Beruntung Masih Ada Kucing Hitam, Kalau tidak Bisa Bahaya
Seekor kucing peliharaan kembali berperan sebagai pahlawan di laboratorium.
Penemuan ilmiah tidak selalu berasal dari fasilitas laboratorium yang modern atau peralatan canggih. Terkadang, hewan peliharaan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendorong penelitian ilmiah ke arah yang tidak terduga.
Mengutip Popular Science, Jumat (18/7), seekor kucing bernama Pepper telah membantu tim ilmuwan dalam menemukan virus baru yang menginfeksi mamalia. Kucing peliharaan berwarna hitam ini ternyata bukan kali pertama berperan dalam penemuan virus.
Sebelumnya, Pepper juga pernah berkontribusi dalam mendeteksi virus jenis jeilongvirus untuk pertama kali di Amerika Serikat, setelah menjatuhkan seekor tikus mati di depan pemiliknya. Pepper bukanlah kucing biasa, ia tinggal bersama John Lednicky, seorang ahli virologi dari University of Florida College of Public Health yang telah lama meneliti virus pada mamalia.
Kontribusi terbaru Pepper dimulai ketika ia membawa pulang bangkai seekor celurut, mamalia kecil yang khas dari wilayah Everglades, Florida. Alih-alih menguburkan bangkai tersebut, Lednicky melihat adanya potensi ilmiah dan membawanya ke laboratorium untuk diteliti lebih lanjut.
Setelah melalui berbagai pengujian, ditemukan bahwa celurut itu membawa strain virus baru dari genus orthoreovirus, yang diketahui dapat menginfeksi berbagai jenis mamalia, termasuk manusia. Penemuan ini menunjukkan betapa pentingnya peran hewan peliharaan dalam dunia penelitian ilmiah.
Dampak Potensial terhadap Manusia
Orthoreovirus telah diketahui menginfeksi berbagai spesies mamalia, termasuk rusa berekor putih, kelelawar, dan bahkan manusia. Meskipun keberadaannya sudah lama teridentifikasi, dampak infeksi virus ini pada manusia masih belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan.
Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, virus ini telah dikaitkan dengan penyakit serius seperti ensefalitis (radang otak), meningitis (radang selaput otak), serta gangguan pencernaan yang cukup serius pada anak-anak.
"Kita harus memberi perhatian lebih pada orthoreovirus dan mengetahui cara mendeteksinya dengan cepat," ungkap Lednicky dalam pernyataan resminya yang dirilis bersamaan dengan hasil studi.
Di sisi lain, Emily DeRuyter, seorang kandidat Ph.D. dari University of Florida, menjelaskan bahwa orthoreovirus awalnya dianggap sebagai orphan virus, yaitu virus yang ditemukan dalam tubuh mamalia, termasuk manusia.
Meskipun demikian, virus ini sebelumnya tidak dikaitkan dengan penyakit. Namun, penelitian terbaru menunjukkan adanya potensi ancaman klinis yang serius terhadap sistem pernapasan, saraf pusat, serta saluran pencernaan.
Penemuan virus sebelumnya dilakukan oleh Pepper
Ini bukanlah pengalaman pertama Pepper yang mencetak sejarah dalam bidang virologi. Pada tahun 2024, kucing peliharaan tersebut pernah membawa seekor tikus mati ke dalam rumahnya, dan penemuan ini ternyata memiliki arti penting.
Setelah dilakukan analisis di laboratorium, tikus yang dibawa pulang oleh Pepper terbukti mengandung virus jenis jeilongvirus. Virus ini sebelumnya hanya ditemukan di benua Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa.
Selanjutnya, virus baru tersebut dinamai Gainesville rodent jeilongvirus 1. Yang mengejutkan, virus ini memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang biak dalam berbagai jenis sel, termasuk sel manusia, hewan pengerat, serta primata non-manusia.
Menurut Lednicky, karakteristik unik virus ini menjadikannya sebagai kandidat yang kuat untuk fenomena spillover, yaitu peristiwa di mana virus dapat menular dari satu spesies ke spesies lainnya, termasuk kepada manusia.
"Kami percaya kalau kita mencari, kita pasti akan menemukan. Dan itulah alasan kenapa virus-virus baru terus bermunculan," ujar Lednicky.
Dengan kata lain, potensi penularan virus ini menjadi perhatian serius bagi para ilmuwan dan peneliti. Penemuan semacam ini menunjukkan betapa pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memahami dan mengantisipasi ancaman yang mungkin muncul di masa depan.
Risiko dan Penelitian Selanjutnya
Penelitian juga mengungkap adanya dua jenis orthoreovirus yang dapat menginfeksi sel secara bersamaan, mirip dengan cara kerja virus influenza. Metode ini memungkinkan terjadinya pencampuran genetik, yang dapat menghasilkan varian baru yang sebelumnya tidak dikenal.
Virus terbaru yang berhasil diidentifikasi oleh Pepper kini resmi dinamakan Gainesville shrew mammalian orthoreovirus type 3 strain UF-1. Semua urutan genetik dari virus tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Microbiology Resource Announcements.
Menariknya, Pepper tidak menunjukkan gejala sakit apapun. Lednicky menekankan pentingnya penelitian terhadap hewan liar, bahkan jika hewan tersebut ditemukan dalam kondisi mati. "Jika menemukan hewan mati, kenapa tidak diuji saja? Banyak informasi bisa kita gali dari situ," ungkapnya.
Selanjutnya, penelitian akan lebih difokuskan pada prevalensi virus ini di kalangan manusia dan tingkat keparahan yang mungkin ditimbulkan. Ini termasuk potensi ancaman global dari virus baru yang awalnya teridentifikasi melalui seekor kucing rumahan.