Pesan Penting Ilmuwan Harvard soal AI: Perlakukan seperti Teknologi Sebelumnya
Penggunaan AI harus dimulai seperti saat dulu menggunakan teknologi-teknologi sebelumnya, seperti telepon dan lainnya.
Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE), Totok Amin Soefijanto dan Profesor Harvard Claude Bruderlein Bahas AI di Cambridge, AS Cambridge-Profesor Claude Bruderlein menyarankan semua masyarakat memelajari AI.
"Jadikan AI alat untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan, tetapi jangan terlalu tergantung padanya," kata profesor dari Harvard Kennedy School of Government tersebut saat bertemu rektor IMDE Totok Amin Soefijanto pada Rabu malam (15/1) di Cambridge, AS.
Prof. Claude Bruderlein adalah Dosen Kesehatan Global di Harvard T. Chan School of Public Health dan Peneliti Senior di Harvard Humanitarian Initiative. Kata dia, penggunaan AI harus dimulai seperti saat dulu menggunakan teknologi-teknologi sebelumnya, seperti telepon dan lainnya.
Menurut pengamatannya, kelompok iptek akan menyambut AI dengan antusias, sedangkan kelompok ilmu sosial dan hukum akan sangat kritis. Namun, ujungnya nanti tetap yang menguasai AI yang akan mendapatkan keunggulan.
"Negara yang menguasai AI akan lebih baik daripada negara yang tidak memahami AI," katanya.
Bukan berarti AI akan mengalahkan manusia, tetapi menurut dosen mata kuliah Negosiasi Garis Depan dan AI di Harvard ini, penguasaan AI justru dimulai dari pemahaman kita atas keterbatasan AI.
Claude Bruderlein mencontohkan krisis dan perubahan iklim saat ini yang memerlukan perhatian Indonesia, karena banyak masalah tetapi dalam waktu bersamaan juga banyak peluang untuk berperan secara global.
AI dapat membantu mempercepat proses pemahaman masalah, sedangkan kita sebagai ahlinya dapat meneruskan pemahaman tadi ke dalam aksi nyata dan kebijakan yang tepat sasaran.
Bagi perusahaan, buat apa menggaji karyawan kalau AI dapat mengerjakannya dengan lebih cepat dan lebih baik. Makanya, menurut Claude, manusia perlu menjaga kapasitas dan daya pikirnya agar tidak "terserap" dan tergantung kepada AI.
"Pelajari keterbatasan AI, agar kita memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI," kata Claude yang pernah beberapa kali memberikan pelatihan perundingan di wilayah konflik di Indonesia itu.
"Tantangan Indonesia ke depan adalah membuat anak didik tetap berfikir kritis dan kreatif, agar tidak terlalu bergantung kepada AI atau teknologi apapun," kata Totok.