Perusahaan Teknologi China ini Ingin Terjemahkan Bahasa Hewan Pakai AI
Meski teknologi ini masih dalam tahap riset awal, Baidu menyebut minat terhadap paten tersebut sangat tinggi.
Perusahaan teknologi Baidu tengah mengembangkan sistem kecerdasan buatan yang diklaim mampu menerjemahkan suara, perilaku, dan sinyal biologis hewan menjadi bahasa manusia.
Langkah tersebut terungkap melalui pengajuan paten resmi kepada Administrasi Kekayaan Intelektual Nasional Tiongkok, yang menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk mendeteksi dan mengartikan emosi hewan seperti stres, lapar, atau kegembiraan.
Dalam dokumen paten yang dilaporkan media pemerintah, sistem tersebut akan memanfaatkan data suara hewan, pola gerakan, serta sinyal fisiologis seperti detak jantung atau suhu tubuh, lalu menganalisisnya melalui algoritma berbasis AI.
“Emosi yang terdeteksi akan dipetakan secara semantik ke dalam bentuk bahasa manusia,” ungkap Baidu dalam pernyataannya dikutip Futurism, Selasa (13/5).
Meski teknologi ini masih dalam tahap riset awal, Baidu menyebut minat terhadap paten tersebut sangat tinggi.
“Saat ini, sistem masih berada dalam tahap penelitian,” kata juru bicara perusahaan kepada TRT World.
Proyek ambisius ini bukan yang pertama di dunia. Organisasi seperti Project CETI dan Earth Species Project juga tengah mengembangkan sistem serupa, namun fokus mereka lebih pada mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba. Tantangan terbesar terletak pada ketersediaan data suara dan konteks sosial yang cukup untuk membentuk pemahaman yang akurat.
Inisiatif Baidu ini langsung memicu diskusi hangat di media sosial Tiongkok. Sebagian pengguna menyambutnya dengan antusias, membayangkan kemungkinan untuk berkomunikasi lebih baik dengan hewan peliharaan mereka.
Namun, kritik juga bermunculan. Beberapa pihak meragukan efektivitas teknologi ini di lapangan dan menyoroti risiko kesalahan interpretasi yang bisa berdampak buruk terhadap kesejahteraan hewan.
Pakar etika hewan mengingatkan bahwa menerjemahkan komunikasi spesies lain bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral manusia untuk memahami konteks biologis dan perilaku dengan hati-hati.
Dengan laju perkembangan AI yang kian pesat, ide berbicara dengan hewan tak lagi terdengar mustahil. Namun jalan menuju interaksi yang benar-benar dua arah antara manusia dan makhluk lain di planet ini masih panjang, dan butuh lebih dari sekadar algoritma.