Apakah Anak Intoleransi Laktosa Bisa Tetap Tumbuh Tinggi? Ini Cara yang Bisa Dilakukan
Intoleransi laktosa bukan halangan bagi anak untuk tumbuh tinggi. Ketahui cara memastikan asupan kalsium dan vitamin D terpenuhi agar tumbuh kembang anak.
Intoleransi laktosa seringkali menjadi kekhawatiran bagi orang tua, terutama terkait tumbuh kembang anak. Banyak yang bertanya-tanya, apakah anak yang mengalami intoleransi laktosa tetap bisa tumbuh tinggi? Kondisi ini memang membuat tubuh kesulitan mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu dan produk olahannya. Namun, intoleransi laktosa bukanlah vonis yang menghalangi anak untuk mencapai tinggi badan optimal. Lantas, bagaimana solusinya agar anak tetap mendapatkan nutrisi penting meski tidak bisa minum susu sapi seperti anak lainnya?
Kekhawatiran akan terhambatnya pertumbuhan muncul karena susu merupakan sumber kalsium dan vitamin D yang penting untuk pertumbuhan tulang. Padahal, pertumbuhan anak akan terhambat hanya jika anak mengalami kekurangan nutrisi penting yang seharusnya didapatkan dari susu. Oleh karena itu, kunci utama agar anak dengan intoleransi laktosa tetap tumbuh optimal adalah dengan memastikan asupan nutrisi penting tetap terpenuhi. Lalu, bagaimana caranya?
Apa Itu Intoleransi Laktosa?
Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa, gula yang terdapat dalam susu dan produk susu. Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna menyebabkan gejala seperti kembung, diare, mual, kram perut, atau perut bergas, biasanya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk susu (Boston Children's Hospital).
Kondisi ini sangat umum di Asia, dengan lebih dari 90% orang Asia-Amerika mengalami intoleransi laktosa (MedlinePlus Genetics). Di Indonesia, sebuah studi oleh Syarif dan Widodo (2015) menemukan bahwa prevalensi malabsorpsi laktosa pada anak meningkat seiring usia: 21,3% pada anak usia 3-5 tahun, 57,8% pada usia 6-11 tahun, dan 73% pada usia 12-14 tahun. Gejala yang paling umum pada anak usia sekolah menengah adalah nyeri perut (64,1%), diikuti kembung, mual, dan diare.
Apakah Intoleransi Laktosa Menghambat Pertumbuhan?
Banyak orang tua di Indonesia percaya bahwa susu sapi adalah kunci untuk pertumbuhan tinggi badan anak, sebagaimana disampaikan oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana, pada 28 Mei 2025, di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan. Ia mengklaim anak-anaknya tumbuh hingga 181 cm dan 185 cm karena minum 2 liter susu per hari selama masa pertumbuhan. Namun, bagi anak dengan intoleransi laktosa, konsumsi susu dalam jumlah besar bisa menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan menghambat asupan nutrisi jika anak menghindari makanan sama sekali karena gejala.
Penelitian menunjukkan bahwa intoleransi laktosa tidak secara langsung menyebabkan gangguan pertumbuhan jika kebutuhan nutrisi terpenuhi. Sebuah studi oleh Setty-Shah, dikutip dalam Emedicine, menyatakan bahwa anak dengan intoleransi laktosa tidak berisiko mengalami perawakan pendek selama asupan kalsium dan vitamin D mereka cukup. Namun, jika anak menghindari semua produk susu tanpa pengganti yang memadai, defisiensi kalsium dapat terjadi, yang berpotensi memengaruhi perkembangan tulang dan tinggi badan. Dalam kasus yang jarang, seperti defisiensi laktase kongenital pada bayi, gangguan pertumbuhan bisa terjadi jika tidak ditangani dengan formula khusus (MedlinePlus Genetics).
