Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat Memanen Madu
Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude
Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude
Dendang Lebah, Tradisi Unik Masyarakat Aceh Tamiang saat Memanen Madu
Setiap penjuru daerah di Indonesia memiliki beragam tradisi yang unik dan sarat makna.
Di Aceh Tamiang, masyarakat sekitar telah mempertahankan tradisi memanen madu yang bernama Dendang Lebah. Tradisi ini dilakukan dengan mengucapkan mantra berisi rayuan dan bujukan atau perintah halus untuk "Penjaga Alam" saat memanen madu.
Melansir dari tulisan Nurmila Khaira berjudul "Dendang Lebah Dalam Tradisi Mengambil Madu di Tamiang", untuk memanen madu ini tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Kearifan lokal setempat mengajarkan jika orang tersebut hanya yang bisa "berdamai" dengan alam dan para penunggunya.
Dibacakan Mantra
Sebelum dipanen, seorang Pawang Tuhe membacakan sebuah mantra yang menjadi simbol penghormatan manusia terhadap makhluk hidup. Setiap unsur alam yang diambil maka sebaiknya dilakukan dengan kerendahan hati tanpa sikap berlebihan.
Pengambilan madu ini biasa dilaksanakan pada malam hari yang dilakukan oleh Pawang Tuhe (kepala pawang) yang dibantu dengan Pawang mude. Karena dianggap tabu, proses memanennya pun tanpa alat penerangan satupun.
Kemudian, proses pemantraan lainnya dilakukan saat Pawang Tuhe menancapkan Patin yang berfungsi sebagai alat pijak untuk Pawang Mude memanjat. Biasanya Patin ini akan ditancapkan sampai tinggi badan Pawang Tuhe lalu dilanjutkan oleh Pawang Mude.
Setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, barulah Pawang Mude membacakan mantra kembali untuk proses pengambilan madu.
Cerita Rakyat
Dalam tradisi Dendang Lebah ini berkembang sebuah cerita rakyat yang sudah diwariskan turun-temurun. Setiap Dendang Lebah berisi sebuah rayuan kepada alam untuk mengambil madu. Dan jika menaiki Pohon Tualang untuk mengambil madu tidak boleh membawa besi dalam bentuk apapun.
Meski panen madu hanya dilakukan setahun sekali, tetapi masyarakat Tamiang percaya jika pengambilan madu tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Ada sebuah legenda tentang Dendang Lebah, konon ada kisah asmara antara sang raja dengan seorang dayang. Pada suatu hari putri dan putra mahkota sedang berjalan di taman, lalu bertemu dengan lebah yang mengikuti mereka. Sontak, sang putri menginginkan madu.
Putra mahkota pun berusaha untuk mengambil madu dari atas Pohon Tualang. Namun, ketika di atas pohon, ia bertemu seekor madu berwujud dayang, lalu ia merayu lebah tersebut agar diizinkan untuk mengambil madu.
Ada juga versi lain dari cerita ini bahwa penunggu pohon itu adalah sosok tak kasat mata yang marah kepada putra mahkota karena memanjat pohon tualang dengan membawa senjata tajam yang terbuat dari besi.