Google Photos Bisa Bedakan Foto Asli atau AI, Begini Cara Kerjanya
Google Photos akan meluncurkan fitur baru yang disebut "How it was made."
Google sedang mempersiapkan pembaruan signifikan untuk aplikasi Photos, yang akan menghadirkan fitur baru yang mampu mendeteksi konten hasil edit maupun yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI).
Menurut Ubergizmo pada Selasa (26/8), fitur baru Google Photos ini teridentifikasi dalam kode aplikasi versi 7.41 dengan nama internal "threepio."
Melalui pembaruan ini, Google Photos berencana untuk menambahkan panel khusus yang dinamakan "How it was made" di bagian detail foto atau video.
Dengan adanya panel tersebut, pengguna akan dapat melihat informasi lengkap mengenai proses pembuatan dan pengeditan media, termasuk apakah proses tersebut melibatkan AI atau dilakukan secara manual.
Raksasa teknologi ini tidak hanya akan menandai media yang telah diedit, tetapi juga memberikan label khusus seperti "Media created with AI", "Edited with AI tools", dan "Edited with multiple AI tools".
Di sisi lain, konten non-AI akan diberi label "Media captured with a camera" atau "Edited with non-AI tools".
Dengan fitur ini, pengguna dapat dengan mudah membedakan antara foto asli dan konten yang merupakan hasil dari rekayasa digital.
Google Photos Tambah Label Keaslian Konten
Google Photos kini menerapkan sistem pelabelan pada foto dan video untuk menunjukkan keaslian konten.
Label ini langsung tampil di detail media, sehingga pengguna dapat dengan cepat mengetahui apakah suatu konten asli atau hasil manipulasi.
Langkah ini disebut sebagai upaya Google menjaga ekosistem digital tetap transparan di tengah maraknya konten AI. Dengan adanya penanda jelas, publik diharapkan lebih percaya pada konten digital yang mereka akses setiap hari.
Sebelumnya, Google sudah memperkenalkan watermark pada gambar buatan AI. Namun sistem terbaru di Google Photos dianggap lebih canggih karena menyajikan informasi kontekstual langsung di aplikasi, memudahkan pengguna menilai keaslian media.
Atasi Deepfake
Selain memberikan label, pengguna juga dapat mengakses rincian mengenai cara sebuah foto atau video dihasilkan atau dimodifikasi.
Mengutip catatan yang ditemukan dalam aplikasi, Google menyatakan bahwa fitur ini akan mempermudah interpretasi media agar lebih transparan dan dapat dipercaya.
Ini sangat penting mengingat semakin meningkatnya fenomena deepfake yang menimbulkan kekhawatiran.
Video dan foto yang dimanipulasi kini sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah, baik dalam konteks politik, selebritas, maupun penipuan online.
Dengan adanya fitur yang dapat mengungkap proses pembuatan media, Google berharap agar pengguna menjadi lebih waspada dan lebih percaya diri dalam membedakan konten yang asli dan yang palsu.
Meskipun fitur ini sudah tersedia dalam versi uji coba, Google belum memberikan kepastian mengenai kapan fitur deteksi AI di Photos akan diluncurkan secara resmi.
Namun, kehadirannya menjadi sinyal kuat bahwa peluncuran fitur ini hanya tinggal menunggu waktu. Jika fitur ini benar-benar diluncurkan, maka dapat menjadi alat yang sangat berguna bagi pengguna untuk mengenali media yang telah dimanipulasi.
Dengan demikian, pengguna akan lebih siap menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh informasi yang tidak akurat di dunia maya.
Informasi Resmi Masih Tertutup
Kehadiran fitur ini sangat penting, terutama dengan semakin banyaknya foto dan video yang dihasilkan oleh AI yang beredar di media sosial serta aplikasi komunikasi.
Bagi banyak orang, sulit untuk membedakan konten yang asli dari yang palsu tanpa bantuan teknologi. Oleh karena itu, adanya label khusus di Google Photos dapat menjadi garis pertahanan pertama dalam melawan penyebaran hoaks visual.
Tindakan ini tidak hanya memberikan perlindungan kepada pengguna, tetapi juga menunjukkan komitmen Google dalam menjaga kualitas informasi yang beredar di dunia digital.
Dengan meningkatnya jumlah konten deepfake, inovasi seperti ini kemungkinan besar akan menjadi standar baru di masa depan.
Seperti yang diungkapkan, "label khusus di Google Photos berpotensi menjadi benteng pertama dalam melawan hoaks visual."