3 Alasan Pluto Tidak Termasuk Planet
Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet karena ukurannya yang kecil, orbit yang tidak konvensional, dan ketidakmampuannya membersihkan lingkungan orbitnya.
Pluto, yang ditemukan pada tahun 1930 oleh Clyde Tombaugh, pernah dianggap sebagai planet kesembilan di tata surya kita. Namun, pada tahun 2006, statusnya sebagai planet dicabut oleh International Astronomical Union (IAU).
Perubahan ini terjadi karena Pluto tidak memenuhi kriteria baru yang ditetapkan untuk sebuah planet. Kriteria tersebut meliputi bentuk bulat, mengorbit Matahari, dan mampu membersihkan lingkungan orbitnya.
Mengutip NASA, Senin (31/3), Pluto tidak mampu membersihkan lingkungan orbitnya karena ukuran dan gravitasinya yang relatif kecil.
Orbitnya berbagi ruang dengan banyak objek lain di Sabuk Kuiper, sehingga tidak memenuhi kriteria ini. Selain itu, ukuran Pluto yang hanya sekitar 2.377 km membuatnya jauh lebih kecil daripada planet terkecil lainnya, Merkurius. Ukurannya yang kecil juga berkontribusi pada gravitasi yang lemah.
Orbit Pluto juga tidak konvensional karena lebih elips dan miring dibandingkan dengan orbit planet-planet lain. Orbitnya bahkan memotong orbit Neptunus, yang menunjukkan bahwa Pluto tidak berada di dalam piringan yang sama dengan bidang orbit planet lain.
Meskipun kurang sering disebut sebagai alasan utama, pembentukan Pluto yang berbeda dari planet-planet lain juga menjadi pertimbangan.
Alasan Utama Pluto Tidak Lagi Disebut Planet
Ada tiga alasan utama mengapa Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet:
- Tidak Mampu Membersihkan Lingkungan Orbitnya: Pluto tidak memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk menarik atau 'membersihkan' objek-objek kecil di sekitar orbitnya. Hal ini disebabkan oleh ukuran dan gravitasinya yang relatif kecil.
- Ukuran yang Relatif Kecil: Dibandingkan dengan delapan planet lainnya di tata surya, Pluto sangat kecil. Diameternya hanya sekitar 2.377 km, jauh lebih kecil daripada planet terkecil lainnya, Merkurius.
- Orbit yang Tidak Konvensional: Orbit Pluto lebih elips dan miring dibandingkan dengan orbit planet-planet lain. Orbitnya bahkan memotong orbit Neptunus, menunjukkan bahwa Pluto tidak berada di dalam piringan yang sama dengan bidang orbit planet lain.
Sebagai tambahan, pembentukan Pluto yang berbeda dari planet-planet lain juga menjadi pertimbangan. Planet-planet terbentuk dari cakram protoplanet yang mengelilingi Matahari muda, sedangkan Pluto diduga terbentuk melalui proses yang berbeda di Sabuk Kuiper.
Pluto kini dikategorikan sebagai planet kerdil atau dwarf planet. Status ini diberikan karena Pluto memenuhi dua dari tiga kriteria untuk menjadi planet, yaitu berbentuk bulat dan mengorbit Matahari, tetapi tidak mampu membersihkan lingkungan orbitnya.
Penemuan Pluto pada tahun 1930 oleh Clyde Tombaugh dianggap sebagai penemuan yang penting, tetapi orbit Pluto yang tidak biasa menjadi tanda tanya. Seiring berjalannya waktu, para ilmuwan menemukan lebih banyak objek di sekitarnya, termasuk Eris, yang tampaknya lebih besar dari Pluto.
Perubahan status Pluto menjadi planet kerdil menandai perubahan penting dalam pemahaman kita tentang alam semesta. Saat ini, tata surya kita terdiri dari delapan planet, dan Pluto diakui sebagai salah satu dari lima planet kerdil yang telah ditemukan.
Para ilmuwan tentunya mengharapkan akan lebih banyak lagi planet kerdil yang akan ditemukan di kemudian hari. Empat dari planet kerdil ini diketahui berada di luar Neptunus, yaitu Pluto, Makemake, Haumea, dan Eris. Sedangkan planet kerdil kelima yaitu Ceres keberadaannya diketahui di sebuah asteroid sabuk yang terletak di antara Jupiter dan Mars.
Pluto memiliki beberapa fakta menarik, seperti ukurannya yang sama dengan bulan dan membutuhkan waktu 248 tahun Bumi untuk berevolusi mengitari Matahari. Lokasi Pluto yang sangat jauh dari Matahari menyebabkan cahaya matahari membutuhkan waktu selama lebih dari lima jam untuk mencapai Pluto.