Mengapa Kita Sering Bicara pada Hewan Peliharaan? Ini Penjelasan Menurut Sains
Ada alasan secara psikologi mengapa sebagian orang suka berbicara dengan binatang peliharaannya.
Banyak orang menganggap wajar bahkan lucu ketika pemilik hewan peliharaan berbicara pada anjing atau kucing mereka seolah benar-benar mengerti. Namun psikologi menunjukkan kebiasaan ini lebih dari sekadar perilaku menggemaskan.
Mengapa begitu? Mengutip CMU.fr, Selasa (1/7), para ahli menilai berbicara pada hewan peliharaan merupakan bentuk kebutuhan manusia untuk membangun ikatan emosional, lewat fenomena yang disebut anthropomorphism atau kecenderungan memberikan sifat manusia pada makhluk non-manusia.
Psikolog menjelaskan, saat seseorang berbicara pada hewan, sebenarnya ia sedang membangun “jembatan” emosional. Meski hewan tidak memahami makna kata-kata secara langsung, mereka merespons nada suara, ritme, dan intonasi yang akrab—mirip seperti cara manusia berbicara lembut pada bayi.
Pendekatan ini menciptakan ilusi percakapan sungguhan yang memuaskan kebutuhan akan koneksi emosional, sehingga membantu pemilik merasa lebih dekat dengan hewan peliharaannya.
Menurut psikolog Usman Ahmad, kebiasaan ini bisa membantu orang mengekspresikan emosi, melepaskan ketegangan, dan merasa lebih terhubung secara sosial.
Hewan peliharaan menjadi pendengar setia yang tidak menghakimi, memotong pembicaraan, atau mengkritik, sehingga menciptakan ruang aman untuk menumpahkan perasaan.
Popularitas animal-assisted therapy atau zootherapy juga mencerminkan pengakuan terhadap manfaat ini. Dalam terapi, hewan digunakan untuk membantu pasien mengekspresikan emosi, mengurangi stres, dan mendukung pemulihan kesehatan mental.
Keberadaan hewan memberikan dukungan emosional yang berbeda dari interaksi dengan manusia, yang kadang menuntut atau memicu kecemasan sosial.
Psikologi juga menyoroti pentingnya interaksi dengan hewan bagi anak-anak. Penelitian yang dipelopori psikolog Boris Levinson menunjukkan bahwa kehadiran hewan peliharaan dapat membantu anak-anak yang kesulitan bersosialisasi lebih mudah membuka diri.
Temuannya menjadi dasar berkembangnya terapi berbantuan hewan, yang terbukti mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kesejahteraan emosional pada anak.