Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan memfokuskan program-programnya pada penguatan kerukunan umat beragama serta pengembangan madrasah di tahun 2026. Prioritas ini ditetapkan setelah Kemenag Kepri tidak lagi mengurusi secara langsung bidang haji dan umrah, memungkinkan fokus lebih besar pada sektor-sektor krusial lainnya. Langkah strategis ini bertujuan untuk memastikan stabilitas sosial dan peningkatan kualitas pendidikan keagamaan di wilayah tersebut.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Kepri, Zoztafia, menjelaskan bahwa penguatan kerukunan antarumat beragama menjadi sangat vital. Menurutnya, kerukunan adalah fondasi utama bagi keberhasilan program-program pembangunan daerah. Tanpa kerukunan yang kokoh, upaya pembangunan di berbagai sektor dapat terhambat dan tidak berjalan optimal.
Fokus Kemenag Kepri di tahun 2026 ini juga mencakup evaluasi dan peningkatan pelayanan internal, khususnya di bidang pendidikan madrasah. Upaya ini akan melibatkan perbaikan manajemen madrasah, serta pembinaan berkelanjutan bagi guru dan siswa. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan berkualitas bagi generasi muda di Kepri.
Advertisement
Advertisement
Provinsi Kepulauan Riau dikenal sebagai daerah yang majemuk, dihuni oleh berbagai suku, agama, dan ras yang hidup berdampingan secara harmonis. Keberagaman ini tersebar di tujuh kabupaten/kota, menciptakan lanskap sosial yang kaya dan dinamis. Zoztafia menegaskan bahwa di tengah keberagaman tersebut, tingkat kerukunan beragama di Kepri secara konsisten tetap tinggi, bahkan selalu berada di posisi tiga besar nasional.
Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kepri pada tahun 2024 menempati peringkat kedua nasional dengan skor 76,47, menunjukkan peningkatan dari skor 76,02 pada tahun 2023. Capaian ini menjadi bukti nyata tingginya toleransi dan harmoni yang kuat di tengah masyarakat Kepri. Zoztafia juga mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, tidak ada kasus atau gesekan antarumat beragama yang signifikan di wilayah tersebut.
Tingginya kerukunan ini tidak lepas dari peran aktif berbagai pihak. Pemerintah daerah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, dan tokoh masyarakat telah bekerja sama secara erat. Faktor keamanan yang terjaga dan budaya Melayu yang kental juga turut berkontribusi dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi warga yang tinggal di Bumi Segantang Lada. Zoztafia mengakui adanya debat-debat kecil, namun hal tersebut tidak pernah sampai menimbulkan perselisihan apalagi perpecahan.
Advertisement
Advertisement
Selain kerukunan, Kemenag Kepri juga berkomitmen untuk memperkuat pendidikan agama dan keagamaan bagi seluruh umat beragama. Program ini tidak hanya berfokus pada Islam, tetapi juga mencakup Kristen, Hindu, dan Buddha. Kemenag Kepri memastikan bahwa setiap anak, termasuk dari keluarga minoritas, berhak memperoleh akses pendidikan agama secara penuh.
Akses pendidikan agama ini dapat diperoleh melalui berbagai jalur, baik melalui satuan pendidikan formal, bimbingan dari tokoh agama, maupun peran serta orang tua di rumah. Dengan perkembangan teknologi saat ini, anak-anak bahkan dapat belajar agama melalui platform digital seperti Zoom, membuka peluang baru dalam pembelajaran. Inisiatif ini menunjukkan inklusivitas Kemenag Kepri dalam memenuhi kebutuhan pendidikan agama bagi semua lapisan masyarakat.
Advertisement
Kemenag Kepri juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait pelayanan internal yang menyentuh langsung masyarakat, terutama di bidang pendidikan madrasah. Fokus utamanya adalah meningkatkan pengelolaan manajemen madrasah secara lebih baik, khususnya dalam pembinaan guru dan siswa. Hal ini penting untuk memastikan bahwa madrasah dapat memberikan pendidikan yang berkualitas dan relevan.
Pada tahun 2025, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah melakukan perbaikan signifikan pada bangunan fisik banyak madrasah di Kepri. Perbaikan infrastruktur ini diharapkan dapat menjadi penunjang optimal bagi proses belajar mengajar. Zoztafia menekankan pentingnya bagi madrasah negeri maupun swasta untuk meningkatkan kualitas pengelolaan, terutama dalam upaya meningkatkan prestasi siswa.
Meskipun madrasah menawarkan kurikulum yang lengkap, termasuk semua mata pelajaran umum dan agama, tantangan masih ada. Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya tenaga pendidik atau guru, terutama di pulau-pulau terluar di Kepri. Seringkali, ada mata pelajaran yang tidak memiliki guru karena sulitnya menarik pendidik dari luar daerah untuk bertugas di lokasi tersebut.
Advertisement
Menanggapi hal ini, Zoztafia berharap adanya kebijakan nasional yang memprioritaskan penerimaan guru madrasah dari warga sekitar pulau-pulau tersebut. Kebijakan semacam ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan guru secara maksimal dan memastikan keberlangsungan pendidikan berkualitas di seluruh wilayah Kepri, termasuk daerah terpencil.
Sumber: AntaraNews