Akademisi: Pembatasan AI di Pendidikan Bukan Solusi Utama, Literasi AI Kunci Daya Saing Global
Akademisi IAHN Mpu Kuturan Singaraja menilai pembatasan AI di pendidikan bukan solusi utama. Literasi AI pendidikan justru krusial agar siswa tidak tertinggal dalam kompetensi global dan siap menghadapi dunia kerja.
Singaraja, Bali – Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, I Komang Agus Widiantara, menyoroti kebijakan pembatasan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pembatasan AI secara total bukanlah solusi utama untuk membangun pendidikan yang unggul dan berdaya saing global.
Dalam pernyataannya di Singaraja, Bali, pada Sabtu (14/3), Widiantara menekankan bahwa di era transformasi digital yang bergerak cepat, literasi terhadap teknologi AI justru menjadi keterampilan dasar yang krusial bagi generasi muda. Ia berpendapat bahwa jika siswa tidak diperkenalkan dengan teknologi ini, mereka berpotensi mengalami ketertinggalan dalam kompetensi global.
Situasi ini menuntut pendekatan yang lebih seimbang dalam menyikapi penggunaan AI di sekolah, tidak hanya berfokus pada pembatasan. Pendidikan harus merancang strategi pemanfaatan AI secara edukatif, sekaligus menekankan pentingnya proses berpikir kritis.
Risiko Kesenjangan Kompetensi Global Tanpa Literasi AI Pendidikan
Jika siswa sama sekali tidak diperkenalkan dengan teknologi kecerdasan buatan, mereka berpotensi mengalami ketertinggalan dalam kompetensi global yang kini semakin menuntut kemampuan literasi digital dan kecerdasan buatan. Dunia kerja di masa depan diprediksi akan semakin bergantung pada teknologi AI, dengan berbagai sektor industri yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Penerapan pembatasan yang terlalu ketat di lingkungan sekolah juga dapat menimbulkan konsekuensi lain yang lebih berbahaya. Siswa mungkin tetap menggunakan AI secara diam-diam tanpa sepengetahuan guru atau pihak sekolah, sehingga penggunaan teknologi tersebut terjadi tanpa pengawasan dan tanpa pemahaman etika yang memadai dalam memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
Jika lembaga pendidikan sepenuhnya melarang penggunaan AI, sistem pendidikan berisiko terlepas dari realitas perkembangan sosial dan teknologi yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, peserta didik dapat mengalami kesenjangan keterampilan yang signifikan ketika memasuki dunia kerja, menghambat daya saing mereka.
Pendekatan Seimbang dan Pemanfaatan Edukatif AI
Situasi ini menuntut adanya pendekatan yang lebih seimbang dalam menyikapi penggunaan AI di lingkungan pendidikan. Sekolah tidak hanya perlu berfokus pada pembatasan penggunaan teknologi, tetapi juga merancang strategi pemanfaatan AI secara edukatif.
Widiantara menyarankan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi ide, media simulasi pembelajaran, maupun alat bantu eksplorasi konsep yang kompleks dalam berbagai bidang studi. Dengan demikian, teknologi ini menjadi pendukung yang memperkaya pengalaman belajar siswa.
Di sisi lain, sistem pembelajaran di sekolah juga perlu menekankan pentingnya proses berpikir daripada sekadar hasil akhir. Pendidikan seharusnya mendorong siswa untuk melakukan refleksi, menyusun argumentasi, serta mengembangkan kemampuan analitis yang kuat.
Dengan pendekatan ini, teknologi AI tidak menjadi pengganti proses berpikir, melainkan sebagai alat pendukung dalam memperkaya pengalaman belajar. Kemampuan berpikir kritis dan analitis tetap menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran.
Pentingnya Literasi AI Pendidikan yang Kritis dan Bertanggung Jawab
Upaya lain yang tidak kalah penting adalah merancang program literasi AI bagi siswa. Literasi ini mencakup pemahaman tentang cara kerja teknologi AI, potensi manfaatnya, serta risiko dan etika penggunaannya.
Widiantara menilai bahwa dengan literasi yang baik, siswa dapat menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab, bukan sekadar sebagai alat untuk memperoleh jawaban instan. Hal ini sejalan dengan perspektif komunikasi dan pendidikan, di mana tantangan utama bukan hanya mengatur penggunaan teknologi, tetapi juga mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan teknologi tersebut.
Pendidikan perlu membangun kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat, sementara kemampuan berpikir, nilai etika, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, teknologi tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana yang dapat memperkuat kualitas pendidikan.
Untuk saat ini, pembatasan penggunaan AI di sekolah memang masih diperlukan sebagai langkah awal dalam merespons disrupsi teknologi yang sangat cepat. Namun, dalam jangka panjang, pendekatan yang lebih efektif adalah mengembangkan pendidikan literasi AI yang kritis, etis, dan reflektif untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Sumber: AntaraNews