Benarkah Ngecas HP saat Menelepon Bisa Bikin Ponsel Terkabar?
Ahli menjelaskan fakta tentang pengisian daya ponsel, apakah hal itu dapat menyebabkan ponsel meledak atau terbakar.
Berita tentang ponsel yang terbakar saat pengisian daya sering kita temui di media. Kejadian ini bervariasi, mulai dari yang hanya menyebabkan luka bakar ringan hingga yang mengakibatkan korban jiwa.
Umumnya, insiden tersebut terjadi ketika perangkat sedang diisi daya dan terhubung dengan charger, sambil tetap digunakan sehingga menyebabkan baterai menjadi panas, seperti yang dikutip dari DW Indonesia dari Liputan6, pada Minggu (25/1).
"Kejadiannya sudah banyak dan sering. Kebanyakan terjadi pada ponsel yang menggunakan baterai lithium-ion," jelas Alfons Tanujaya, seorang Pengamat Keamanan Siber dari Vaksincom kepada DW Indonesia.
Alfons menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan insiden ini sering terjadi, salah satunya adalah ketergantungan pengguna terhadap ponsel. Banyak orang merasa sulit untuk melepaskan ponsel mereka, bahkan saat sedang melakukan pengisian daya, baik itu untuk bermain game, menonton video, atau melakukan panggilan.
"Harus diperhatikan, baterai HP itu sensitif terhadap panas. Dan ketika nge-charge, itu ada proses transfer panas," tambahnya.
"Jika tidak digunakan untuk aktivitas apapun (hanya diisi daya) pun sudah panas, apalagi jika digunakan untuk bermain game atau menelepon, itu bisa menyebabkan suhu semakin meningkat."
Kondisi panas yang berlebihan pada baterai lithium-ion dapat merusak membran tipis yang memisahkan dua elektrolit cair di dalam baterai. Dalam situasi tertentu, terutama saat suhu meningkat, membran tersebut dapat tertekan dan berpotensi menyebabkan baterai serta ponsel terbakar, ungkapnya.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan penggunaan ponsel saat pengisian daya agar terhindar dari risiko yang tidak diinginkan.
Korsleting Baterai
Dalam baterai ion litium, ion-ion berpindah melalui elektrolit cair. Namun, proses ini dapat menyebabkan terbentuknya 'dendrit berduri' antara anoda dan katoda, yang berpotensi menyebabkan korsleting bahkan ledakan.
Saat ini, banyak ponsel pintar dilengkapi dengan sistem peringatan untuk menghindari panas berlebihan, terutama saat pengisian daya. Peringatan ini dapat terlihat di layar ponsel pengguna.
"Di ponsel terbaru, biasanya saat isi daya sudah 80 persen akan disetop daya charge-nya, kemudian mulai mengisi daya sampai penuh dengan perlahan untuk mengurangi tingkat panas," ujar Alfons.
Dengan teknologi ini, pengisian daya menjadi lebih aman dan terkontrol, mengurangi risiko kerusakan pada baterai. Selain itu, ponsel pintar modern juga mampu mempelajari kebiasaan pengguna, seperti waktu tidur dan bangun.
"Jadi, saat pengguna tidur sambil charge ponsel, secara otomatis ponselnya tidak akan terisi daya, dan kembali isi daya saat penggunanya sudah bangun tidur," jelasnya.
Untuk meningkatkan keamanan baterai litium, para peneliti dari Cornell University tengah mengembangkan baterai ion litium yang lebih aman.
Penelitian berjudul Supramolecular Assembly of Fused Macrocycle-Cage Molecules for Fast Lithium-Ion Transport yang dipublikasikan pada 9 September 2024 di Journal of the American Chemical Society, memperkenalkan kristal berpori baru yang dapat mempercepat pergerakan ion litium dengan lebih aman.
Meskipun teknologi baru dapat mengurangi risiko kebakaran ponsel, perilaku pengguna juga perlu diperhatikan.
