Wali Kota Mataram Tekankan Kerukunan Beragama dan Penguasaan AI di Era Digital
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menyerukan penguatan kerukunan beragama serta penguasaan AI di era digital untuk membangun bangsa yang maju, damai, dan berkeadaban.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menyoroti urgensi penguatan kerukunan umat beragama dan penguasaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia Tahun 2026. Acara penting ini berlangsung di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, pada Sabtu, 4 Januari. Penekanan ini bertujuan untuk memastikan kemajemukan Indonesia menjadi kekuatan kolaboratif yang produktif.
Dalam kesempatan tersebut, Mohan Roliskana menegaskan bahwa kerukunan tidak hanya berarti ketiadaan konflik, melainkan harus diwujudkan sebagai sinergi yang mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan bangsa. Kemenag hadir sebagai garda terdepan untuk memastikan keberagaman identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial menjadi fondasi kokoh republik ini. Ini adalah langkah strategis dalam menghadapi tantangan era modern.
Peringatan HAB ke-80 Kemenag RI di Mataram juga menjadi momentum untuk meninjau capaian strategis Kemenag sepanjang tahun 2025 melalui program "Kemenag Berdampak". Program ini berupaya mentransformasi layanan keagamaan agar kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga tingkat akar rumput, sekaligus mendorong ASN Kemenag menjadi produsen nilai di tengah perkembangan AI.
Membangun Sinergi Produktif Melalui Kerukunan Beragama
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, secara tegas menyatakan bahwa kerukunan umat beragama merupakan fondasi penting bagi kemajuan bangsa. Ia menekankan bahwa kerukunan harus dimaknai lebih dari sekadar tidak adanya konflik, melainkan diwujudkan dalam bentuk sinergi produktif. Sinergi ini diharapkan mampu mengubah perbedaan identitas dan keyakinan menjadi kekuatan pendorong.
Kementerian Agama memiliki peran krusial dalam memastikan kemajemukan Indonesia menjadi energi kolaboratif. Keberagaman latar belakang sosial dan keyakinan adalah kekayaan yang harus dijaga dan dikembangkan. Dengan demikian, Kemenag berupaya menciptakan lingkungan yang harmonis dan inklusif bagi seluruh elemen masyarakat.
Program "Kemenag Berdampak" yang diluncurkan sepanjang tahun 2025 menjadi bukti nyata komitmen ini. Program tersebut mencakup penguatan harmoni sosial melalui Program Desa Sadar Kerukunan. Inisiatif ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan kerja sama di tingkat komunitas.
Tantangan dan Peluang Penguasaan AI bagi ASN Kemenag
Di tengah era kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat, Wali Kota Mohan Roliskana menekankan pentingnya kedaulatan Kementerian Agama dalam menghadapi teknologi ini. Ia mengingatkan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag harus mampu tampil sebagai produsen nilai, bukan sekadar konsumen teknologi. Ini berarti ASN harus aktif dalam menciptakan konten yang relevan dan bermanfaat.
Mohan Roliskana juga menyoroti kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, yang dikenal sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Dalam konteks ini, ASN Kementerian Agama dituntut untuk mewarnai AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, moderat, dan mencerahkan. Konten semacam ini sangat penting untuk membimbing masyarakat di tengah arus informasi digital yang masif.
Transformasi digital layanan keagamaan menjadi lebih transparan dan cepat merupakan salah satu capaian strategis Kemenag. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memastikan aksesibilitas layanan bagi umat. Penguatan kemandirian ekonomi umat melalui optimalisasi dana sosial keagamaan juga menjadi bagian dari upaya adaptasi teknologi.
Apresiasi dan Capaian Kemenag NTB dalam Harmoni dan Digitalisasi
Pada puncak peringatan HAB ke-80, Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag NTB memberikan penghargaan kepada 11 tokoh dan lembaga yang dinilai konsisten mengimplementasikan nilai-nilai Asta Protas Kemenag. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi nyata mereka. Kontribusi tersebut meliputi penguatan kerukunan umat beragama dan peningkatan kualitas layanan publik.
Kepala Kanwil Kemenag NTB, Zamroni Aziz, menjelaskan bahwa penghargaan juga diberikan atas pengembangan pendidikan keagamaan dan inovasi digitalisasi layanan. Berbagai capaian strategis telah diraih berkat kolaborasi banyak pihak. Contohnya adalah terpilihnya Kota Mataram sebagai Kota Wakaf Tahun 2025 dan penguatan Desa Sadar Kerukunan.
Beberapa penerima penghargaan penting termasuk Haji Hamdun dan Haji Muchtar atas kontribusi mereka mewujudkan Kota Mataram sebagai Kota Wakaf 2025. Selain itu, Desa Labuhan Badas (Sumbawa) dan Desa Bentek (Lombok Utara) diakui sebagai Desa Sadar Kerukunan 2025. Tokoh lintas agama dan pendidik juga turut diapresiasi atas peran aktif mereka dalam membangun layanan keagamaan yang inklusif dan berkeadilan di NTB.
Sumber: AntaraNews