Kisah Larry Page, Pendiri Google Pernah Pecat Semua Manajer tapi Akhirnya Tersingkir Sendiri
Larry Page pernah muak dengan birokrasi Google. Ia memecat semua manajer proyek, sebelum akhirnya ia sendiri yang tersingkir.
Suatu sore di bulan Juli 2001, suasana kantor Google yang masih sederhana mendadak berubah tegang.
Larry Page, pendiri sekaligus CEO berusia 28 tahun, baru saja mengambil keputusan yang mengejutkan. Ia memecat semua manajer proyek di perusahaannya.
Mengutip Business Insider, Rabu (20/8), keputusan itu bukan datang tiba-tiba. Ini gara-garanya Google mulai berkembang pesat.
Jutaan orang mulai menggunakan mesin pencari ini, investor berdatangan, dan karyawan bertambah hingga 400 orang.
Seiring pertumbuhan, Google juga menambahkan lapisan manajer proyek yang bertugas mengatur jadwal, tenggat, hingga prioritas kerja para insinyur.
Page Muak dengan Birokrasi Rumit
Sayangnya, Page justru muak dengan struktur baru itu. Baginya, Google hanya merekrut insinyur paling berbakat di dunia, sehingga lapisan manajer hanyalah penghalang.
Ia bahkan curiga, para manajer proyek sengaja menjauhkan para insinyur dari ide-ide penting yang ia anggap pribadi, seperti proyek ambisius memindai seluruh buku di dunia agar bisa dicari secara daring.
Karena itulah Page memutuskan langkah ekstrem yakni seluruh insinyur hanya akan melapor kepada satu orang, Wayne Rosing, Vice President (VP) bidang teknik yang baru direkrutnya.
Rosing kemudian akan langsung melapor kepada Page. Dengan demikian, semua manajer proyek resmi kehilangan pekerjaannya.
Ditentang Eksekutif
Banyak yang menentang keputusan ini. Stacey Sullivan, Head of Human Resources Development (HRD) Google kala itu, terang-terangan menyebut ide Page “gila.” Ia mengingatkan, karyawan tetap butuh sosok yang bisa menyelesaikan masalah sehari-hari.
Eric Schmidt, yang baru masuk sebagai chairman Google, serta Bill Campbell, pelatih eksekutif Page yang dijuluki “Coach,” juga berusaha menahannya. Campbell bahkan sampai membawa para insinyur ke hadapan Page satu per satu.
Tujuannya hanya untuk membuktikan bahwa mereka sebenarnya lebih nyaman bila memiliki manajer. Meski begitu, Page tetap bersikeras. Ia menunjuk Rosing untuk menyampaikan keputusan bersejarah itu.
Pecat Manajer
Sore hari, sekitar 130 insinyur berkumpul di kantor Google yang saat itu masih dihiasi sofa bekas dan perabot murah dari perusahaan rintisan yang bangkrut.
Di hadapan mereka, Rosing yang berkacamata menyampaikan kabar pahit. Mulai hari itu, seluruh insinyur akan melapor kepadanya, dan semua manajer proyek resmi diberhentikan.
Namun, para manajer proyek yang tadinya hendak “disingkirkan” Page ternyata tidak benar-benar kehilangan peran. Mereka justru dipindahkan ke organisasi operasional Google yang saat itu sedang tumbuh.
Akibatnya, reorganisasi radikal yang digagas Page tidak bertahan lama. Perlahan, Google kembali merekrut manajer proyek. Tak lama berselang, pada Agustus 2001, Eric Schmidt resmi menjabat sebagai CEO Google.
Masa Pahit Larry Page
Bagi Page, momen itu menjadi masa yang pahit. Ia merasa terpinggirkan dari perusahaannya sendiri. Dalam banyak hal, Page adalah “Steve Jobs-nya Google.”Seperti Jobs yang pernah diusir oleh investor Apple, Page pun dipaksa oleh investor Google untuk menerima kehadiran CEO lain.
Keinginannya diabaikan, dan posisinya sebagai pengendali utama seakan terampas. Sejak itu, Page menjalani semacam masa pengasingan, jauh dari sorotan utama. Namun, seperti halnya Jobs, pengasingan panjang itu justru membuat Page lebih matang.
Ia mulai memahami bukan hanya kekuatan yang dimilikinya, tetapi juga kelemahannya. Dan ketika akhirnya ia kembali memegang kendali, Page hadir dengan ambisi yang jauh lebih besar dan tekad yang membara.
FAQ tentang Kisah Larry Page dan Google
1. Mengapa Larry Page memecat semua manajer proyek Google pada 2001?
Larry Page merasa birokrasi di Google semakin rumit dan menghambat kreativitas. Ia percaya insinyur Google sudah cukup berbakat untuk bekerja tanpa pengawasan berlapis.
2. Apa alasan utama Larry Page menolak sistem manajerial di Google?
Page menganggap manajer proyek justru menjauhkan insinyur dari ide-ide pentingnya, seperti proyek ambisius memindai seluruh buku di dunia agar bisa dicari secara daring.
3. Siapa Wayne Rosing dan apa perannya dalam reorganisasi Google?
Wayne Rosing adalah Vice President bidang teknik yang ditunjuk Page untuk menjadi atasan langsung seluruh insinyur, menggantikan peran para manajer proyek.
4. Bagaimana reaksi internal Google terhadap keputusan Page?
Banyak pihak menentang, termasuk Stacey Sullivan (Head of HR), Eric Schmidt (chairman), dan Bill Campbell (pelatih eksekutif). Mereka menilai manajer tetap diperlukan untuk menjaga arah tim.
5. Apa dampak jangka panjang dari keputusan kontroversial ini terhadap Larry Page?
Reorganisasi tersebut tidak bertahan lama. Google kembali mempekerjakan manajer proyek, dan Eric Schmidt diangkat sebagai CEO. Page sempat tersingkir, tetapi seperti Steve Jobs, masa “pengasingan” itu membuatnya lebih matang hingga akhirnya kembali dengan ambisi besar.