Internet Berbasis Serat Optik Semakin Krusial
Infrastruktur digital berbasis serat optik dinilai semakin krusial bagi suksesnya transformasi digital nasional.
Menyusul pertumbuhan pesat kebutuhan internet, layanan cloud, hingga kecerdasan buatan (AI), pembangunan infrastruktur digital berbasis serat optik dinilai semakin krusial bagi suksesnya transformasi digital nasional.
Direktur Strategi & Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI), Denny Setiawan, menekankan pentingnya arsitektur digital yang terintegrasi, mulai dari pusat data, backbone, kabel laut (SKKL), hingga jaringan serat optik yang menjangkau rumah dan titik layanan publik.
“Pembangunan digital harus mencakup jalur infrastruktur menyeluruh, termasuk rute-rute kritis seperti PLN, jalan, dan rel,” ujarnya di Jakarta, Kamis (8/5).
Menurut laporan Telecom Review Asia, pasar serat optik Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 15,9% hingga 2028, memperlihatkan peluang besar investasi di sektor ini.
Sementara itu, Teguh Prasetya, Direktur Utama Alita, menyatakan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci.
“Kami percaya inisiatif ini akan membuat industri lebih siap menyongsong target digitalisasi nasional. Alita sendiri sejak 2020 telah menerapkan sistem manajemen jaringan ONMSi yang terbukti meningkatkan efisiensi operasional,” ujarnya.
Implementasi ONMSi disebut berhasil menurunkan potensi denda layanan hingga 98%, menghemat biaya perawatan preventif 22%, serta meningkatkan efisiensi penanganan gangguan sebesar 56%.
Dukungan juga datang dari Vice President Sales Viavi, Rajesh Rao. Ia menyebut Viavi berkomitmen menyediakan solusi uji dan pemantauan kualitas jaringan fiber berstandar tinggi untuk mempercepat konektivitas dan memperkuat keandalan jaringan.
“Kami mendukung visi Indonesia sebagai negara digital yang maju,” katanya.
Namun, tantangan juga tetap ada. Ketua Umum APJATEL Jerry Siregar menyoroti hambatan regulasi dan disharmoni tata ruang sebagai kendala utama pembangunan jaringan optik. “Kami terus mendorong kolaborasi lintas sektor agar penataan jaringan bisa lebih baik dan standar keamanan serta estetika kota tetap terjaga,” ungkapnya.
Dengan kebutuhan digital yang terus meningkat dan penetrasi internet nasional telah mencapai 74,6% pada Januari 2025 (We Are Social & Kepios), upaya membangun jaringan serat optik yang kuat, aman, dan terstandar menjadi pondasi penting bagi Indonesia menuju ekosistem digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan.