiongkok, Huawei, bersama penyedia layanan internet China Mobile, berkolaborasi menghadirkan akses jaringan 5G. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat di desa-desa sekitar pegunungan karst Daerah Otonom Guangxi Zhuang, Tiongkok. Fokus utamanya adalah mempromosikan potensi wisata dan produk gula merah khas kawasan tersebut secara lebih luas.
Salah satu desa yang merasakan dampak positif dari layanan ini adalah Desa Buhua, yang terletak di Distrik Jiangzhou, Kabupaten Chongzuo, Daerah Otonom Guangxi Zhuang. Desa ini dikenal sebagai "Ibu Kota Gula China" karena memiliki perkebunan tebu seluas 266.000 hektare. Kontribusi produksinya mencapai sekitar sepertiga dari total produksi gula Guangxi, atau seperlima dari total produksi nasional Tiongkok.
General Manager China Mobile Guangxi Cabang Chongzuo, Zhou Peng, menegaskan komitmen mereka. "Setelah 10 tahun pembangunan layanan telekomunikasi, bahkan di daerah terpencil yang sulit dijangkau dan hanya ada tiga rumah di sana, China Mobile tetap berupaya untuk menghadirkan jaringan internet," ujarnya di Chongzuo pada Kamis (26/3) waktu setempat. Ia menambahkan bahwa daerah pedesaan kini menikmati jaringan berkecepatan tinggi setara perkotaan, menjadi fondasi pariwisata cerdas di masa depan.
Jangkauan Jaringan 5G di Tengah Tantangan Geografis
Menurut data China Mobile, per Maret 2026, sebanyak 99 persen daerah pedesaan Chongzuo di Tiongkok bagian selatan telah tercakup jaringan 4G. Selain itu, 95 persen wilayah tersebut sudah berada dalam cakupan jaringan 5G, menunjukkan upaya masif dalam pemerataan akses digital di kawasan tersebut.
Zhou Peng mengakui tantangan besar yang dihadapi dalam Pengembangan Pedesaan 5G ini. "Tantangannya memang bentang alam khas karst yang membentuk pegunungan kerucut, perbukitan karst, cekungan, sungai bawah tanah hingga lubang raksasa," jelasnya. Ia juga menyoroti keberadaan beberapa keluarga yang tinggal di pedalaman ekstrem.
Meskipun demikian, China Mobile tetap bertekad menjangkau mereka. Tujuannya adalah memastikan bahwa semua warga dapat benar-benar keluar dari kemiskinan. Akses internet cepat diharapkan menjadi katalisator bagi peningkatan kualitas hidup dan peluang ekonomi.
Transformasi Ekonomi Desa Buhua Berkat Konektivitas Cepat
Desa Buhua telah merasakan peningkatan signifikan dari jaringan 4G ke 5G sejak tahun 2021. Peningkatan ini secara langsung mendorong industri lokal khas Buhua, yaitu gula merah. Di desa tersebut, kecepatan 5G mencapai 150 Mbps, sementara kecepatan "broadband" melonjak hingga 1.000 Mbps, membuka peluang ekonomi baru.
Sebelumnya, sekitar tahun 2017, Desa Buhua masih sangat bergantung pada penjualan tebu yang nilainya fluktuatif. Hal ini tidak memberikan pendapatan tetap yang stabil bagi para petani. Menanggapi kondisi tersebut, kepala desa saat itu meluncurkan program inovatif "dari rumah pertanian menjadi penginapan", mengubah rumah pedesaan menjadi akomodasi bagi wisatawan.
Desa Buhua kemudian memanfaatkan jaringan internet yang kencang untuk berjualan melalui siaran langsung dan media sosial. Mereka bahkan memperkenalkan metode pembuatan gula merah kuno kepada masyarakat luas. Gula dari Desa Buhua terkenal dengan teksturnya yang unik: "padat seperti batu, namun rapuh seperti pasir".
Gula Merah Guangxi Menembus Pasar Global
Kota Xinhe, lokasi Desa Buhua, telah berhasil mendirikan 65 toko "e-commerce" di berbagai platform digital terkemuka seperti JD.com dan Douyin. Toko-toko ini dimiliki secara kolektif oleh desa dan telah berhasil membina 27 "streamer" lokal hingga saat ini. Dua toko yang paling menonjol adalah "Studio Sekretaris Pertama" dan "Pilihan Premium Zuojiang".
Penjualan daring gula merah tradisional mengalami peningkatan drastis, termasuk harganya yang naik 150 persen dibandingkan gula industri. Produk ini kini menjadi barang tren di pasar kesehatan dan kebugaran, serta dijual ke kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen. Bahkan, gula merah ini telah diekspor hingga ke Jepang dan Korea Selatan dengan julukan "karamel oriental".
Puncaknya pada tahun 2023, pendapatan penjualan daring mencapai lebih dari 300.000 RMB (sekitar Rp690 juta), meningkatkan pendapatan ekonomi kolektif desa secara signifikan. Pada tahun 2025, pendapatan ekonomi kolektif desa bahkan melebihi 500.000 RMB (sekitar Rp1,15 miliar). Pendapatan rata-rata rumah tangga juga melonjak hingga lebih dari 80.000 RMB (sekitar Rp184 juta), tiga kali lipat dibandingkan pendapatan dari pertanian tebu tradisional. Peningkatan pendapatan per kapita tahunan sebesar 18.000 RMB (sekitar Rp41,4 juta) mendorong semakin banyak generasi muda untuk kembali dan membangun desa mereka.
Komitmen Berkelanjutan untuk Pembangunan Digital Pedesaan
Zhou Peng menegaskan kembali komitmen China Mobile dalam mendukung Pengembangan Pedesaan 5G. "Selain membangun jaringan 5G yang solid, kami telah membentuk tim profesional untuk menyediakan dukungan jaringan jangka panjang bagi desa, perusahaan, dan pemerintah," ungkapnya.
Dukungan ini mencakup aspek teknis dan strategis, memastikan keberlanjutan manfaat dari konektivitas digital. "Ini akan memastikan jaringan benar-benar memainkan peran mereka dalam memungkinkan pembangunan," pungkas Zhou Peng, menekankan pentingnya infrastruktur digital sebagai pilar kemajuan ekonomi dan sosial di pedesaan.
Sumber: AntaraNews