Asal Muasal Influenza Subclade K Disebut Super Flu, Begini Penjelasannya
Terdapat setidaknya tiga alasan yang menjadikan Influenza A (H3N2) Subclade K dikenal sebagai Super Flu Virus.
Istilah super flu virus kini sering digunakan untuk merujuk pada Influenza A (H3N2) Subclade K. Namun, sebutan ini sebenarnya bukanlah nama medis yang resmi. Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa istilah tersebut muncul dari pemberitaan media serta masyarakat di berbagai belahan dunia untuk menggambarkan subvarian influenza A (H3N2) Subclade K.
Subvarian ini memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan virus influenza lainnya.
Pertama, subvarian influenza A (H3N2) Subclade K cenderung menyebabkan wabah influenza muncul lebih awal di musim dingin. Di negara-negara belahan Bumi bagian utara, musim dingin biasanya dimulai pada akhir Oktober, dan wabah flu sering terjadi pada waktu tersebut.
Namun, subvarian ini menyebabkan wabah muncul sebelum musim dingin tiba, sekitar 3-4 minggu lebih awal. "Sekarang, sebelum musim dingin sudah menyebabkan wabah, itu akhirnya disebut super flu," ungkap Dicky dalam keterangan suara yang diterima Health Liputan6.com pada Jumat (2/1).
Alasan kedua mengapa virus ini disebut super flu adalah karena gejala yang muncul lebih jelas dan lebih sedikit mengganggu aktivitas. Hal ini terutama dirasakan oleh anak-anak di bawah lima tahun dan orang lanjut usia. "Flu lebih berat, batuk lebih lama, banyak dahak, dan nyeri saat menelan yang lebih terasa," lanjut Dicky menjelaskan.
Pasien Super Flu Butuh Pemulihan Lama
Influenza A (H3N2) Subclade K dikenal sebagai virus flu super karena dapat menyebabkan lebih banyak pasien dirawat di rumah sakit dan waktu pemulihan yang lebih lama.
"Rata-rata bisa 7 hari, bisa 7 sampai 14 hari. Itu kenapa disebut super flu virus," tutur Dicky.
Selain itu, Dicky menambahkan bahwa pada kelompok yang berisiko tinggi, seperti individu dengan komorbiditas tekanan darah tinggi dan hipertensi, orang dengan gangguan sistem imun, serta anak-anak di bawah usia 5 tahun, infeksi virus ini dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius.
Virus Influenza A (H3N2) Subclade K memang menjadi perhatian khusus karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Dengan tingkat rawat inap yang tinggi, penting bagi masyarakat untuk memahami risiko yang dihadapi, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
"Rata-rata bisa 7 hari, bisa 7 sampai 14 hari. Itu kenapa disebut super flu virus," jelas Dicky, menyoroti betapa seriusnya infeksi ini. Oleh karena itu, langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar kita dari risiko infeksi yang lebih parah.
Belum Tepat Disebut Super Flu
Dicky menyatakan bahwa subclade K belum sepenuhnya pantas disebut sebagai super flu virus. Di sisi lain, subclade ini juga tidak dapat dikategorikan sebagai flu biasa.
"Walaupun belum tepat banget disebut super flu karena bukan nama ilmiah atau nama resmi, tapi ya disebut sebagai flu biasa juga tidak bisa untuk subclade K ini."
"Karena, memang sedikit lebih serius khususnya pada kelompok rawan dan tentu ini bukan flu biasa," jelas pria yang meraih gelar PhD dari Griffith University Australia itu.
Jumlah Kasus Virus Flu Super di Indonesia Capai 62
Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat pada bulan Agustus 2025. Namun, beberapa ilmuwan juga mencatat penemuan subclade K ini pada bulan Juni 2025. Hingga akhir tahun 2025, subclade K dari virus super flu telah dilaporkan di lebih dari 80 negara di seluruh dunia.
Di wilayah Asia, subclade K telah ditemukan di beberapa negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand pada bulan Juli 2025.
"Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan," ungkap Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine dalam keterangan tertulisnya.
Ia menambahkan bahwa pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang selesai pada tanggal 25 Desember 2025 menunjukkan bahwa subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025. Pada akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia.
"Kasus terbanyak terdapat di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus yang dilaporkan terjadi pada perempuan dan anak-anak," jelas Prima lebih lanjut. Data ini menunjukkan pentingnya pemantauan dan penanganan terhadap virus influenza A(H3N2) subclade K untuk mencegah penyebaran lebih lanjut di masyarakat.