Baru Terungkap Bunga Bisa Mendengar Suara Kepakan Sayap Serangga
Penemuan ini memberikan perspektif baru mengenai hubungan rumit antara tanaman berbunga dan penyerbuknya.
Sebuah penelitian terkini yang dipresentasikan pada Pertemuan ke-188 Acoustical Society of America serta Kongres Akustik Internasional ke-25, mengungkapkan fenomena menarik mengenai tanaman.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman memiliki "telinga" yang dapat mendengar atau merespons suara lembut dari kepakan sayap serangga penyerbuk.
Mengutip dari Popular Science pada Jumat (23/5), temuan ini memberikan wawasan baru bagi manusia mengenai interaksi kompleks antara tanaman dan penyerbuknya. Para peneliti menekankan betapa pentingnya peran polinator seperti lebah dan ngengat dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan produksi pangan.
Tanpa peran aktif mereka dalam menyebarkan serbuk sari, banyak tanaman dan tumbuhan yang vital tidak akan dapat tumbuh dengan baik.
Penelitian ini menyoroti respons dari bunga snapdragon (genus Antirrhinum) terhadap suara dengungan dari lebah kecil Rhodanthidium sticticum, yang dikenal sebagai penyerbuk yang efisien untuk bunga tersebut.
Tim peneliti yang terdiri dari ahli entomologi, insinyur suara, dan fisiolog tumbuhan memutar rekaman suara lebah tersebut di dekat bunga snapdragon yang sedang tumbuh, lalu mengamati reaksi yang ditunjukkan oleh bunga tersebut.
Peneliti berhasil menemukan hasil yang mengejutkan
Hasil penelitian ini sangat mengejutkan. Suara yang dihasilkan oleh lebah tampaknya merangsang bunga snapdragon untuk meningkatkan jumlah gula dan nektar yang dihasilkan. Selain itu, suara tersebut juga dapat memengaruhi perilaku gen yang bertanggung jawab atas pergerakan gula dan produksi nektar dalam tanaman.
Tim peneliti menyatakan bahwa respons ini mungkin merupakan strategi co-evolution yang mendukung kelangsungan hidup. Dengan kemampuan untuk mendeteksi suara spesifik dari polinator, bunga snapdragon dapat mempengaruhi durasi waktu yang dihabiskan oleh serangga di atasnya.
"Kemampuan untuk membedakan polinator yang mendekat berdasarkan sinyal vibroakustik khas mereka bisa menjadi strategi adaptif bagi tanaman," ungkap Francesca Barbero, seorang profesor zoologi di Universitas Turin, Italia, yang terlibat dalam penelitian ini.
Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tidak hanya pasif dalam interaksi dengan polinator, tetapi juga aktif dalam mengubah perilaku mereka untuk meningkatkan peluang penyerbukan. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang hubungan simbiotik antara tanaman dan serangga, serta bagaimana keduanya beradaptasi satu sama lain dalam ekosistem.
Meskipun demikian, para ilmuwan masih melakukan penelitian untuk mengetahui apakah suara yang diproduksi oleh tanaman dapat memengaruhi perilaku serangga, seperti menarik polinator yang tepat.
"Jika respons dari serangga ini terkonfirmasi, suara dapat digunakan untuk memperlakukan tanaman dan tanaman pangan yang penting secara ekonomi, di mana meningkatkan daya tarik polinator mereka," tambah Barbero.
Saat ini, tim peneliti sedang menganalisis respons tanaman snapdragon terhadap polinator lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai interaksi ini.
Tindakan yang Mengejutkan
"Banyaknya cara tanaman dapat merasakan faktor biotik--seperti serangga yang menguntungkan dan berbahaya, tanaman tetangga lainnya--dan isyarat abiotik, seperti suhu, kekeringan, dan angin di sekitarnya, sungguh mencengangkan," kata Barbero.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman memiliki kemampuan luar biasa untuk mendeteksi berbagai faktor yang mempengaruhi lingkungan mereka. Namun, perlu dicatat bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini belum melalui proses peninjauan oleh rekan sejawat atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah.
Proyek yang berjudul "Good Vibes: How do plants recognise and respond to pollinator vibroacoustic signals?" ini didanai oleh Human Frontier Science Program.
Selain itu, proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Turin, ISysBio di Valencia, dan Centre for Audio, Acoustics and Vibration di University of Technology Sydney. Kerja sama ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antar lembaga untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana tanaman berinteraksi dengan lingkungannya.