Orang Tua Perlu Bijak Digital dalam Mendidik Gen Z dan Alpha di Era Serba Teknologi
Psikolog UGM menyoroti pentingnya **bijak digital orang tua** dalam membimbing Generasi Z dan Alpha yang mendominasi pengguna internet Indonesia, demi perkembangan anak yang lebih bermartabat.
Psikolog Universitas Gajah Mada (UGM), Tina Afiatin, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengadopsi sikap bijak digital saat mendidik generasi Z dan Alpha. Hal ini menjadi krusial mengingat dominasi kedua generasi tersebut dalam penggunaan internet di Indonesia, dengan total mencapai 229,4 juta jiwa.
Pernyataan ini disampaikan Tina Afiatin dalam keterangan resmi di Jakarta pada Jumat, 9 Januari. Ia menyoroti bahwa orang tua tidak boleh resisten terhadap perubahan teknologi (digital immigrant) maupun naif terhadap risikonya (digital native), melainkan harus bijaksana dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan.
Transformasi digital membawa manfaat signifikan, namun juga menyimpan risiko yang memerlukan pengelolaan bijak. Oleh karena itu, sinergi ekosistem yang terencana dan berkelanjutan antara keluarga, sekolah, masyarakat, serta media sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan positif.
Pentingnya Bijak Digital di Tengah Dominasi Internet
Penggunaan internet di Indonesia telah mencapai 80,66 persen atau sekitar 229,4 juta jiwa pada tahun 2025, berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Mayoritas pengguna ini didominasi oleh Generasi Z, Generasi Y, dan Generasi Alpha, menunjukkan betapa digitalnya kehidupan mereka.
Tina Afiatin menegaskan bahwa dalam mendidik generasi yang tumbuh di era digital, orang tua harus menjadi individu yang bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Sikap ini berbeda dari sekadar menjadi "digital immigrant" yang menolak perubahan atau "digital native" yang kurang waspada terhadap potensi bahaya.
Keseimbangan antara pemanfaatan teknologi untuk kemajuan dan kewaspadaan terhadap risiko menjadi kunci utama. Dengan demikian, orang tua dapat membimbing anak-anak mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang bermartabat di tengah gempuran informasi digital.
Transformasi digital memang menawarkan banyak peluang luar biasa, namun tanpa pengelolaan yang bijak, potensi risiko dapat muncul. Oleh karena itu, peran aktif orang tua dalam memahami dan mengelola lingkungan digital anak sangat diperlukan.
Tantangan Era Digital dan Peran Strategis Keluarga
Era digital menghadirkan berbagai tantangan baru dalam perkembangan individu, mulai dari perubahan pola perkembangan kognitif hingga dinamika sosio-emosional. Proses pembentukan identitas diri anak-anak juga sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan dunia maya.
Selain itu, paparan terhadap konten tidak sehat dan berbagai risiko online menjadi ancaman serius yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan karakter anak. Hal ini menuntut kewaspadaan ekstra dari lingkungan terdekat anak.
Dalam konteks ini, keluarga memegang peranan fundamental sebagai basis utama perkembangan individu. Tina Afiatin menekankan perlunya transformasi pola pengasuhan dari pendekatan kontrol yang kaku menuju kolaborasi yang lebih terbuka dan adaptif.
Penguatan resiliensi keluarga dan peran strategis ayah dalam pengasuhan digital juga menjadi faktor penting. Keterlibatan aktif kedua orang tua akan menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan aman bagi anak-anak dalam menjelajahi dunia digital.
Sinergi Ekosistem untuk Pengasuhan Digital Berkelanjutan
Untuk menghadapi kompleksitas era digital, diperlukan sinergi eko-sistemik yang terencana, berkelanjutan, dan saling menguatkan. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan media menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan digital yang kondusif.
Komitmen ini sejalan dengan upaya Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dalam memperkuat fungsi keluarga. Berbagai program pembangunan keluarga dan pengasuhan berbasis siklus kehidupan terus digalakkan untuk mendukung tujuan ini.
Tina Afiatin menegaskan bahwa sinergi bukanlah tentang menyeragamkan peran, melainkan menyatukan berbagai pihak dengan tetap menjaga karakter dan otonomi masing-masing. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap elemen ekosistem dapat berkontribusi secara optimal.
Dengan adanya kerja sama yang solid, diharapkan generasi Z dan Alpha dapat tumbuh dan berkembang secara positif di tengah kemajuan teknologi. Mereka akan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan menghindari potensi risiko yang ada.
Sumber: AntaraNews