"Pengguna ponsel semakin banyak, dan secara statistik kejadian ini juga sering terjadi. Kok bisa? Umumnya ini terjadi karena memakai produk aftermarket, baik baterai, charger, atau bahkan kabelnya," kata Alfons.
Ia menekankan bahwa banyak orang cenderung memilih produk yang lebih murah dibandingkan yang original, yang dapat berpotensi membahayakan.
Pengamat telekomunikasi, Heru Sutadi, juga menyatakan bahwa penggunaan aksesori ponsel yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kebakaran. Heru menambahkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih kurang memahami standar keamanan ponsel, yang berakibat pada potensi terbakarnya baterai ponsel.
"Potensi kebakaran itu selalu ada pada benda yang memiliki baterai. Kebiasaan orang untuk sering nge-charge di kasurnya, serta cuaca ekstrem seperti petir yang dapat menyebabkan lompatan arus, juga menambah risiko terbakar," ungkapnya.
Alfons dan Heru memberikan beberapa saran untuk mengisi daya ponsel dengan aman agar terhindar dari risiko baterai meledak. Pertama-tama, penting untuk menggunakan ponsel dan aksesori yang sesuai dengan spesifikasinya.
Hindari penggunaan aksesori yang tidak memenuhi standar keamanan, karena ini dapat berpotensi membahayakan. Selain itu, pastikan untuk mengganti suku cadang ponsel di tempat resmi. Jangan memaksakan penggunaan aksesori yang sudah rusak, seperti kabel yang terkelupas, karena ini dapat meningkatkan risiko.
Ketika mengisi daya ponsel, pastikan untuk melakukannya di tempat yang aman, bukan di atas bahan-bahan mudah terbakar seperti tempat tidur, sofa, atau di saku celana dan tas. Penting juga untuk menyimpan ponsel di lokasi yang jauh dari paparan sinar matahari atau tempat yang panas.
Jangan biarkan ponsel terkena sinar matahari langsung, terutama saat sedang diisi daya. Selain itu, sangat disarankan untuk tidak menggunakan ponsel saat sedang di-charge untuk aktivitas seperti menelepon, bermain game, atau menonton film, karena aktivitas tersebut dapat menyebabkan ponsel menjadi panas.
Heru juga menekankan pentingnya tidak meninggalkan ponsel dalam keadaan terisi daya terlalu lama, terutama saat tidur. Meskipun banyak ponsel pintar dilengkapi dengan fitur pencegah panas berlebih, ia mengingatkan agar tidak melakukan pengisian daya berlebihan.
"Kalau baterai ponsel sudah penuh, harus dicabut, ini juga menjaga agar baterainya lebih awet," ucap Heru. Dengan mengikuti tips ini, pengguna dapat memperpanjang umur baterai ponsel dan mengurangi risiko kerusakan.
Apakah aman mengisi daya ponsel saat terjadi badai petir?
Heru menjelaskan bahwa petir dapat menyebabkan lonjakan arus listrik. Rumah atau bangunan yang tidak dilengkapi dengan penangkal petir yang memadai berisiko mengalami lonjakan arus yang dapat merusak berbagai perangkat elektronik, termasuk ponsel.
"Kalau ada petir, dan sedang charge hp sebaiknya, matikan saja ponselnya, atau dicabut," ujarnya.
Jika Anda terpaksa harus melakukan panggilan telepon saat ponsel sedang diisi ulang, disarankan untuk menggunakan earphone. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko korsleting yang dapat terjadi ketika ponsel bersentuhan langsung dengan kulit wajah dan telinga.
Apabila Anda harus menggunakan ponsel saat sedang di-charge dan tidak memiliki earphone, Alfons memberikan saran untuk memperhatikan suhu ponsel dengan seksama.
"Kalau saat dipegang, hp-nya sudah panas, lepaskan dan letakkan, jangan lagi ditempel di telinga," ucapnya.
Dengan memperhatikan hal ini, pengguna dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadi akibat penggunaan ponsel dalam keadaan diisi ulang, terutama saat cuaca buruk yang berpotensi menimbulkan petir.