Terungkap! Prabowo Subianto Warisi Pemikiran Ekonomi Campuran dari Begawan Sumitro Djojohadikusumo
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa arah pemikiran **ekonomi campuran**nya dibentuk oleh ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia. Simak selengkapnya!
Presiden Prabowo Subianto saat berbicara dalam sesi puncak Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta, mengungkap arah pemikiran ekonominya. Ia menyatakan bahwa pandangan tersebut turut dibentuk oleh pemikiran ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia. Sumitro dikenal luas sebagai seorang intelektual dan arsitek kebijakan ekonomi yang berpengaruh di Tanah Air.
Dalam sesi dialog bersama Pimpinan Utama Forbes, Steve Forbes, Presiden Prabowo menceritakan latar belakang pemikiran ekonomi keluarganya. Ia menjelaskan bagaimana pemikiran ekonomi kakeknya, Margono Djojohadikusumo, dan kemudian ayahnya, Sumitro, dibentuk oleh semangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Semangat ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan intelektual mereka.
Prabowo menyebut bahwa pada masa mudanya, Sumitro sempat menganut paham sosialis yang kuat. Namun, pandangannya kemudian berkembang menjadi pemikiran ekonomi yang lebih seimbang, yakni ekonomi campuran. Perubahan ini terjadi setelah Sumitro mendapatkan pengalaman dan interaksi global yang luas.
Pengaruh Sosialis di Masa Muda Sumitro Djojohadikusumo
Prabowo menceritakan bahwa ayahnya, Sumitro, menempuh pendidikan di Belanda dan berhasil meraih gelar sarjana ekonomi sekitar tahun 1940-an. Periode tersebut merupakan masa krusial bagi Indonesia yang tengah berjuang untuk meraih kemerdekaan. Kondisi politik global saat itu sangat memengaruhi pandangan para intelektual.
Pada era tersebut, sebagian besar pemimpin di negara-negara Asia dan Afrika, termasuk para elite, merupakan penganut paham sosialis. Hal ini dikarenakan Sosialisme, bahkan Marxisme dan Komunisme, dipandang sebagai gerakan yang menentang kolonialisme dan imperialisme. Paham-paham ini memberikan harapan bagi bangsa-bangsa terjajah.
"Ayah saya pun seorang Sosialis pada masa mudanya, dia memimpin Partai Sosialis Indonesia," kata Presiden Prabowo. Keterlibatan Sumitro dalam Partai Sosialis Indonesia menunjukkan komitmennya terhadap ideologi ini di awal karier politik dan intelektualnya. Pemikiran sosialis ini menjadi dasar awal pandangan ekonominya.
Pergeseran Pemikiran: Dari Sosialisme ke Ekonomi Campuran
Prabowo melanjutkan bahwa pemikiran ekonomi Sumitro, yang awalnya berkiblat pada Sosialisme, kemudian mengalami perkembangan signifikan. Perubahan ini terjadi saat ayahnya ditugaskan ke New York untuk berbicara mewakili Indonesia di Markas PBB, Amerika Serikat. Pengalaman internasional ini membuka wawasan baru bagi Sumitro.
Di Amerika Serikat, Sumitro bertemu dan menjalin persahabatan dengan banyak pemimpin. Ia juga berinteraksi dengan para pebisnis yang menganut paham Kapitalisme. Prabowo menyebut bahwa Kapitalisme yang dianut oleh para ekonom dan pebisnis di AS saat itu juga dimotori oleh semangat anti-imperialisme dan anti-kolonialisme. Ini menunjukkan adanya titik temu ideologis.
"Amerika saat itu ada di garda terdepan untuk memaksa negara-negara kolonialis untuk de-kolonisasi. Saya pikir, ayah saya itu, dan dia mendapat banyak bantuan dari banyak pemimpin-pemimpin usaha di AS," sambung Presiden Prabowo. Sumitro bahkan bersahabat dengan salah satu pebisnis besar di AS yang turut membantu perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka. Interaksi ini memperkaya perspektif Sumitro.
Prabowo Mengadopsi Konsep Ekonomi Campuran
Ketika Sumitro kembali ke tanah air, pemikirannya menjadi lebih seimbang. Meskipun arah pemikirannya tetap berkiblat pada Sosialisme, ia mulai memahami poin-poin penting dari Kapitalisme dan Pasar Bebas. Pengalaman global telah membentuk pandangan yang lebih komprehensif tentang sistem ekonomi.
Prabowo mengenang percakapannya dengan sang ayah di masa muda. "Saat itu, saya masih muda, saya bertanya kepada ayah saya: Apa sistem ekonomi terbaik menurutmu? Dia jawab: Sebenarnya, sistem ekonomi terbaik untuk kita, Indonesia, merupakan sistem ekonomi campuran, kita harus mengambil yang terbaik dari Sosialisme, dan yang terbaik dari Kapitalisme," ujar Presiden Prabowo. Nasihat ini menjadi landasan pemikiran ekonomi Prabowo.
Di hadapan sekitar 400 CEO lebih yang hadir dalam konferensi, Presiden Prabowo menyatakan dirinya sepakat dengan pemikiran ayahnya. Ia menegaskan bahwa memasuki Abad Ke-21, sulit untuk hanya berkiblat pada satu sistem ekonomi saja. Dunia yang kompleks membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif.
"Kita harus, menurut saya, kita harus mencari sistem terbaik yang bekerja untuk negara (kita masing-masing)," ujar Presiden Prabowo. Filosofi ekonomi campuran ini diharapkan dapat membawa Indonesia menuju kemajuan yang berkelanjutan, dengan memanfaatkan keunggulan dari berbagai sistem yang ada.
Forbes Global CEO Conference 2025: Wadah Diskusi Pemimpin Global
Presiden Prabowo berdialog dengan Steve Forbes dalam sesi puncak Forbes Global CEO Conference 2025 yang bertajuk "A Meeting of Minds". Acara ini merupakan forum penting bagi para pemimpin bisnis dan inovator dari seluruh dunia untuk berbagi pandangan.
Forbes Global CEO Conference pertama kali diselenggarakan oleh majalah Forbes pada tahun 2001 di Singapura. Sejak saat itu, konferensi ini rutin digelar di berbagai negara setiap tahunnya. Jakarta sendiri pernah menjadi tuan rumah acara serupa, yaitu Forbes CEO Global Forum pada tahun 2016, menunjukkan peran strategis Indonesia di kancah global.
Forbes Global CEO Conference 2025, yang berlangsung di Jakarta pada 14 hingga 15 Oktober, menghadirkan sejumlah CEO dan inovator terkemuka. Tokoh-tokoh penting yang hadir termasuk Menteri Investasi Rosan P. Roeslani, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, CIO Danantara Pandu Sjahrir, Direktur Utama DCI Indonesia Otto Toto Sugiri, Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani, Managing Director Tanoto Foundation Belinda Tanoto, Executive Director Salim Group Axton Salim, dan Co-CEO MNC Group Angela Tanoesoedibjo. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya diskusi ekonomi global.
Sumber: AntaraNews