China Uji Coba Rudal Balistik, Picu Reaksi Australia hingga Jepang
China mengklaim bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari latihan tahunan yang biasa dilakukan dan tidak ditujukan untuk negara tertentu.
Angkatan Laut China melakukan uji coba rudal balistik jarak jauh dari kapal selam bertenaga nuklirnya di Pasifik Selatan pada Senin, 6 Juli 2026. Tindakan yang jarang terjadi ini memicu protes dan kekhawatiran dari berbagai negara di kawasan tersebut. Menurut laporan dari kantor berita resmi Xinhua, peluncuran rudal berlangsung pada pukul 12.01 dan menggunakan hulu ledak tiruan. Sebelumnya, China terakhir kali melakukan uji coba rudal di Pasifik dua tahun lalu, ketika meluncurkan rudal balistik antarbenua dengan hulu ledak tiruan, yang merupakan peluncuran pertama di perairan internasional dalam beberapa dekade, sejak tahun 1980.
Dalam pernyataan singkat yang dipublikasikan oleh Xinhua dan diunggah ulang oleh Kementerian Pertahanan China, peluncuran itu dijelaskan sebagai bagian dari latihan rutin tahunan yang sesuai dengan hukum dan praktik internasional, serta tidak ditujukan kepada negara atau target tertentu. Uji coba ini mirip dengan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap armada rudal balistiknya, dan para pakar menilai bahwa ini menunjukkan posisi China sebagai kekuatan besar yang terus berkembang. Namun, tindakan tersebut mendapatkan kritik dari Australia, Jepang, dan Selandia Baru.
Pemerintah Selandia Baru menyatakan bahwa mereka telah menerima pemberitahuan mengenai rencana peluncuran tersebut beberapa jam sebelumnya. Wellington juga menekankan bahwa rudal itu ditembakkan ke Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, yang dibentuk melalui Traktat Rarotonga 1986 yang melarang senjata nuklir di kawasan tersebut. Pada tahun 1987, China meratifikasi protokol yang berisi komitmen untuk tidak menguji senjata nuklir di zona itu dan tidak mengancam negara-negara penandatangan yang memiliki wilayah di kawasan tersebut.
"Tampaknya, meskipun kami telah lama menyampaikan kekhawatiran atas aktivitas semacam ini, China tetap melakukan uji coba itu hanya beberapa jam setelah memberi tahu kami," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters dalam pernyataan kepada The Associated Press.
Uji coba rudal tersebut berlangsung pada hari yang sama ketika Australia dan Fiji menandatangani perjanjian pertahanan baru yang bertujuan untuk mengimbangi pengaruh China di Pasifik.
"Australia telah menyampaikan dengan jelas kepada China bahwa kami memandang hal ini sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan," ungkap Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong kepada wartawan di Fiji, menanggapi uji coba tersebut.
Kementerian Pertahanan Jepang juga menyampaikan kekhawatiran terkait meningkatnya aktivitas militer China dan meminta Beijing untuk "mempertimbangkan kembali" uji coba rudalnya agar proyektil tidak melintas di atas Jepang atau menimbulkan risiko keamanan lainnya.
China mempertahankan kebijakan untuk tidak menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata nuklir, meskipun Beijing aktif mengembangkan teknologi dan persenjataan nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat. Menurut Nuclear Threat Initiative, lembaga pemikir yang berbasis di Washington, China memiliki armada yang terdiri dari enam kapal selam rudal balistik dan 59 kapal selam serang bertenaga nuklir. Dalam laporan terbaru kepada Kongres mengenai kemampuan militer China yang dirilis pada akhir 2025, Pentagon memperkirakan bahwa China memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir pada tahun 2024 dan masih berada di jalur untuk memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030.