Begini Prosedur NASA Jika Astronot Meninggal Saat Misi Luar Angkasa
NASA punya protokol tersendiri bila astronot ada yang meninggal di luar angkasa.
Eksplorasi luar angkasa dikenal sebagai salah satu aktivitas paling berisiko yang dilakukan manusia. Meski sejarah mencatat beberapa insiden tragis seperti meledaknya pesawat ulang-alik Challenger pada 1986 dan kecelakaan Soyuz 1 yang menewaskan kosmonot Vladimir Komarov pada 1967.
NASA kini juga mulai memperhitungkan kemungkinan kematian astronaut yang tidak melibatkan kegagalan teknis besar, melainkan karena sebab alami.
Sebagai persiapan menuju misi Artemis II yang akan mengorbit Bulan pada akhir 2025, dan rencana jangka panjang misi berawak ke Mars, badan antariksa Amerika itu memperkuat protokol penanganan kematian astronaut di luar angkasa.
Meski belum ada kematian di luar atmosfer Bumi hingga saat ini, risiko tersebut dinilai nyata dan perlu ditangani dengan sistematis.
Dalam dokumen resmi NASA-STD-3001 Technical Brief, dijelaskan bahwa kematian dalam misi ruang angkasa akan ditangani melalui prosedur berlapis.
Tahapan pertama adalah memastikan keamanan seluruh kru, sebelum kematian dinyatakan secara resmi dan dicatat dalam log resmi misi. Langkah selanjutnya mencakup penyelidikan forensik dan penanganan jenazah.
“Risiko kematian akibat serangan jantung, kecelakaan saat berjalan di luar wahana, atau terkena serpihan ruang angkasa sangat nyata,” ungkap pihak NASA dalam keterangan teknisnya dikutip Sciencing, Rabu (30/7).
Penanganan jenazah dapat dilakukan dengan menyimpannya dalam baju luar angkasa atau dalam unit khusus penyimpanan jasad yang telah dikembangkan sejak 2012.
Sampel seperti darah, rambut, kuku, dan urin akan dikumpulkan untuk analisis forensik lebih lanjut di Bumi. Proses ini harus dilakukan dalam waktu maksimal 12 jam dan disimpan dalam suhu rendah. Namun NASA juga menyadari bahwa proses ini bisa sangat terbatas di lingkungan mikrogravitasi.
Selain aspek medis, NASA juga menyoroti dampak psikologis terhadap kru yang ditinggalkan. Kehilangan anggota tim dalam misi dengan tekanan tinggi di luar angkasa memerlukan kesiapan mental dan penanganan emosional.
“Misi ke Mars dan Bulan bukan hanya tantangan teknologi, tetapi juga tantangan kemanusiaan. Kematian dalam misi luar angkasa bukan lagi pertanyaan 'jika', melainkan 'kapan',” tulis ringkasan dokumen tersebut.
Dengan makin dekatnya peluncuran Artemis II dan berkembangnya rencana kolonisasi luar angkasa, NASA memastikan bahwa setiap aspek, termasuk skenario terburuk, telah dipertimbangkan secara matang demi keselamatan dan keberlangsungan misi.