Mengenal Sastrawan Lokal Asli Sumut yang Tersohor, Sosok Penggagas Program Sastra di Medan
Damiri Mahmud, seorang penyair dan sastrawan putra Provinsi Sumatra Utara.
Perkembangan sastra di Indonesia rupanya mengakar kuat hingga Kota Medan. Salah satu tokoh pentingnya, yaitu Damiri Mahmud.
Mengenal Sastrawan Lokal Asli Sumut yang Tersohor, Sosok Penggagas Program Sastra di Medan
Sejauh ini sastrawan yang begitu terkenal tak jauh dari Pramoedya Ananta Toer atau Chairil Anwar. Di Pulau Sumatra khususnya Kota Medan juga terdapat tokoh sastrawan lokal yang cukup tersohor, yaitu Damiri Mahmud.
Damiri Mahmud banyak menulis karya seputar budaya, politik, dan juga agama yang tersebar di surat kabar seperti Buana, Pelita, Kompas, Republika, Pikiran Rakyat, Merdeka, hingga Berita Harian (surat kabar Malaysia).
Kiprah dan peran Damiri Mahmud dalam perkembangan sastra di Kota Medan cukup penting. Ia juga terlibat dalam pencetus program sastrawan masuk sekolah di Medan kisaran tahun 1976. Berikut ulasan sosok Damiri Mahmud mengutip badanbahasa.kemdikbud.go.id berikut ini.
Kehidupan Awal
Damiri Mahmud lahir di Hamparan Perak, Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara pada 17 Januari 1945. Damiri merupakan anak bungsu dari pasangan H. Mahmud Khatib dan Hj. Siti Rahmah.
Masa kecilnya diawali dengan menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat 16 Kota Medan. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya pada 1958. Selain itu, Damiri juga belajar pendidikan keagamaan di Ibtidaiyah.
Lalu, Damiri melanjutkan pendidikan di SMEP Medan dan selesai pada tahun 1961. Kemudian, ia mendaftar ke SMA Widyasana Medan dan lulus pada tahun 1964.
Gemar Dunia Sastra
Damiri Mahmud sudah tertarik dengan dunia sastra sejak kecil. Hal ini berkat dirinya kerap membaca buku-buku sastra miliki sang kakak, Idham. Sang kakak memang bukanlah sastrawan, tetapi ia tokoh pemuda di kampungnya yang hobi membaca karya sastra.
Adapun beberapa karya sastra yang menginspirasi Damiri, seperti karya Buya Hamka berjudul "Tenggelam Kapal van der Wijck" dan "Di Bawah Lindungan Ka'bah".
"Privilege" lain yang dimanfatkan Damiri adalah membaca buku-buku karangan H.B Jassin dan Chairil Anwar ketika dirinya masih bersekolah di bangku SMP.
Sempat Putus Asa
Setelah membaca karangan sastra idolanya, Damiri mulai mencoba menulis karya sastra lalu dikirimkan ke surat kabar Harapan Kuncung. Tetapi, selama ia menulis tidak ada satu tulisannya yang dimuat.
Damiri sempat putus asa lantaran hasil karyanya tidak ada yang dimuat oleh redaktur harian. Ia terus mencoba sampai akhirnya tulisannya berhasil dimuat pertama kalinya pada tahun 1964.
Penggagas Program Sastrawan Masuk Sekolah
Kiprah terbesar Damiri Mahmud dalam dunia sastra di Medan adalah menyusun program Sastrawan Masuk Sekolah di Medan dan sekitarnya pada tahun 1976.
Kemudian, Damiri mencetuskan "Omong-Omong Sastra" dari rumah ke rumah sejak tahun 1976 sebagai wadah karya sastra satu-satunya di Indonesia.
Forum "Sastrawan Masuk Sekolah" ini dihadiri oleh sastrawan dan peminat sastra membahas masalah sastra dan pembacaan puisi dengan bebas lanjut dengan makan bersama.
Hasil Karya
Damiri berhasil melahirkan karangan sastra yang begitu terkenal. Beberapa di antaranya "Dialog Utara" yang berisikan puisi, cerpen, kritikan sastranya.
Karya puisinya terdapat dalam berbagai bungai rampai yang terbit di Indonesia maupun di Malaysia. Tak hanya itu, ia merilis 3 buku yang berjudul itian Laut I (1982), Titian Laut II (1986), dan Titian Laut III (1991).
Beberapa hasil karya Damiri juga sering ia bacakan dalam acara diskusi dan baca puisi yang diselenggarakan di Taman Budaya Medan. Kemudian, Damiri membukukan 59 karangan puisinya yang berjudul "Damai di Bumi: Kumpulan Sajak".