Buaya ini Punya Ukuran Lebih Besar dari Dinosaurus, Segini Berat dan Panjangnya
Jejak gigitan yang terlihat pada fosil tulang-belulang purba membuktikan secara jelas bahwa reptil raksasa, seperti buaya purba, memangsa dinosaurus.
Predator karnivora terbesar dan terkuat yang pernah ada di Amerika Utara bukanlah dinosaurus, melainkan seekor buaya purba. Deinosuchus, yang dalam bahasa Yunani berarti 'buaya mengerikan', diperkirakan hidup sekitar 75 juta tahun yang lalu.
Mengacu pada informasi dari National Geographic pada Kamis (1/5/2025), buaya purba ini diduga memiliki panjang lebih dari 10 meter dan berat lebih dari lima ton. Bekas gigitan yang ditemukan pada tulang-belulang purba menjadi bukti tak terbantahkan bahwa reptil raksasa ini memangsa dinosaurus.
Namun, bagaimana Deinosuchus dapat tumbuh menjadi predator yang begitu besar dan tersebar luas masih menjadi misteri. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology mengklaim telah menemukan jawaban atas teka-teki ini.
Penelitian tersebut mengubah posisi Deinosuchus dalam klasifikasi keluarga buaya dan berpotensi menjelaskan kemampuan reptil purba ini untuk bertahan di habitat air asin.
"Kami ingin memahami lebih baik bagaimana Deinosuchus menjadi predator puncak yang sukses di lahan basah pesisir di seluruh Amerika Utara, dan mengapa ia tumbuh begitu besar," ungkap Mrton Rabi, seorang paleontolog dari Universitas Tbingen di Jerman, yang turut menulis studi ini.
Jejak Deinosuchus telah diteliti oleh para paleontolog sejak sepasang gigi fosilnya ditemukan di Carolina Utara pada tahun 1858.
Sejak saat itu, fosil gigi, perisai tulang, potongan tengkorak, dan bagian kerangka reptil ini telah ditemukan di berbagai lokasi, termasuk Meksiko, Utah, Texas, Montana, Carolina Selatan, New Jersey, dan lain-lain. Fosil-fosil buaya purba ini ditemukan di sepanjang tepi garis pantai prasejarah Amerika Utara dalam batuan yang berusia antara 82 hingga 72 juta tahun.
Di rawa-rawa dataran rendah Amerika Utara pada Zaman Kapur, Deinosuchus mengintai dan menunggu mangsanya mendekat cukup untuk diterkam.
Awalnya 3 Spesies
Sebelumnya, para paleontolog mengelompokkan tiga spesies Deinosuchus yang dikenal sebagai bagian dari alligatoroid, yang merupakan kelompok besar yang mencakup aligator Amerika dan aligator Tiongkok saat ini.
Moncong Deinosuchus yang lebar dan bulat menunjukkan kemiripan dengan aligator dibandingkan dengan kelompok crocodilian lainnya, yang mencakup buaya sejati, aligator, dan kerabatnya. Hal ini menunjukkan adanya ikatan kekerabatan yang erat antara mereka.
Namun, setelah melakukan analisis baru mengenai hubungan kekerabatan, para peneliti mulai meragukan pandangan tersebut dan melakukan pengelompokan ulang pada reptil besar ini.
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa Deinosuchus termasuk dalam garis keturunan kuno yang bercabang sebelum nenek moyang terakhir aligator dan buaya modern. Temuan ini menunjukkan bahwa Deinosuchus memiliki karakteristik yang dapat ditemukan pada kedua kelompok tersebut.
Kondisi ini memungkinkan buaya purba ini untuk berkembang biak di lingkungan yang lebih asin, seperti muara dan pantai, mirip dengan buaya air asin yang ada saat ini.
"Kami terkejut menemukan bahwa Deinosuchus bukanlah 'aligator yang lebih besar'," ungkap Rabi.
Tim peneliti berpendapat bahwa kemiripan penampilan Deinosuchus dengan aligator kemungkinan adalah hasil dari evolusi konvergen, bukan karena adanya hubungan kekerabatan yang dekat.
Masih menjadi bahan perdebatan
Adam Cossette, seorang paleontolog dari New York Institute of Technology yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mempertanyakan beberapa metode yang digunakan dalam penyusunan bagan keluarga baru.
Namun, ia juga mencatat bahwa penempatan yang baru ini tampak logis, mengingat fosil Deinosuchus menunjukkan beragam karakteristik yang dapat ditemukan pada aligator dan buaya, serta beberapa fitur yang "biasanya ditemukan sangat jauh di dalam bagan keluarga."
