Makanan Tinggi Purin vs Pencegah Asam Urat: Mana yang Aman Dikonsumsi?
Ketika purin terakumulasi dalam tubuh, ia akan diubah menjadi asam urat, yang dapat memicu rasa nyeri yang tajam pada sendi.
Asam urat bukan hanya sekadar masalah sendi biasa; ia juga mencerminkan pola makan yang kurang sehat. Banyak orang beranggapan bahwa makanan yang dianggap sehat, seperti bayam dan tahu, aman untuk dikonsumsi secara rutin, padahal sebenarnya makanan tersebut mengandung purin yang cukup tinggi. Ketika purin terakumulasi dalam tubuh, ia akan diubah menjadi asam urat, yang dapat memicu rasa nyeri yang tajam pada sendi.
Mengutip artikel "Pengaruh Suhu terhadap Kelarutan Monosodium Urat" karya Loeb JN (1972), penyakit asam urat secara biokimia ditandai dengan saturasi urat dalam cairan ekstraseluler, yang tercermin dari hiperurisemia dalam darah. Hal ini ditunjukkan dengan konsentrasi urat dalam plasma atau serum yang melebihi 6,8 mg/dL (sekitar 400 mol/L), di mana kadar ini merupakan batas perkiraan kelarutan urat.
Langkah awal yang efektif untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menghindari makanan yang tinggi purin. Selain itu, akan lebih bijak jika langkah ini dipadukan dengan konsumsi makanan penetral yang dapat membantu proses pengeluaran asam urat dari dalam tubuh. Kombinasi antara menghindari makanan tinggi purin dan mengonsumsi makanan penetral menjadi strategi diet utama bagi penderita gout.
Mengapa Makanan Tinggi Purin Menjadi Pemicu Utama Asam Urat
Purin adalah senyawa yang secara alami terdapat dalam tubuh dan berbagai jenis makanan. Ketika purin dipecah, asam urat dihasilkan sebagai produk sampingan. Dalam keadaan normal, ginjal akan mengeluarkan kelebihan asam urat melalui urine. Namun, jika asupan purin berlebihan atau fungsi ginjal terganggu, asam urat dapat terakumulasi dan menyebabkan gout.
Makanan yang tinggi purin dapat meningkatkan risiko terjadinya hiperurisemia, yaitu kondisi di mana kadar asam urat dalam darah melebihi batas normal. Hal ini dapat memicu pembentukan kristal yang tajam dan menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat.
Beberapa jenis makanan yang sering menjadi pemicu gout adalah jeroan, seafood, dan daging merah. Konsumsi purin yang berasal dari sumber protein hewani memiliki hubungan yang kuat dengan frekuensi serangan gout yang berulang. Oleh karena itu, penting untuk mengontrol pola makan yang berbasis purin sebagai bagian dari terapi.
Makanan Tinggi Purin
Mengacu pada Buku Saku Kader Pengontrolan Asam Urat di Masyarakat yang disusun oleh Ema Madyaningrum dan rekan-rekan (Fakultas Kedokteran UGM, 2020), pencegahan asam urat dapat dilakukan dengan mengadopsi gaya hidup sehat. Salah satu langkah penting adalah memperhatikan pola makan, khususnya dengan membatasi asupan makanan yang tinggi purin. Beberapa jenis makanan yang sebaiknya dibatasi bahkan dihindari sepenuhnya meliputi:
- Jeroan: hati, ginjal, otak
- Daging merah: sapi, domba, babi
- Seafood: udang, kerang, makarel, sarden
- Sayuran tertentu: bayam, asparagus
- Produk fermentasi kacang: tahu, tempe
- Minuman: alkohol, soda, dan sirup jagung tinggi fruktosa
Sebagai contoh, konsumsi 100 gram udang mengandung sekitar 147 mg purin, yang cukup untuk memicu flare-up jika dikonsumsi secara rutin. Meskipun bayam adalah sayuran, kandungan purin yang sedang membuatnya perlu dikonsumsi dengan sangat hati-hati. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran bahwa tidak semua yang dianggap "alami" selalu aman untuk kesehatan.
Makanan untuk Cegah Asam Urat
Di sisi lain, terdapat jenis makanan yang dapat membantu dalam mengontrol dan menetralkan kadar asam urat. Makanan yang rendah purin dan kaya akan antioksidan dapat mempercepat proses ekskresi asam urat serta menghambat pembentukan kristal asam urat. Berikut adalah beberapa makanan yang direkomendasikan untuk menetralkan asam urat:
- Buah-buahan tinggi vitamin C seperti jeruk, ceri, stroberi, dan kiwi.
- Sayuran yang aman dikonsumsi seperti selada, kol, wortel, dan kentang.
- Minuman herbal seperti teh hijau dan hibiscus.
- Susu rendah lemak, termasuk yoghurt dan keju yang rendah garam.
- Sumber serat seperti apel dan alpukat.
Secara khusus, ceri mengandung antosianin yang telah terbukti dapat mengurangi frekuensi serangan gout hingga 35% jika dikonsumsi secara rutin. Selain itu, vitamin C juga berfungsi untuk menghambat kerja enzim xanthine oxidase, yang berperan dalam produksi asam urat.
Kombinasi Pola Makan dan Gaya Hidup Seimbang
Pola makan merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan asam urat. Selain itu, gaya hidup sehat yang mencakup menjaga berat badan ideal, melakukan aktivitas fisik, dan memastikan kecukupan hidrasi juga berperan signifikan dalam mempengaruhi metabolisme purin. Kelebihan berat badan atau obesitas dapat menghambat proses ekskresi asam urat melalui ginjal.
Dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, misalnya berjalan kaki atau berenang sebanyak 3 hingga 5 kali dalam seminggu, kita dapat meningkatkan metabolisme tubuh serta mengurangi risiko terjadinya peradangan pada sendi. Di samping itu, penting untuk menghindari konsumsi alkohol dan meningkatkan asupan air putih, minimal lebih dari 2 liter per hari, karena hal ini dapat membantu melarutkan dan mempercepat pengeluaran asam urat dari tubuh.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter
Jika Anda mengalami nyeri sendi yang tidak kunjung reda atau sering muncul pada malam hari, disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan. Sangat penting untuk memeriksa kadar asam urat secara berkala, terutama bagi mereka yang berusia di atas 35 tahun.
Kadar asam urat yang dianggap normal adalah sebagai berikut:
- Pria: 3,4--7 mg/dL
- Wanita: 2,4--6 mg/dL
Apabila kadar asam urat Anda melebihi batas normal, langkah selanjutnya adalah mendapatkan rujukan dari dokter ke spesialis gizi klinik atau dokter penyakit dalam. Anda juga bisa memanfaatkan layanan konsultasi daring melalui platform seperti Halodoc dan Mitra Keluarga, yang dapat menjadi solusi cepat untuk mendapatkan informasi dan penanganan awal.
Referensi
Loeb JN. Pengaruh suhu terhadap kelarutan monosodium urat. Arthritis Rheum. 1972 Mar-Apr; 15 (2):189-92. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/5027604/.
Buku Saku Kader Pengontrolan Asam Urat di Masyarakat. Fakultas Kedokteran UGM (2020). https://hpu.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1261/2021/02/HDSS-Sleman-_Buku-Saku-Kader-Pengontrolan-Asam-Urat-di-Masyarakat-_cetakan-II.pdf.