Skoliosis pada Orang Dewasa, Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya
Skoliosis, yaitu kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung ke samping, dalam istilah medis sebagai skoliosis de novo.
Skoliosis adalah kelainan yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping, dan kondisi ini dapat muncul pada usia dewasa. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai skoliosis de novo, yang ditandai dengan tubuh yang semakin miring ke arah salah satu sisi.
Saat pasien diminta untuk membungkuk ke depan, akan terlihat punuk yang sebelumnya tidak ada. Hal ini dijelaskan oleh dokter spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan tulang belakang, Phedy. "Biasanya anggota keluarga yang lain melihat, 'Kok mama saya makin bungkuk ya'," Seringkali, orang yang peduli dengan penampilan tubuhnya menyadari adanya perubahan pada tulang belakang, tetapi sering kali hal ini lebih mudah dikenali oleh orang-orang terdekat pasien.
Pasien juga biasanya menyadari adanya perubahan ketika tinggi badan mereka berkurang. Misalnya, seseorang yang awalnya memiliki tinggi badan 165 cm, tiba-tiba hanya menjadi 163 cm, dan kemudian turun lagi menjadi 160 cm. "Itu sebenarnya bukan karena makin pendek ya tapi karena tubuh jadi membungkuk dan miring ke samping," jelas dokter yang berpraktik di Eka Hospital BSD saat acara temu media pada Kamis, 27 Februari 2025.
Pada kasus skoliosis de novo, sering kali disertai dengan masalah pada syaraf dan pergeseran tulang punggung. Dalam kondisi ini, pasien bisa mengalami keluhan seperti nyeri saat berjalan dalam waktu lama, serta gejala seperti kelemahan pada kaki, kesemutan, dan kebas, dilansir Merdeka.com Rabu(5/3/2025).
Faktor Penyebab Skoliosis di Kalangan orang Dewasa
Phedy menjelaskan bahwa penyebab utama skoliosis de novo berkaitan dengan proses penuaan. Proses ini menyebabkan ketidakseimbangan pada bantalan tulang belakang, baik di sisi kiri maupun kanan.
"Penyebab spesifik itu proses aging yang terjadi pada bantalan yang membuat bantalan alami penuaan yang tidak seimbang kiri dan kanan," ungkapnya. Selain itu, kondisi ini juga dapat muncul pada pasien yang mengalami skoliosis di masa muda namun tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Selain faktor-faktor tersebut, ada beberapa penyebab lain yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya skoliosis de novo. Di antara penyebab tersebut adalah:
- Osteoporosis: Kondisi ini menyebabkan tulang menjadi lemah, yang dapat mengakibatkan perubahan bentuk serta kemiringan pada tulang belakang.
- Artritis tulang belakang: Peradangan pada sendi-sendi tulang belakang dapat menyebabkan rasa nyeri dan juga perubahan bentuk pada tulang tersebut.
- Cedera atau trauma: Cedera yang terjadi di masa lalu atau jatuh bisa berkontribusi terhadap perkembangan skoliosis degeneratif.
Metode untuk Menetapkan Diagnosis Skoliosis De Novo
Untuk memastikan diagnosis skoliosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Di antara pemeriksaan tersebut, terdapat beberapa metode penting yang digunakan, yaitu:
- Rontgen: Untuk melihat tingkat kelengkungan tulang belakang.
- MRI atau CT Scan: Untuk mengevaluasi struktur jaringan di sekitar tulang belakang, termasuk saraf dan bantalan tulang.
- Tes kepadatan tulang: Untuk menentukan apakah osteoporosis berkontribusi terhadap skoliosis.
Pemeriksaan-pemeriksaan ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi tulang belakang pasien. Dengan menggunakan metode tersebut, dokter dapat memberikan diagnosis yang akurat dan menentukan langkah penanganan yang tepat untuk skoliosis.
Apakah Tulang Belakang dapat Diluruskan Kembali?
Ketika ditanya mengenai kemungkinan kesembuhan pasien dengan skoliosis de novo, Phedy memberikan jawaban positif, yaitu bisa sembuh. Namun, ia menekankan bahwa hal ini sangat bergantung pada tingkat keparahan kondisi yang dialami oleh pasien tersebut.
Pada pasien yang mengalami skoliosis de novo dengan tingkat keparahan ringan, Phedy menjelaskan bahwa tindakan fisioterapi sudah cukup untuk membantu. "Fisioterapi dilakukan untuk memperbaiki postur yang miring agar lebih tegap.
Agar otot menarik tubuh ke keseimbangan yang diinginkan," tambahnya. Di sisi lain, untuk pasien yang mengalami skoliosis dewasa dengan kondisi yang lebih serius, tindakan operasi menjadi langkah yang diperlukan dan harus dilakukan dengan tujuan yang jelas.
Phedy kemudian menjelaskan lebih lanjut mengenai tujuan dari operasi tersebut. "Tujuan operasi itu untuk apa? Apakah untuk membaskan jepitan saraf akibat skoliosis? Atau untuk memasang pen karena tulang punggung bergeser? Atau memperbaiki kemiringan sehingga perlu pasang lebih banyak pen?" ungkapnya. Dengan demikian, penting untuk memahami bahwa setiap tindakan medis harus disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien.
Langkah-langkah Mencegah Skoliosis pada orang Dewasa
Untuk mencegah terjadinya skoliosis di usia dewasa, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Pertama, penting untuk "menjaga core muscle kuat" agar beban yang diterima oleh tulang belakang dan bantalan dapat didistribusikan ke otot-otot, menurut Phedy.
Dengan memperkuat otot inti, diharapkan proses penuaan pada bantalan dapat berlangsung lebih lambat, dan jika penuaan terjadi, diharapkan hal itu baru terjadi pada usia yang sangat tua. Beberapa olahraga yang dapat membantu memperkuat otot inti antara lain yoga, pilates, berenang, plank, dan gelantungan. Dua gerakan tersebut dapat dilakukan tanpa memerlukan bantuan pelatih pribadi. Phedy juga menyebutkan, "Deadlift itu juga bisa sih, tapi harus dengan dibantu personal trainer ya agar gerakan tidak salah."
Kedua, sangat penting untuk menghindari aktivitas yang dapat merusak bantalan tulang belakang. Misalnya, hindarilah duduk dalam waktu yang terlalu lama dan berlari tanpa melakukan pemanasan serta menggunakan alas kaki yang sesuai.
Phedy menjelaskan, "Lari itu membebani bantalan 7 kali lipat lebih dari biasanya," sehingga pemanasan yang baik dan sepatu yang tepat sangat diperlukan saat berlari. Terakhir, menghindari kebiasaan merokok juga merupakan langkah penting, karena rokok mengandung zat-zat berbahaya yang dapat merusak bantalan tulang belakang.