Sebuah Iklan Provokatif Bikin Warga Geram, Tulisannya Begini
Startup AI Artisan mendapat kritik tajam setelah memasang iklan kontroversial bertuliskan "Stop Hiring Humans".
Sebuah startup AI bernama Artisan memicu kemarahan publik San Francisco setelah menyebarkan kampanye iklan bertuliskan "Stop Hiring Humans." Pesan ini tersebar melalui berbagai papan reklame besar yang menampilkan sosok wanita virtual bernama "Ava," salah satu persona AI Artisan.
Mengutip Futurism, Selasa (17/12), reaksi publik terhadap iklan ini langsung membanjiri media sosial. Banyak warganet mengecamnya sebagai simbol ketidakpekaan di tengah krisis ekonomi dan tunawisma yang masih melanda San Francisco. Sebuah foto yang viral bahkan menunjukkan pria lusuh berdiri di dekat poster tersebut, menciptakan kontras yang menyakitkan.
Beberapa komentar menyebut iklan Artisan sebagai "mimpi buruk distopia" dan "cerminan suram masa depan manusia." Salah satu pengguna X (dulu Twitter) menyindir, "WTF yang kita lakukan sebagai spesies?"
Meski menuai kecaman, CEO Artisan, Jaspar Carmichael-Jack, mengaku bahwa iklan ini memang sengaja dibuat provokatif. "Kami ingin menarik perhatian, dan Anda tidak bisa melakukannya dengan pesan yang membosankan," ujarnya kepada SFGate.
Carmichael-Jack juga menekankan bahwa ia sebenarnya tidak berniat menggantikan manusia sepenuhnya. "Kami mencintai manusia," katanya sambil tertawa. "Kami bahkan sedang merekrut banyak orang."
Meskipun kontroversial, strategi iklan ini berhasil meningkatkan kesadaran merek Artisan secara signifikan. "Kami melihat peningkatan penjualan yang gila-gilaan," ungkap Carmichael-Jack.
Namun, keberhasilan ini mengundang kritik lebih lanjut tentang niat sebenarnya industri teknologi dalam memanfaatkan AI. Bagi banyak pihak, iklan Artisan adalah pengingat brutal akan ancaman otomatisasi terhadap pekerjaan manusia.
Di tengah kemarahan publik, salah satu poster di halte bus telah dirusak oleh warga. Kejadian ini mencerminkan ketidakpuasan mendalam terhadap pesan yang dianggap melecehkan pekerja manusia di era AI.