Strategi Mendukung Pertumbuhan Anak dengan Intoleransi Laktosa
Untungnya, ada banyak cara untuk memastikan anak dengan intoleransi laktosa tetap mendapatkan nutrisi penting untuk pertumbuhan. Berikut adalah strategi yang dapat diterapkan:
1. Konsumsi Produk Susu Bebas Laktosa
Susu bebas laktosa dan produk susu rendah laktosa, seperti yogurt atau keju keras, mengandung kalsium dan vitamin D yang sama dengan susu biasa tanpa menyebabkan gejala intoleransi (HealthyChildren.org). Di Indonesia, susu bebas laktosa semakin mudah ditemukan di supermarket, meskipun harganya mungkin lebih tinggi. Produk ini memungkinkan anak menikmati manfaat susu tanpa risiko kembung atau diare.
2. Sumber Kalsium Alternatif
Jika anak tidak dapat mengonsumsi produk susu sama sekali, banyak makanan lain yang kaya kalsium dapat mendukung pertumbuhan tulang. Beberapa pilihan yang relevan di Indonesia meliputi:
Ikan bertulang lunak: Ikan teri dan sarden adalah sumber kalsium yang terjangkau dan mudah ditemukan di pasar lokal.
Sayuran hijau: Kangkung, bayam, dan kolplay kaya akan kalsium dan sering digunakan dalam masakan Indonesia.
Produk kedelai: Tahu dan tempe, makanan pokok di Indonesia, adalah sumber kalsium dan protein yang sangat baik.
Kacang-kacangan: Almond atau kacang kedelai yang diperkaya kalsium juga bisa menjadi pilihan (Children's Hospital of Philadelphia).
3. Suplemen Enzim Laktase
Suplemen enzim laktase, yang tersedia dalam bentuk tablet atau tetes, dapat membantu anak mencerna laktosa dalam produk susu. Suplemen ini diminum sebelum mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa, sehingga anak bisa menikmati susu atau es krim tanpa gejala (Nemours KidsHealth). Namun, penggunaan suplemen harus dilakukan di bawah pengawasan dokter untuk memastikan dosis yang tepat.
4. Konsultasi dengan Ahli Gizi
Setiap anak memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Dokter anak atau ahli gizi dapat membantu merancang pola makan yang memenuhi kebutuhan kalsium, vitamin D, dan zat besi tanpa memicu gejala intoleransi laktosa. Ini sangat penting di Indonesia, di mana stunting masih menjadi masalah, dengan prevalensi 24% pada anak di bawah 5 tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2022).
5. Gaya Hidup Sehat
Selain nutrisi, faktor lain seperti aktivitas fisik (misalnya lompat tali atau berenang) dan tidur yang cukup (terutama pada pukul 22.00-02.00 untuk mendukung hormon pertumbuhan) sangat penting untuk pertumbuhan tinggi badan. Kombinasi pola makan seimbang dan gaya hidup aktif dapat memaksimalkan potensi pertumbuhan anak.
Tips Mengatasi Gejala Intoleransi Laktosa pada Anak
Selain memastikan asupan nutrisi yang cukup, ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi gejala intoleransi laktosa pada anak. Berikan susu secara bertahap dan perhatikan reaksi tubuh anak. Beberapa anak mungkin bisa mentoleransi sedikit susu tanpa mengalami gejala yang berarti. Cobalah memberikan sedikit susu dan perhatikan apakah muncul gejala intoleransi. Jika tidak ada gejala, secara bertahap tingkatkan jumlah susu.
Konsumsi yoghurt dan keju dalam jumlah terbatas. Yoghurt dan keju umumnya lebih mudah dicerna oleh penderita intoleransi laktosa karena proses fermentasi mengurangi kadar laktosa. Namun, tetap perhatikan reaksi tubuh anak setelah mengonsumsinya. Pilih produk yoghurt dan keju yang rendah lemak dan tanpa tambahan gula.
Saat berbelanja, perhatikan label makanan dengan seksama. Banyak produk makanan olahan yang mengandung laktosa, seperti roti, kue, dan sereal. Hindari produk yang mengandung laktosa jika anak sangat sensitif terhadap laktosa. Dengan mengikuti tips ini, Anda dapat membantu mengurangi gejala intoleransi laktosa pada anak dan meningkatkan kualitas hidupnya.