Mengapa Awan Berbentuk seperti Naga, Piring Terbang, atau Mata? Sains Beri Penjelasannya
Apa yang membuat awan dapat berbentuk seperti naga, piring terbang, atau bahkan mata manusia? Berikut adalah penjelasan ilmiahnya.
Kamu mungkin pernah memperhatikan awan yang memiliki bentuk unik atau menyerupai karakter tertentu, seperti benda atau hewan. Fenomena ini bahkan menjadi viral di media sosial setelah seorang fotografer berhasil menangkap gambar awan yang menyerupai kepala naga dan mata manusia.
Selain itu, ada juga awan yang tampak mirip dengan piring terbang. Pertanyaannya, apa yang membuat awan memiliki bentuk yang demikian? Untuk memahami proses pembentukan dan bentuk awan, penting untuk mengetahui dasar-dasar pembentukannya.
Proses ini dimulai saat udara hangat yang mengandung uap air naik ke atmosfer dan mengalami pendinginan. Ketika suhu menurun, uap air mengalami kondensasi, yang menyebabkan perubahan menjadi tetesan air kecil atau kristal es. Jika partikel-partikel ini berkumpul dalam jumlah yang cukup banyak, maka akan terbentuklah gumpalan awan yang dapat kita lihat dari permukaan Bumi.
Mengutip dari Popular Science, Jumat (13/6), para ilmuwan mengelompokkan awan menjadi sepuluh jenis utama berdasarkan bentuk dan ketinggian mereka di langit. Sebagai contoh, awan kumulus yang berasal dari bahasa Latin "heap" berarti tumpukan, terlihat seperti gumpalan kapas. Di sisi lain, awan stratus, yang berarti "lapisan", membentang seperti selimut, sedangkan awan sirus, dari bahasa Latin untuk "rambut", tampak seperti helai bulu halus.
Awan yang memiliki struktur lebih rumit
Nama-nama dasar awan dapat digabungkan untuk menjelaskan jenis awan yang lebih rumit, contohnya sirokumulus. Awalan "alto" yang berarti "tinggi" digunakan untuk membedakan awan yang berada di tingkat menengah dari awan yang berada di tingkat bawah, seperti altostratus dan stratus. Jarak awan dari permukaan Bumi sangat memengaruhi penampilannya, di mana suhu udara cenderung menurun seiring dengan peningkatan ketinggian.
Oleh karena itu, awan yang terbentuk lebih dekat dengan permukaan Bumi umumnya terdiri dari tetesan air, sedangkan awan yang berada di ketinggian lebih tinggi biasanya tersusun dari kristal es. Awan yang berada di tingkat menengah sering kali mengandung campuran antara keduanya.
Perbedaan dalam komposisi ini berpengaruh pada penampilan awan. Awan yang berbasis air, seperti kumulus, biasanya memiliki tepi yang jelas dan tampak solid. Di sisi lain, awan yang terdiri dari es, seperti sirus, umumnya lebih transparan dan menyebar.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih mudah mengidentifikasi berbagai jenis awan yang ada di langit. Setiap jenis awan memberikan informasi penting mengenai kondisi cuaca yang mungkin akan datang, sehingga dapat membantu kita dalam merencanakan aktivitas di luar ruangan.
Pentingnya pergerakan udara
Pergerakan udara memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan awan. Ketika udara yang hangat dan lembap naik, melalui proses yang disebut konveksi, ia akan mengalami pendinginan dan kondensasi, yang pada akhirnya membentuk awan. Menariknya, selama proses pengembunan uap air, panas dilepaskan, yang dapat menghangatkan udara di sekitarnya.
Udara yang lebih hangat menjadi kurang padat dibandingkan dengan udara dingin di sekelilingnya, sehingga memudahkan untuk terangkat ke atas. Peningkatan daya apung ini membuat massa udara naik dengan lebih cepat.
"Arus udara ke atas ini terkait dengan gelombang, menghasilkan awan kumuliform yang sering kita bayangkan ketika memikirkan awan," ujar Bjorn Stevens, seorang ilmuwan iklim dan direktur pelaksana di Max Planck Institute for Meteorology di Hamburg, Jerman, kepada Popular Science.
Jika udara di dekat permukaan Bumi hangat dan lembap, sementara di ketinggian jauh lebih dingin, awan kumulus yang terbentuk dalam cuaca cerah dapat dengan cepat berkembang menjadi kumulonimbus yang menjulang tinggi, yaitu jenis awan yang sering membawa badai petir.
Di sisi lain, awan sirus yang terkenal dengan penampilannya yang tipis dan berbulu terbentuk akibat angin kencang di lapisan atas atmosfer. Angin ini berperan dalam memutar dan menyebarkan kristal es yang membentuk awan sirus menjadi untaian-untaian halus.
"Bentuknya juga sangat bergantung pada cahaya. Awan adalah 'dispersi,' yang berarti terdiri dari banyak partikel tersuspensi di udara---lebih mirip kabut daripada benda padat. Mereka tidak memiliki awal atau akhir yang jelas," jelas Stevens.
Bentuk awan dapat digunakan untuk meramalkan cuaca
Yang kita anggap sebagai batas awan sebenarnya adalah area di mana sinar matahari dipantulkan oleh tetesan air atau kristal es yang ada di dalamnya. Kadang-kadang, hamburan cahaya ini muncul di dekat permukaan awan, sementara di lain waktu, ia berasal dari bagian yang lebih dalam dalam kabut, sehingga batas awan sering terlihat samar atau berubah-ubah.
Selain itu, karakteristik fisik suatu wilayah, atau yang disebut 'topografi,' juga dapat mempengaruhi bentuk awan yang terbentuk. Dalam sebuah artikel yang dimuat di The Conversation, Ross Lazear, seorang pengajar di bidang Ilmu Atmosfer dan Lingkungan di University at Albany, State University of New York, menguraikan bagaimana aliran udara yang melewati pegunungan menciptakan riak di atmosfer.
Fenomena ini mirip dengan batu yang mengganggu aliran air di sungai, dan dapat menyebabkan terbentuknya awan lenticular yang mirip dengan piring terbang. Setiap jenis awan memiliki cara pembentukan yang spesifik dan alasan tertentu di baliknya. Bagi para ahli meteorologi, bentuk-bentuk awan ini bukan hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga memberikan informasi penting untuk meramalkan cuaca di masa mendatang.