Kenali Gejala Awal Tanda-Tanda TBC, Kenali Perbedaannya dengan TBC Laten
Penting untuk mengetahui tanda-tanda tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang serius dan umumnya menyerang bagian paru-paru.
Mengenali tanda-tanda tuberkulosis (TBC) sejak dini sangatlah krusial, mengingat penyakit ini bersifat menular dan dapat menyerang paru-paru. Deteksi yang cepat memungkinkan penderita untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dengan segera.
Beberapa gejala TBC yang umum muncul meliputi batuk yang berlangsung lama, sesak napas, demam, serta penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Gejala-gejala ini sering kali disalahpahami sebagai penyakit umum lainnya.
Dengan memahami tanda-tanda TBC sejak awal, masyarakat akan lebih waspada dan terdorong untuk melakukan pemeriksaan medis secepatnya. Kesadaran akan gejala ini juga berperan penting dalam mencegah penularan kepada orang lain.
Berikut penjelasan lengkap tentang tanda-tanda TBC yang perlu diketahui dan diwaspadai sebagaimana dilansir dari Liputan6.com, Rabu (10/9):
Memahami Tuberkulosis Laten
Definisi TBC
Tuberkulosis laten merupakan kondisi di mana bakteri TBC berada dalam tubuh, namun sistem kekebalan tubuh berhasil mengendalikannya. Pada fase ini, individu yang terinfeksi tidak merasakan sakit dan tidak menunjukkan gejala apapun.
Menurut World Health Organization (WHO), orang yang mengalami TBC laten tidak dapat menularkan penyakit ini kepada orang lain. Mengutip dari kajian yang diterbitkan dalam Jurnal Biomedik 2020;12(3):192-199, WHO menyatakan bahwa TB Laten adalah kondisi di mana terdapat respon imun yang terus-menerus terhadap antigen tanpa adanya bukti klinis dari TB aktif, kelainan radiografik, dan hasil bakteriologis yang positif.
Kondisi Umum
Banyak individu yang terinfeksi TBC tidak menunjukkan gejala, sehingga kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis tidak aktif atau laten. Meskipun tampak sehat, bakteri TBC tetap hidup di dalam tubuh dan dapat menjadi aktif kapan saja jika tidak ditangani dengan baik.
Risiko Aktivasi Infeksi
TBC laten dapat berpotensi berubah menjadi aktif jika sistem kekebalan tubuh seseorang melemah. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh antara lain adanya penyakit penyerta, kekurangan gizi, atau penggunaan obat-obatan tertentu.
Oleh karena itu, meskipun tidak ada tanda-tanda TBC yang jelas, pemeriksaan dan identifikasi dini tetap sangat penting sebagai langkah pencegahan agar infeksi tidak berkembang menjadi lebih serius.
TBC Aktif
Menurut Kemenkes (2019) dalam kajian yang diterbitkan di Jurnal Ilmiah Farmasi Terapan & Kesehatan Volume 2 No 3 September 2024, Tuberculosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini dapat menular antar manusia melalui udara ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Penularan TBC lebih umum terjadi di ruangan yang kurang cahaya dan ventilasi.
Meskipun sinar matahari dapat membunuh bakteri ini dengan cepat, Mycobacterium tuberculosis dapat bertahan lebih lama di tempat yang gelap. TBC aktif muncul ketika bakteri berkembang biak dalam tubuh dan menyebabkan gejala penyakit.
Gejala yang muncul dapat bervariasi tergantung pada organ yang terinfeksi, tetapi ada beberapa tanda umum yang sering terlihat pada TBC paru maupun TBC ekstra paru.
Dalam kajian yang dipublikasikan di Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 4, November 2022, dinyatakan bahwa TBC adalah penyakit menular yang dapat diobati dan disembuhkan. Pengobatan TBC aktif melibatkan penggunaan empat jenis obat antimikroba, dan jika TBC aktif tersebut sensitif terhadap obat, pengobatan dilakukan selama enam bulan.
Beberapa tanda-tanda yang umum muncul pada TBC aktif adalah:
1. Demam berkepanjangan, yang biasanya terjadi pada malam hari dan berlangsung lebih dari tiga minggu, menunjukkan adanya peradangan akibat infeksi.
2. Keringat malam berlebihan, di mana tubuh mengeluarkan keringat berlebih di malam hari sebagai respons terhadap infeksi, sering kali menyebabkan ketidaknyamanan saat tidur.
