Psikolog RSJD Kaltim Tekankan Konsistensi Jaga Kesehatan Jiwa, Bukan Resolusi Semata

Psikolog RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda menyoroti pentingnya konsistensi jaga kesehatan jiwa melalui langkah kecil, bukan hanya resolusi besar yang rentan gagal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Psikolog RSJD Kaltim Tekankan Konsistensi Jaga Kesehatan Jiwa, Bukan Resolusi Semata
Psikolog RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda menyoroti pentingnya konsistensi jaga kesehatan jiwa melalui langkah kecil, bukan hanya resolusi besar yang rentan gagal. (AntaraNews)

Psikolog Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, Raden Roro Rani Meita Pratiwi, baru-baru ini menyoroti pentingnya pendekatan yang berbeda dalam menjaga kesehatan jiwa masyarakat. Ia menekankan bahwa konsistensi perilaku jauh lebih krusial dibandingkan sekadar menetapkan resolusi besar di awal tahun. Pendekatan ini diharapkan dapat membawa perubahan positif yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi individu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Rani Meita Pratiwi di Samarinda pada hari Sabtu, 17 Januari. Menurutnya, resolusi seringkali menjebak seseorang pada target perubahan drastis yang harus dicapai dalam waktu singkat, sehingga justru menimbulkan tekanan mental tersendiri. Hal ini berbeda dengan konsistensi yang mendorong langkah-langkah kecil namun dilakukan secara rutin.

Fokus pada konsistensi tidak hanya mengurangi beban ekspektasi yang tidak realistis, tetapi juga menumbuhkan motivasi yang lebih stabil. Dengan demikian, individu dapat lebih menghargai proses, mendorong pertumbuhan pribadi, dan membangun kedisiplinan diri dalam jangka panjang untuk mencapai kesehatan jiwa yang optimal.

Raden Roro Rani Meita Pratiwi menjelaskan bahwa pola pikir yang terlalu mengandalkan resolusi besar cenderung memiliki motivasi tinggi di awal, namun mudah menurun seiring berjalannya waktu. Resolusi seringkali menuntut perubahan drastis dalam waktu singkat, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan mental tersendiri ketika target tidak tercapai. Hal ini membuat individu rentan merasa gagal dan kehilangan semangat untuk melanjutkan upaya menjaga kesehatan jiwa.

Sebaliknya, konsistensi melibatkan serangkaian langkah-langkah kecil yang dilakukan secara berulang setiap hari. Pendekatan ini menumbuhkan motivasi yang jauh lebih stabil dan berkelanjutan, karena fokus utamanya adalah pada proses dan kemajuan bertahap. Dengan konsistensi, individu dapat membangun kebiasaan positif tanpa merasa terbebani oleh ekspektasi yang terlalu tinggi.

Pendekatan konsistensi dinilai lebih menyehatkan mental karena mendorong penghargaan terhadap proses, pertumbuhan pribadi, serta keinginan untuk terus belajar dan beradaptasi. Ini juga melatih ketekunan dan kedisiplinan diri, yang merupakan fondasi penting dalam menjaga kesehatan jiwa jangka panjang. Masyarakat perlu mengubah persepsi bahwa pencapaian kesehatan mental harus selalu dimulai dengan perubahan drastis di awal tahun.

Selain membahas metode pencapaian, Rani Meita Pratiwi juga menyoroti berbagai miskonsepsi yang masih beredar luas di masyarakat mengenai konsep sehat jiwa. Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah anggapan bahwa seseorang yang sehat jiwanya harus selalu merasa bahagia dan tidak pernah merasakan emosi negatif. Padahal, merasakan berbagai spektrum emosi, termasuk kesedihan atau kekecewaan, adalah bagian alami dari pengalaman manusia.

Masyarakat juga sering mengira bahwa indikator kesehatan mental adalah ketiadaan masalah hidup, tingkat produktivitas yang selalu tinggi, atau memiliki penghasilan yang mapan. Faktor eksternal seperti keluarga harmonis, pasangan yang selalu memahami, dan lingkaran pertemanan yang sehat juga kerap dijadikan tolok ukur mutlak. Pemahaman semacam ini dapat menciptakan tekanan tidak realistis dan rasa cemas jika realitas tidak sesuai ekspektasi.

Rani menegaskan bahwa kesehatan jiwa yang sejati justru dimulai dari kesadaran penuh seseorang akan kelemahan, kelebihan, potensi diri, harapan, hingga penerimaan terhadap masa lalu. Kuncinya terletak pada kemampuan individu untuk beradaptasi dengan situasi sulit dan menghadapi tantangan secara efektif, tanpa kehilangan fungsi sosialnya. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada standar kesempurnaan semu yang justru dapat memicu masalah mental.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi