7 Fakta Super Flu Virus alias Influenza Subclade K yang Sudah Masuk Indonesia
Dikenal sebagai super flu virus, subclade K atau subvarian influenza A H3N2 ini diklaim dapat menyebabkan wabah lebih cepat dan gejala yang lebih serius.
Virus super flu saat ini menjadi topik hangat perbincangan. Terlebih setelah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengumumkan bahwa 62 orang telah terinfeksi influenza subclade K, yang merupakan subvarian dari influenza tipe A H3N2. Masih banyak yang belum memahami tentang virus super flu atau influenza subclade K ini. Berikut adalah tujuh fakta penting yang perlu diketahui mengenainya:
1. Super Flu Virus Bukan Nama Medis Resmi
Istilah super flu virus sebenarnya bukanlah nama yang diakui dalam dunia medis. Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa istilah ini adalah sebutan yang diberikan oleh media dan masyarakat untuk merujuk pada influenza subclade K atau subvarian dari influenza A H3N2. Penyematan nama super flu virus disebabkan oleh fakta bahwa H3N2 cenderung lebih cepat menyebabkan wabah dibandingkan dengan virus influenza lainnya.
"Influenza di musim dingin, yakni di negara-negara belahan Bumi bagian utara terjadi di akhir Oktober. Biasanya musim dingin muncul wabah influenza. Namun ini (subclade K atau subvarian influenza A H3N2) sebulan sebelumnya sudah menyebabkan wabah," ungkap Dicky kepada Health Liputan6.com.
Selanjutnya, subclade K disebut sebagai super flu virus karena gejalanya lebih mencolok dan mengganggu lebih sedikit dibandingkan subvarian flu lainnya. Gejala ini sering muncul pada kelompok yang rentan, seperti lansia, individu dengan komorbid, dan anak-anak di bawah lima tahun.
"Flu lebih berat, batuk lebih lama, banyak dahak, serta nyeri saat menelan yang lebih terasa," tambah Dicky.
Belum Sepenuhnya Tepat jika Disebut Super Flu
Dicky menyatakan bahwa subclade K belum sepenuhnya layak disebut sebagai super flu virus. Di sisi lain, istilah flu biasa juga tidak tepat untuk menggambarkan kondisi ini.
"Meskipun belum sepenuhnya akurat disebut super flu karena bukan nama resmi, tetapi menyebutnya flu biasa juga tidak bisa untuk subclade K ini," ujarnya.
"Hal ini karena subclade K memang sedikit lebih serius, terutama bagi kelompok yang rentan, dan tentu saja ini bukan flu biasa," tambahnya.
3. Super Flu Virus Terdeteksi Pertengahan 2025
Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2025. Namun, ada juga ilmuwan yang menyebutkan bahwa penemuan subclade K terjadi pada bulan Juni 2025.
Hingga akhir tahun 2025, subclade K super flu virus telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Di wilayah Asia, subclade K telah terdeteksi di beberapa negara, seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand pada bulan Juli 2025.
"Berdasarkan penilaian dari WHO dan data epidemiologi yang ada, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan dalam tingkat keparahan," ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, dalam pernyataan tertulisnya.
Ada 62 Kasus Infeksi Virus Super Flu atau Subclade K di Indonesia
Pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang selesai dilakukan pada 25 Desember 2025 mengungkapkan bahwa subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang terdaftar di delapan provinsi.
"Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Sebagian besar kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak," ungkap Prima.
5. Vaksin Influenza Penting
Dicky menekankan pentingnya vaksin influenza. Vaksin ini tidak hanya dapat mencegah keparahan penyakit dan kematian, terutama di kalangan kelompok berisiko, tetapi juga berfungsi sebagai pelindung bagi kelompok rentan agar mereka tetap aman.
"Di tengah musim liburan dan musim hujan yang meningkatkan mobilitas masyarakat, vaksinasi menjadi sangat penting. Selain itu, penerapan protokol 5M juga harus diperhatikan untuk melindungi keluarga yang rentan, sehingga jika ada yang sakit, mereka bisa tetap dirawat di rumah," tambah Dicky.
6. Penerapan PHBS dilakukan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) perlu diterapkan dengan lebih disiplin. Hal ini termasuk mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan menjaga daya tahan tubuh.
7. Jika Flu Pakai Masker
Prima menganjurkan masyarakat untuk tetap di rumah jika mengalami gejala flu. Selain itu, penggunaan masker dan penerapan etika batuk juga sangat penting. Jika setelah tiga hari kondisi tidak menunjukkan perbaikan atau malah semakin memburuk, segera hubungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.