Hewan Kuno ini Bakal Dibangkitkan Paling Lambat 2028
Proyek ini akan menjadi tonggak utama dalam dunia rekayasa genetika dan konservasi spesies punah.
Sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat, Colossal Biosciences, mengumumkan rencana ambisius untuk menghidupkan kembali mammoth berbulu (woolly mammoth) dan menempatkannya kembali di habitat alami tundra pada tahun 2028.
Jika berhasil, proyek ini akan menjadi tonggak utama dalam dunia rekayasa genetika dan konservasi spesies punah.
Mammoth wol, yang punah sekitar 4.000 tahun lalu, menjadi target utama dalam proyek ini karena keterkaitan genetiknya yang kuat dengan gajah Asia. Colossal berencana menciptakan makhluk hasil rekayasa genetika yang memiliki karakteristik mammoth tetapi dikembangkan melalui rekayasa genom gajah modern.
“Kami tidak sedang menciptakan kembali spesies purba secara persis, melainkan membangun hibrida gajah-mammoth yang mampu bertahan di lingkungan dingin seperti tundra Siberia,” ujar Dr. George Church, profesor genetika dari Harvard dan salah satu pendiri Colossal.
Teknologi utama yang digunakan dalam proyek ini adalah CRISPR, teknik penyuntingan gen canggih yang memungkinkan ilmuwan menyisipkan gen mammoth, seperti bulu tebal, lapisan lemak, dan kemampuan toleransi dingin, ke dalam DNA gajah Asia.
Mengutip HowStuffWorks, Senin (7/4), menurut Colossal, tujuan utama dari kebangkitan mammoth bukan hanya eksperimen sains, tetapi juga upaya mengatasi perubahan iklim.
Kehadiran mammoth di tundra diyakini dapat membantu memperlambat pencairan lapisan es abadi (permafrost) dengan mengganggu salju dan mendorong pertumbuhan rumput, sehingga membantu menjaga karbon tetap tersimpan di tanah.
Namun, proyek ini menuai kritik dari sejumlah ilmuwan dan pakar etika, yang mempertanyakan keamanan ekosistem, kesejahteraan hewan hasil rekayasa, serta kemungkinan dampak yang tidak terduga dari memperkenalkan spesies hasil modifikasi ke alam liar.
Meski begitu, Colossal telah menggalang dana lebih dari US$225 juta dan tengah mengembangkan fasilitas kelahiran buatan serta metode inkubasi alternatif karena gajah betina tidak akan digunakan sebagai induk kandung.
Para peneliti berharap spesimen pertama siap dilahirkan dalam tiga hingga empat tahun ke depan, menjadikan proyek ini sebagai salah satu eksperimen kebangkitan spesies paling ambisius dan kontroversial di era bioteknologi modern.
Jika berhasil, langkah ini akan membuka jalan bagi kemungkinan menghidupkan kembali spesies punah lainnya, seperti harimau Tasmania dan merpati penumpang, serta memperluas batas etika dan teknologi dalam ilmu kehidupan.