Zulhas Dukung Gelar Pahlawan Untuk Soeharto dan Gus Dur
Kewenangan pemberian gelar pahlawan nasional ini berada di tangan Presiden sebagai kepala negara, sebagaimana diatur di UU Nomor 20 Tahun 2009.
Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan (Zulhas) setuju pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) oleh pemerintah dalam tahun ini.
Secara konstitusional, kewenangan pemberian gelar pahlawan nasional ini berada di tangan Presiden sebagai kepala negara, sebagaimana diatur di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
"Alasan PAN setuju, pertama, sebagai presiden tentu memiliki jasa, pengorbanan, sekaligus prestasi buat kemajuan bangsa dan negara. Menjadi pemimpin nasional tentu penuh dengan dinamika sejarah dan perspektif penilaian," kata Zulhas dalam keterangannya sebagaimana dikutip Senin (10/11).
Soeharto dan Gus Dur Punya Rekam Jejak Sendiri Sebagai Presiden
Sebagai manusia, menurut Zulhas, mantan Presiden Soeharto dan Presiden Gus Dur tentu tidak ada yang sempurna. Ada perspektif kebaikan dan kekurangan.
"Hal itu wajar saja. Tetapi sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, setiap presiden akan menjalani fase sejarah dan narasi perjuangan tersendiri yang ditorehkan dalam setiap perjalanan bangsa, dari generasi ke generasi selanjutnya," kata Zulhas.
Pemberian Gelar Simbol Legitimasi Nasional
Kedua, Zulhas melanjutkan, pemberian gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto dan Presiden Gus Dur bukan hanya persoalan administratif, tetapi juga sebagai simbol legitimasi nasional, pengakuan kolektif bangsa, dan konstruksi sejarah, sebagai akumulasi dari tindaklanjut aspirasi dan partisipasi masyarakat, berupa pengusulan dari daerah dan organisasi, maupun sebagai simbolisme sejarah, berupa peneguhan nilai perjuangan dan keteladanan sebagai pemimpin nasional.
"Pemberian gelar pahlawan kepada presiden adalah bagian dari menciptakan budaya bangsa yang baik dalam memberikan nilai perjuangan, Nasionalisme Indonesia, keteladanan, dan optimism," kata Zulhas.