Kualitas AI DeepSeek Makin Dekati OpenAI dan Gemini
DeepSeek AI tiba-tiba merilis model AI terbaru yang hampir mirip dengan ChatGPT dan Gemini.
Tanpa gembar-gembor, startup China DeepSeek kembali mencuri perhatian dunia teknologi. Mereka diam-diam merilis versi terbaru dari model AI reasoning mereka, DeepSeek R1, melalui platform Hugging Face—tanpa pengumuman resmi apa pun. Namun, jejaknya langsung terdeteksi oleh komunitas riset global.
Langkah ini mengulang strategi peluncuran model sebelumnya, yang juga dirilis nyaris tanpa publikasi namun sukses besar. DeepSeek R1 generasi pertama sempat membuat geger karena kinerjanya melampaui model dari raksasa-raksasa seperti Meta dan bahkan OpenAI—semuanya dengan biaya dan waktu pengembangan yang jauh lebih rendah. Efeknya: nilai pasar perusahaan-perusahaan AI Amerika sempat anjlok, termasuk Nvidia yang menjadi tulang punggung industri chip AI.
Mengutip CNBC, Jumat (30/5), kini, versi terbaru DeepSeek R1 hadir dengan sejumlah peningkatan signifikan. Menurut Adina Yakefu, peneliti AI di Hugging Face, “Model terbaru DeepSeek lebih tajam dalam hal reasoning, lebih kuat dalam soal matematika dan coding, dan kian mendekati performa model top-tier seperti Gemini dan OpenAI O3.”
Model reasoning seperti R1 memungkinkan AI menyelesaikan tugas-tugas kompleks dengan alur berpikir logis yang berlapis. Ini sangat berbeda dengan chatbot generatif biasa yang sekadar menghasilkan teks.
Peningkatan utama terletak pada efisiensi inferensi (proses berpikir AI) dan pengurangan “halusinasi” — kondisi ketika AI menyajikan informasi salah seolah-olah benar. Yakefu menekankan bahwa peningkatan ini menunjukkan DeepSeek bukan sekadar mengejar ketertinggalan, tapi sudah benar-benar bersaing di barisan terdepan.
Model R1 terbaru kini menempati posisi tepat di bawah OpenAI O4-mini dan O3 dalam situs benchmark LiveCodeBench yang menguji kemampuan reasoning model AI dari berbagai vendor global.
Kebangkitan DeepSeek menjadi simbol bagaimana perusahaan AI Tiongkok terus berkembang meski digempur pembatasan ekspor chip dari Amerika Serikat. Bahkan di tengah tekanan itu, perusahaan-perusahaan seperti Baidu dan Tencent juga mengungkap strategi efisiensi model AI mereka agar bisa tetap kompetitif meski akses ke chip kelas atas dibatasi.
CEO Nvidia Jensen Huang turut menyuarakan kritik keras terhadap kebijakan ekspor AS. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa asumsi AS soal ketidakmampuan China membuat chip AI adalah kekeliruan besar.
“Pertanyaannya bukan apakah China akan punya AI. Mereka sudah punya,” tegas Huang.
Sementara itu, DeepSeek justru menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya tak menghalangi pencapaian. Dalam waktu singkat dan dengan biaya minimal, mereka mampu mengembangkan model reasoning canggih yang mampu bersaing dengan produk terbaik dari Silicon Valley.
Dengan peluncuran diam-diam ini, DeepSeek kembali memperkuat posisinya sebagai ancaman nyata bagi dominasi AI global yang selama ini dipegang perusahaan AS. Perang AI kini tak lagi hanya soal teknologi, tapi juga strategi, efisiensi, dan kecepatan adaptasi.