Mana Lebih Bahaya, Super Flu atau Varian Influeza? Begini Penjelasan Kemenkes
Influenza A H3N2 subclade K picu kenaikan kasus flu di AS dan Inggris, namun Kemenkes RI menegaskan tingkat keparahannya tidak lebih tinggi.
Dewasa ini marak penyebaran influenza subclade K alias super flu. Lonjakan kasus terjadi di beberapa negara bagian Amerika Serikat dan Inggris. Lantas mana lebih berbahaya antara super flu dengan varian influenza lainnya?
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), drg Widyawati, menyatakan bahwa influenza subclade K atau yang dikenal sebagai super flu tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan varian influenza lainnya.
"Menurut penilaian WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan situasi epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan jika dibandingkan dengan clade (varian) atau subclade (subvarian) lainnya," ungkap Widyawati dalam keterangan video yang diterima pada Kamis (1/1).
Sebelumnya, influenza A (H3N2) subclade K disebut-sebut sebagai penyebab lonjakan kasus flu di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
"Di Amerika Serikat, peningkatan kasus influenza A (H3N2) mulai terlihat sejak minggu ke-40 tahun 2025, yaitu pada bulan Oktober. Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan datangnya musim dingin, mirip dengan tahun-tahun sebelumnya," jelas Widyawati. Influenza A (H3N2) subclade K ini telah diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat pada Agustus 2025.
Hingga saat ini, A H3N2 subclade K telah dilaporkan di 81 negara, termasuk AS, dengan jumlah kasus yang tercatat di AS mencapai 1.127. Gejala yang umumnya muncul mirip dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Subklade K dapat Ditemukan di Indonesia
Di Indonesia, Widyawati telah mengonfirmasi adanya 62 kasus influenza subclade K yang terdeteksi di beberapa provinsi. "Hingga akhir Desember 2025, tercatat total 62 kasus (subclade K) di 8 provinsi, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat," ungkap Widyawati. Rincian temuan kasus influenza subclade K berdasarkan provinsi adalah sebagai berikut:
- Jawa Timur: 23 kasus
- Kalimantan Selatan: 18 kasus
- Jawa Barat: 10 kasus
- Sumatera Selatan: 5 kasus
- Sumatera Utara: 3 kasus
- Jawa Tengah: 1 kasus
- Sulawesi Utara: 1 kasus
- DI Yogyakarta: 1 kasus
Data ini diperoleh setelah melakukan Whole Genome Sequencing (WGS/sekuensing genom lengkap) yang selesai pada 25 Desember lalu. Diketahui bahwa subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 berdasarkan 88 laporan sentinel Influenza-Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection (ILI-SARI) yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Puskesmas, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), dan rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) dan Laboratorium Biologi Kesehatan (Lab Biokes).
Dari 62 kasus yang terdeteksi, mayoritas pasien adalah perempuan, yaitu sebanyak 64,5 persen atau 40 kasus. Berdasarkan kelompok usia, rincian kasus adalah sebagai berikut:
- Usia 1-10 tahun: 35,5 persen
- Usia 21-30 tahun: 21,0 persen
- Usia 11-20 tahun: 19,4 persen
- Di atas 60 tahun: 8,1 persen
Kasus Influenza di Indonesia Turun dalam 2 Bulan Terakhir
Hasil pemeriksaan terhadap 843 spesimen menunjukkan bahwa terdapat 348 sampel positif influenza yang telah dilakukan genome sequencing. Dari hasil tersebut, ditemukan beberapa temuan sebagai berikut:
- Sebanyak 152 spesimen atau 44 persen teridentifikasi sebagai tipe A/H1.
- Sebanyak 172 spesimen atau 49 persen terdeteksi sebagai tipe A/H3, di mana 62 di antaranya atau 36 persen adalah subclade K.
- Adapun sisanya, 24 spesimen atau 7 persen, termasuk dalam tipe B/Victoria.
Hal ini menunjukkan bahwa varian influenza A (H3) menjadi dominan di Indonesia. Meskipun demikian, tren kasus influenza di Indonesia mengalami penurunan dalam dua bulan terakhir.
Widyawati menyatakan, "Semua varian ini bersirkulasi global dalam sistem surveilans WHO." Ia menambahkan bahwa pemerintah terus melaksanakan surveilans dan pelaporan, serta menyiapkan kebijakan dan langkah-langkah yang sesuai dengan situasi terkini. Upaya ini bertujuan untuk memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga dan mengurangi penyebaran virus influenza di seluruh wilayah Indonesia.
Imbauan Kemenkes
Dalam kondisi seperti ini, Widyawati mengajak masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. "Cuci tangan, istirahat cukup, dan juga makan bergizi. Kemudian lakukan vaksinasi influenza tahunan terutama pada kelompok rentan yaitu lansia, ibu hamil, dan komorbid," ujarnya.
Dia menekankan bahwa vaksin influenza tetap berfungsi dengan baik untuk mencegah terjadinya sakit yang parah, rawat inap, dan bahkan kematian. "Jika merasa tidak sehat, tetaplah di rumah, banyak beristirahat, dan konsumsi obat antivirus untuk meredakan gejala.
Terapkan etika batuk dan kenakan masker. Segera kunjungi fasilitas layanan kesehatan jika gejala semakin parah setelah lebih dari tiga hari, demam tinggi tidak kunjung reda, sesak napas, dan lain sebagainya," tambah Widyawati.