Rabi dan rekan-rekannya mempertanyakan apakah klasifikasi baru ini bisa menjelaskan bagaimana Deinosuchus mampu bertahan hidup di habitat air tawar maupun air asin di lokasi yang terpencil seperti Meksiko dan New Jersey.
Aligator lebih suka tinggal di habitat air tawar, sedangkan banyak buaya memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap air asin. Para peneliti berargumen bahwa Deinosuchus lebih mirip dengan buaya air asin dibandingkan dengan aligator Amerika.
Di samping itu, ia juga berenang melintasi lautan prasejarah yang memisahkan Amerika Utara menjadi dua bagian pada masa Zaman Kapur Akhir.
Penemuan fosil lainnya
Namun, beberapa peneliti meragukan argumen tersebut. "Saya tidak sependapat dengan anggapan bahwa spesies Deinosuchus dapat bertahan di air asin," ungkap Cossette. Ia mencatat bahwa Deinosuchus yang ditemukan di Texas, misalnya, hidup di lingkungan air tawar yang letaknya jauh dari pantai.
Selain itu, fosil Deinosuchus yang ditemukan di Utah juga diperoleh di dekat ikan dan reptil air tawar, yang menunjukkan bahwa habitatnya tidak dekat dengan pantai. Hal ini mengisyaratkan bahwa Deinosuchus mungkin lebih menyukai air tawar tetapi tetap dapat mencari makan dan melintasi perairan asin jika diperlukan.
"Penemuan fosil Deinosuchus di endapan pesisir hanya mencerminkan kondisi pelestarian yang ada," kata Max Stockdale, seorang paleontolog dari Universitas Bristol yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru ini. Ia menambahkan bahwa garis pantai hanya merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas.
Deinosuchus mungkin pernah hidup di lingkungan yang tidak tercatat dalam rekam jejak fosil yang ada. Selain itu, Stockdale juga berpendapat bahwa spesies air tawar seperti buaya Nil dan aligator Amerika diketahui mampu berenang antar pulau di lautan atau menghabiskan waktu di laut. Oleh karena itu, kasus Deinosuchus tetap belum dapat disimpulkan secara definitif berdasarkan bukti yang ada.
Bagaimana cara pertumbuhan buaya raksasa?
Meskipun para ahli paleontologi masih memperdebatkan aspek-aspek rinci mengenai biologi Deinosuchus, tidak dapat disangkal bahwa predator ini memiliki ukuran yang sangat besar.
Fosil Deinosuchus sering ditemukan bersamaan dengan fosil dinosaurus karnivora seperti Tyrannosaurus rex, misalnya. Namun, Deinosuchus dapat tumbuh lebih panjang dan lebih besar dibandingkan dengan dinosaurus tiran tersebut, sehingga menjadikannya sebagai predator puncak yang sesungguhnya.
Bahkan, buaya ini memiliki kekuatan gigitan yang lebih besar daripada T. rex, meskipun kedua spesies ini tidak hidup pada waktu yang bersamaan.
Untuk memastikan kelangsungan hidup Deinosuchus, diperlukan pasokan makanan yang melimpah. Jangkauan karnivora yang luas ini menunjukkan bahwa terdapat banyak habitat yang sesuai untuk mendukung keberadaan pemangsa besar ini.
"Anda membutuhkan dua hal untuk menumbuhkan buaya raksasa," ungkap Rabi, yaitu tingkat pertumbuhan yang cepat pada awal kehidupan dan pasokan makanan yang konsisten untuk mendukung pertumbuhan tersebut.
Selama Zaman Kapur Akhir, ketika Deinosuchus hidup, permukaan laut yang tinggi dan iklim yang hangat menyebabkan pertumbuhan luar biasa di rawa-rawa di mana laut menyentuh wilayah Amerika Utara. Sifat dari ekosistem perairan ini, menurut penelitian terbaru, memungkinkan reptil raksasa seperti Deinosuchus berevolusi sejak awal.
"Lahan basah dengan produktivitas tinggi, termasuk spesies mangsa, sangat penting untuk evolusi Deinosuchus," jelas Rabi.
Pola ini juga terlihat pada buaya purba raksasa lainnya seperti Sarcosuchus yang hidup di Afrika dan Amerika Selatan kuno sekitar 120 juta tahun yang lalu, serta Purussaurus yang memiliki moncong lebar dari Amerika Selatan antara 16 hingga 5 juta tahun yang lalu.