WFH Bukan Penyebab Google Kalah dari OpenAI, tapi Birokrasi yang Lamban seperti Pemerintahan
Mantan pegawai Google menyatakan bahwa kekalahan Google dalam persaingan AI bukan disebabkan oleh kebijakan WFH, melainkan oleh birokrasi hambat inovasi.
Jordan Thibodeau, mantan karyawan yang telah bekerja di Google 10 tahun tak sepakat dengan pernyataan bekas bosnya Eric Schmidt. Eric menyebut sampai kapanpun Google tak akan pernah menang melawan startup AI seperti OpenAI.
Pasalnya kebijakan Google yang memperbolehkan karyawannya bekerja remote menjadi penyebabnya. Dengan bekerja tidak di kantor membuat ide-ide liar tak tercipta.
Namun menurut Thibodeau, mengutip Business Insider, Rabu (21/8), persoalannya bukan itu. Pernyataan Schmidt tidak tepat.
“Dengan segala hormat kepada Schmidt, data tidak mendukung interpretasinya tentang apa yang terjadi di Google,” kata dia.
Google sebenarnya, lanjut dia, adalah pionir dalam teknologi yang menjadi dasar ChatGPT. Pada 2017, para peneliti Google menulis makalah yang menjelaskan teknologi di balik model bahasa besar.
Masalah sebenarnya di Google bukanlah work from home (WFH), melainkan birokrasi yang berlebihan. Ketika pertama kali dirinya bergabung, Google memiliki sekitar 30.000 karyawan.
“Ketika saya meninggalkan Google untuk bergabung dengan Slack, jumlah karyawan sudah mencapai sekitar 135.000. Saya merasa Google telah berubah dari perusahaan teknologi yang bergerak cepat menjadi seperti departemen pemerintahan yang lamban,” ujarnya.
Bahkan, menurutnya, banyak koleganya menduduki posisi manajer di Google yang masih bekerja di sana merasa bahwa mereka kehilangan kemampuan untuk menjadi manajer produk yang sesungguhnya.
“Ini karena terlalu banyak birokrasi,” terang dia.
Kata Thibodeau, Schmidt hanya menggunakan WFH sebagai kambing hitam. Lihat saja Nvidia—CEO Jensen Huang mengatakan dia senang karyawannya bekerja dari rumah selama mereka tetap produktif. Nvidia sekarang menjadi salah satu perusahaan paling berharga di Silicon Valley.
“Banyak mantan dan karyawan Google yang saya ajak bicara merasa bahwa komentar Schmidt sensitif dan tidak produktif, serta mereka khawatir karena merasa bahwa orang-orang di tingkat eksekutif mungkin akan menganggapnya serius,” ungkap dia.