Qualcomm vs MediaTek, Adu Cepat Kuasai Standarisasi 6G
Persaingan Qualcomm dan MediaTek menuju era 6G kian memanas, keduanya fokus kembangkan AI dan Hybrid Computing untuk jaringan masa depan.
Perlombaan menuju era 6G semakin memanas. Dua nama besar di industri chipset, Qualcomm dan MediaTek, kini berada di garis depan dalam pengembangan sekaligus standarisasi 6G. Meski keduanya rival di pasar chipset, kali ini mereka punya tujuan yang sama: membentuk masa depan teknologi jaringan generasi keenam.
Mengutip GizChina, Selasa (4/3), langkah serius ini diumumkan dalam ajang Mobile World Congress (MWC) 2025 di Barcelona. Qualcomm menegaskan komitmennya mengembangkan 6G, berkolaborasi dengan Nokia Bell Labs dan Rohde & Schwarz.
Fokus utama mereka adalah menyematkan kecerdasan buatan (AI) dalam arsitektur jaringan masa depan. Dengan protokol berbasis AI, jaringan 6G nantinya mampu belajar dan beradaptasi secara real-time demi efisiensi maksimal.
2025 Jadi Titik Awal Standarisasi 6G
Tak hanya Qualcomm, MediaTek juga optimistis bahwa tahun 2025 akan jadi tonggak awal standarisasi teknologi 6G. Di MWC 2025, Presiden MediaTek, Joe Chen, menampilkan sederet terobosan, termasuk hybrid computing, uji coba langsung broadband LEO NR-NTN, teknologi sub-band full duplex (SBFD), hingga modem terbaru M90 5G Advanced.
“6G bukan sekadar kecepatan, tapi bagaimana teknologi ini membawa dampak nyata ke kehidupan sehari-hari,” ujar Chen.
MediaTek Gandeng NVIDIA dan Intel
Untuk mempercepat pengembangan 6G, MediaTek menjalin kemitraan strategis dengan NVIDIA, Intel, dan G REIGNS. Kolaborasi ini mendukung pengembangan Hybrid Computing, yang menjadi komponen kunci infrastruktur 6G. Teknologi ini menggabungkan cloud device dengan jaringan akses radio (RAN), menciptakan konsep baru bernama edge cloud yang memperkuat performa koneksi 6G.
Salah satu inovasi unggulan MediaTek adalah sub-band full duplex (SBFD). Teknologi ini berfungsi memperluas jangkauan uplink sekaligus mengurangi latensi. SBFD dikembangkan bersama Keysight untuk mengatasi gangguan sinyal internal akibat posisi antena pemancar dan penerima yang berdekatan di smartphone.
Era Baru Konektivitas Global
Dengan semua gebrakan ini, Qualcomm dan MediaTek membuktikan keseriusan mereka menyongsong era baru konektivitas. Gabungan teknologi AI dan hybrid computing diharapkan menghadirkan jaringan yang lebih cepat, cerdas, efisien, sekaligus lebih adaptif menghadapi kebutuhan pengguna di masa depan.
Kedua raksasa chipset ini tak sekadar bersaing memperebutkan pangsa pasar, tapi juga berlomba menetapkan standar global yang akan menjadi fondasi jaringan 6G di seluruh dunia.
“6G bukan lagi sekadar impian. 2025 adalah awal dari revolusi nyata,” tegas Joe Chen menutup presentasinya di MWC 2025.