Kisah Ludwig Ingwer Nommensen, Sang Misionaris di Tanah Batak
Masuknya agama kristen di Tanah Batak ini tak lepas dari peran dan perjuangan seorang misionaris bernama Ludwig Ingwer Nommensen.
Masuknya agama kristen di Tanah Batak ini tak lepas dari peran dan perjuangan seorang misionaris bernama Ludwig Ingwer Nommensen.
Kisah Ludwig Ingwer Nommensen, Sang Misionaris di Tanah Batak
Sejarah Tanah Batak tak lepas dari perkembangan kekristenan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Masuknya agama kristen di Tanah Batak ini tak lepas dari peran dan perjuangan seorang misionaris bernama Ludwig Ingwer Nommensen.
Ia merupakan seorang misionaris yang mendapatkan tugas untuk menyebarkan agama Kristen di Sumatra. Hampir separuh hidupnya atau sekitar selama 56 tahun dihabiskan menjadi penginjil di Tapanuli.
Ia menjadi pencetus terbentuknya gereja protestan yang dikenal dengan Huria Kristen Batak Protestan atau HKBP.
Misinya di Sumatra tidak berjalan mudah, perjuangan Nommensen dalam menyebarkan Kristen di sana begitu besar. Ia juga mendirikan fasilitas pendidikan untuk menunjang ilmu injil dan keagamaan bagi orang-orang Batak.
Lantas bagaimana kisah perjalanan Nommensen selama berada di Sumatra? Simak ulasannya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Profil Singkat
Ludwig Ingwer Nommensen lahir pada 6 Februari 1834 di Pulau Nordstrand di Schleswig yang saat itu wilayah Denmark (kini Jerman).
Sejak kecil ia sudah menjadi penggembala angsa dan tidak menempuh pendidikan seperti anak-anak seumurannya.
Pada usia 8 tahun, Nommensen sudah bekerja mencari nafkah sebagai penggembala domba untuk membantu perekonomian orang tuanya. Sejak saat itu, Nommensen memilih untuk bekerja dibandingkan sekolah.
Di usia 12 tahun, ia tertabrak kereta kuda dan kakinya patah. Ia berbulan-bulan berbaring dan tidak melakukan aktivitas apapun. Saat itu, ia berjanji akan menyebarkan Injil jika dirinya sudah sembuh.
Tugas ke Sumatra
Setelah ia melamar menjadi seorang penginjil di sebuah sekolah misionaris Jerman, tahun 1861 Nommensen langsung mendapatkan tugas di Pulau Sumatra. Setahun kemudian, ia sudah tiba di Padang dan memulai misinya dari Kepulauan Barus.
Akibat adanya penjajahan Belanda, Nommensen dilarang menetap di Toba karena alasan keamanan. Ia pun terpaksa bergabung dengan misionaris lain di Sipirok. Di sana banyak masyarakat yang memeluk agama Islam, sehingga penyebarannya bisa berjalan lambat.
Pada tahun 1863, Nommensen melakukan kunjungan pertama ke Tarutung dan diterima oleh seseorang bernama Ompu Pasang yang tinggal di wilayah kekuasaan Raja Pontas Lumbantobing.
Strategi Misionaris
Melansir dari beberapa sumber, dalam menyebarkan Injil di lapisan masyarakat Batak, Nommensen memperhatikan betul budaya-budaya asli mereka dan menggunakannya sebagai pintu masuk misinya tersebut.
Selain itu, terdapat momen Nommensen berhasil meyakinkan raja-raja untuk berhenti melakukan perlawanan. Ia menjelaskan bahwa ia bukanlah kaki tangan Belanda dan datang untuk membawa kebaikan.
Pernyataan ini diperkuat dengan sikap dan tindakan Nommensen sehari-hari terhadap orang Batak.
Berkembang Pesat
Perjuangan Nommensen pun dirasa sudah berhasil ketika banyak orangBatak dan bahkan beberapa raja saat itu banyak yang memilih bergabung dengan agama Kristen.
Umat Batakmission atau cikal bakal HKBP itu sudah mencatatkan ratusan ribu orang Batak yang sudah dibaptis dan memeluk agama Kristen. Nommensen juga menerjemahkan perjanjian baru ke dalam bahasa Batak Toba.