Viral Sopir Bus Cegat dan Maki Polisi di Tol Cikampek, Begini Duduk Perkaranya
Dalam video yang beredar luas, tampak anggota PJR berada di jalur kanan ketika rombongan bus hendak mendahului.
Sebuah insiden tak terduga terjadi di ruas Tol Jakarta-Cikampek KM 40 dan viral di media sosial. Seorang anggota Patroli Jalan Raya (PJR) Polri diduga menjadi sasaran makian sejumlah sopir dan penumpang bus hanya karena menghalangi jalur kanan.
Dalam video yang beredar luas, tampak anggota PJR berada di jalur kanan ketika rombongan bus hendak mendahului. Salah satu bus yang merasa terhalang nekat memotong dan menghentikan mobil patroli. Sang sopir turun, meluapkan amarah, bahkan menuduh anggota polisi dalam kondisi mabuk.
Tak hanya itu, beberapa penumpang turut turun dan ikut memaki aparat. Aksi tersebut sempat memicu ketegangan di jalan tol yang kala itu sebenarnya dalam kondisi lancar.
Kronologi Keributan
Wakil Direktur Lalu Lintas (Wadirlantas) Polda Metro Jaya, AKBP Argo Wiyono membenarkan peristiwa tersebut. Dia menjelaskan, ketegangan terjadi berawal dari anggota PJR melihat rombongan kendaraan bus hendak menuju Yogyakarta kerap melaju di jalur paling kanan.
"Pada saat sudah diberikan imbauan dengan menggunakan 'public address' agar berpindah lajur yang di tempat yang jalur semestinya tidak digubris. Bus ini malah menambah kecepatan," jelas Argo saat dikonfirmasi, Minggu (6/7).
Sang petugas lantas melaju menyusul rombongan bus paling depan sambil mengisyaratkan agar berpindah jalur ke tengah. Saat itu, kondisi lalu lintas lancar tanpa hambatan
"Mereka sebetulnya tidak harus berada di tengah, kan kendaraan-kendaraan kecil enggak bisa mendahului, karena di sebelah kanan sudah tertutup kendaraan bus," ucap Argo.
Tak terima dengan upaya petugas, sopir bus mencegat dan menghentikan paksa kendaraan PJR. Sopir bus itu langsung turun dan memaki anggota kepolisian diikuti para penumpang bus lainnya ikut memaki.
Beruntung kejadian itu tidak sampai memicu keributan besar. Keterangan mereda setelah anggota kepolisian memberikan penjelasan.
"Setelah diberikan himbauan secara humanis, edukasi, dan dilakukan teguran akhirnya mereka memahami dan melanjutkan kembali," pungkas Argo.