Makan Tomat Bisa Cegah Pembengkakan Kelenjar Prostat? Ini Penjelasan Dokter Urologi
Dokter spesialis bedah urologi, Gideon F.P. Tampubolon menguraikan keuntungan tomat untuk kesehatan kelenjar prostat.
Masyarakat sering kali mendengar informasi bahwa mengonsumsi tomat dalam jumlah besar dapat meningkatkan kesehatan prostat. Apakah ini benar?
Menurut dokter spesialis urologi, Gideon Frederick Parulian Tampubolon, tomat memang kaya akan antioksidan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tomat dapat menurunkan risiko kanker prostat. Namun, penting untuk dicatat bahwa tomat tidak dapat mencegah pembesaran prostat jinak.
"Dari penelitian memang begini, hubungannya bukan ke pembesaran prostat jinak, tapi ke arah cancer ya, kanker prostat. Kita tahu bahwa buah tomat itu mengandung banyak antioksidan yang kita sebut likopen ya, itu yang merah itu tomat merah ya. Nah itu memang dari penelitian bisa mengurangi risiko terjadinya kanker prostat," kata Gideon dalam siaran langsung Healthy Monday EMC Healthcare bersama Liputan6.com bertajuk 'Pria Sehat, Subur dan Makin Percaya Diri!' pada Senin, 24 November 2025.
Dokter yang berpraktik di RS EMC Grha Kedoya ini menyatakan bahwa selain tomat, wortel dan paprika merah juga memiliki manfaat dalam mencegah kanker prostat.
Di sisi lain, pembesaran kelenjar prostat biasanya akan mengecil dengan sendirinya. Oleh karena itu, pasien disarankan untuk menunggu sambil menerapkan gaya hidup sehat.
Riwayat Masalah Prostat
Gideon menekankan pentingnya kewaspadaan bagi pria yang memiliki riwayat keluarga dengan pembesaran kelenjar prostat. Risiko untuk mengalami kondisi ini cukup tinggi dan sulit untuk dihindari.
"Tapi yang waspada tentu kalau yang memiliki ayah terkena pembesaran kelenjar prostat, tentu harus lebih aware ya. Lebih waspada," ujar dia.
Selanjutnya, dia menjelaskan bahwa setelah menjalani operasi, pasien yang mengalami disfungsi ereksi atau masalah dalam hubungan seksual memiliki beberapa pilihan pengobatan. Ini termasuk penggunaan obat-obatan, suntikan, atau alat bantu seksual.
"Untuk penanganan masalah disfungsi ereksi sih ya, pertama-tama kita harus melihat masalah psikogenik, tapi yang first line treatment yang kita bisa berikan adalah obat-obatan. Jadi obat minum ini, kita juga berikan itu bisa dalam bentuk once daily. Jadi setiap hari diminum dengan dosis yang lebih rendah dan lebih baik," jelas Isaac Ardianson Deswanto, dokter spesialis urologi di RS EMC Alam Sutera dan Tangerang.
Dengan demikian, penting bagi pasien untuk memahami berbagai pilihan yang tersedia agar dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka.
Terapi Regeneratif
Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis urologi Isaac Ardianson Deswanto menjelaskan bahwa jika pasien tidak menunjukkan respons terhadap obat yang diberikan, para dokter biasanya merekomendasikan terapi regeneratif. Terapi ini dilakukan dengan menggunakan shockwave dengan intensitas rendah yang diarahkan pada jaringan penis.
“Gelombang kejut ini akan menciptakan pembentukan pembuluh darah baru. Dengan harapan pembuluh darah baru yang terbuat ini bisa meningkatkan ereksinya kembali,” pungkas Isaac.