3. Penurunan berat badan drastis, di mana penderita mengalami penurunan berat badan yang signifikan tanpa disengaja, sering disertai dengan penurunan nafsu makan.
4. Kelelahan atau lemah berkepanjangan, di mana rasa lelah terus-menerus terjadi meski sudah cukup beristirahat, menunjukkan bahwa tubuh sedang berjuang melawan infeksi.
5. Menggigil atau panas dingin, di mana penderita dapat merasakan menggigil atau sensasi panas dingin yang muncul berulang.
6. Batuk terus-menerus lebih dari 3 minggu, di mana batuk yang tidak kunjung sembuh, baik kering maupun berdahak, menjadi tanda khas TBC aktif, dan dalam beberapa kasus, batuk bisa disertai darah atau dahak bercampur darah.
Menurut Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 4, November 2022, terdapat beberapa gejala umum yang dialami oleh pasien dengan TB paru aktif, seperti batuk, penurunan berat badan, nyeri di daerah dada, rasa lemas, keringat malam, dan demam.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penerapan tes diagnostik molekuler cepat sebagai langkah awal deteksi pada semua individu yang menunjukkan tanda-tanda dan gejala TB, karena tes ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan dapat meningkatkan deteksi dini terhadap TB serta TB yang resistan terhadap obat.
TB paru merupakan jenis tuberkulosis yang paling umum dan berbahaya, karena dapat menular melalui udara. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali tanda-tanda TB paru agar penanganan bisa dilakukan secepatnya.
Beberapa gejala spesifik yang harus diperhatikan adalah:
1. Batuk berkepanjangan, yaitu batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu, baik itu batuk kering maupun berdahak. Gejala ini merupakan indikasi penting yang perlu diwaspadai.
2. Batuk berdarah, di mana dahak yang dikeluarkan bercampur darah, menunjukkan adanya kerusakan pada pembuluh darah kecil di paru-paru akibat infeksi.
3. Nyeri dada, yang sering dialami oleh penderita, terutama saat batuk atau menarik napas dalam.
4. Sesak napas, yang disebabkan oleh peradangan pada jaringan paru-paru, mengakibatkan gangguan dalam fungsi pernapasan dan menyebabkan rasa sesak.
TBC Ekstra Paru
Mengacu pada buku Ilmu Kebidanan: Patologi dan Fisiologi Persalinan (2010) karya Arry Oxorn dan William R. Forte, penyakit tuberkulosis (TBC) dapat dialami oleh siapa saja, namun paling sering menyerang individu berusia antara 15 hingga 35 tahun.
Mereka yang paling rentan adalah yang memiliki kondisi tubuh lemah, kekurangan gizi, atau tinggal di lingkungan yang padat, seperti rumah kecil dengan banyak anggota keluarga, serta berada di tempat tinggal yang lembab dan minim ventilasi. Bakteri penyebab TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ-organ lain melalui aliran darah atau sistem limfatik.
Ketika infeksi terjadi di luar paru-paru, kondisi ini dikenal sebagai TBC ekstra paru, dengan gejala yang bervariasi tergantung pada lokasi infeksi. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda TBC ekstra paru agar penderita dapat segera menerima perawatan yang sesuai.
Gejala TBC ekstra paru dapat muncul berdasarkan organ yang terinfeksi.
1. Kelenjar getah bening: Terjadi pembengkakan yang terutama terlihat di area leher, dengan ciri-ciri keras dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada awalnya.
2. Ginjal: Ditandai dengan adanya darah dalam urin (hematuria) serta masalah saat buang air kecil.
3. Selaput otak (Meningitis TBC): Gejalanya meliputi sakit kepala yang hebat, kaku leher, kebingungan, muntah, dan bahkan kejang.
4. Tulang belakang (Spondilitis TBC): Ditandai dengan nyeri punggung kronis, kekakuan, dan risiko kelumpuhan jika tidak ditangani segera.
5. Sendi dan tulang: Menyebabkan nyeri, pembengkakan, serta keterbatasan gerak pada sendi yang terinfeksi.
6. Laring atau pita suara: Gejala yang muncul adalah suara serak yang berkepanjangan, kadang disertai rasa nyeri saat berbicara.
7. Usus: Menyebabkan sakit perut, diare kronis, atau gejala lain yang mirip dengan masalah pencernaan.